Indonesiandaily.com – Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang mengenalkan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kepada masyarakat. Kali ini kepada warga RW 13 Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Ini sebagai upaya untuk membangun kemandirian energi, menuju kampung iklim berdaya dan berkelanjutan.
Tim edukasi ITN Malang dipimpin Ketua Prodi Teknik Elektro S-1, Dr. Irmalia Suryani Faradisa, ST., MT., didampingi pakar energi terbarukan Dr. Ir. Widodo Pudji Muljanto, MT., serta sejumlah mahasiswa.
Kegiatan yang berlangsung di Balai RW 13 Madyopuro itu menjadi bagian dari pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Melalui program ini, dosen dan mahasiswa membagikan pengetahuan serta keterampilan terkait energi terbarukan yang dapat diterapkan langsung oleh warga.
“Kami punya kewajiban tridarma perguruan tinggi, salah satunya pengabdian kepada masyarakat. Kebetulan Prodi Teknik Elektro mendapat kesempatan dari RW 13 Madyopuro untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini sekaligus menjadi wadah abdimas bagi dosen-dosen kami,” kata Irmalia, Senin (29/6/2026).
Ia berharap ilmu yang dibagikan dapat dimanfaatkan warga untuk mendukung kemandirian energi dan pembangunan lingkungan yang berkelanjutan.
Didukung Program FOLU Net Sink 2030
Pelaksanaan kegiatan ini didukung melalui Small Grant Program FOLU Net Sink 2030. Program tersebut merupakan dana stimulan lingkungan yang dikelola Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dengan dukungan Pemerintah Norwegia.
Pendanaan itu dirancang untuk memperkuat inovasi hijau di tingkat komunitas sekaligus mendukung pembangunan rendah karbon. Salah satu fokusnya adalah penguatan Kampung Iklim melalui pemanfaatan energi baru terbarukan, termasuk teknologi PLTS.
Dalam pelatihan, warga mendapat pemahaman mengenai perubahan iklim, konsep energi bersih, serta peran PLTS sebagai solusi pengurangan emisi karbon di lingkungan permukiman.
Belajar Langsung Teknologi PLTS
Peserta tidak hanya menerima materi teori. Tim ITN Malang juga mengajak warga memahami cara kerja panel surya, mengenali komponen sistem PLTS, hingga menghitung kebutuhan energi rumah tangga dan fasilitas umum.

Widodo menjelaskan bahwa RW 13 selama ini telah aktif menjalankan berbagai program lingkungan. Karena itu, edukasi mengenai energi hijau dinilai menjadi langkah lanjutan yang relevan.
“Di sini kami memberikan pembekalan dan pemahaman kepada masyarakat mengenai pemanfaatan PLTS sebagai sumber energi hijau. Kami juga membagikan modul panduan agar warga dapat belajar secara mandiri di rumah,” ujarnya.
Mahasiswa Dampingi Simulasi Instalasi
Sesi praktik menjadi bagian yang paling menarik perhatian peserta. ITN Malang menerjunkan empat mahasiswa semester akhir sebagai fasilitator lapangan.
Mereka membawa modul praktik sistem PLTS on-grid dan off-grid untuk mendukung simulasi langsung. Warga diajak mengenali komponen, merancang instalasi sederhana, hingga menghitung kebutuhan daya listrik.
“Warga sangat tertarik dan antusiasmenya tinggi sekali. Mahasiswa membawa modul praktik sehingga peserta bisa melihat langsung bentuk dan cara kerja sistem PLTS. Setelah materi teori, mahasiswa mendampingi simulasi instalasi secara teknis,” kata Widodo.
Menurutnya, tingginya antusiasme warga membuka peluang kerja sama lanjutan antara RW 13 Madyopuro dan ITN Malang.
Menuju Kampung Iklim Berkelanjutan
Kegiatan ini juga dihadiri perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, Camat Kedungkandang, karang taruna, kader lingkungan, serta perwakilan Kampung ProKlim dari berbagai wilayah.
Ketua RW 13 Madyopuro, Mochamat Sutanto, menilai bantuan small grant yang diterima menjadi pemicu lahirnya berbagai inovasi lingkungan berbasis masyarakat.
Ia berharap program ini dapat memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas lingkungan sekaligus kesejahteraan warga. Bahkan, masyarakat juga menunjukkan minat besar untuk belajar langsung ke instalasi PLTS di Kampus 2 ITN Malang apabila tersedia program lanjutan.
Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, RW 13 Madyopuro kini memiliki fondasi yang lebih kuat untuk mengembangkan energi terbarukan sekaligus mewujudkan kampung iklim yang mandiri, berdaya, dan berkelanjutan.
