Indonesiandaily.com – Universitas Widya Gama (UWG) Malang kembali memperkuat kualitas akademiknya dengan mengukuhkan dua guru besar dari disiplin ilmu yang berbeda. Pengukuhan yang berlangsung pada Rabu (22/7/2026) menjadi momentum penting bagi kampus dalam menghadirkan inovasi keilmuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.
Dua profesor yang dikukuhkan menghadirkan gagasan strategis di bidang akuntansi dan pertanian. Prof. Dr. Ana Sopanah S., S.E., M.Si., Ak., CA., CMA. memperkenalkan konsep akuntansi berbasis kearifan lokal, sedangkan Prof. Dr. Ir. Ririen Prihandarini, M.S. menawarkan inovasi bioindustri berbasis mikroorganisme untuk mendukung pertanian ramah lingkungan.
Rektor UWG Malang, Dr. Anwar, S.H., M.Hum., mengatakan pengukuhan dua guru besar tersebut merupakan bagian dari komitmen kampus dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat kapasitas riset dan inovasi.
Menurutnya, sepanjang periode 2024–2026, UWG Malang berhasil mencatat berbagai capaian akademik. Di antaranya penambahan empat dosen bergelar doktor, 21 kenaikan jabatan akademik dosen, enam dosen memperoleh sertifikasi sebagai Dosen Profesional, serta pengangkatan enam Guru Besar (Profesor) Emeritus.
“Hal tersebut merupakan bentuk penguatan kepakaran, pembinaan akademik, dan keberlanjutan pengembangan institusi,” ujar Dr. Anwar.
Ia berharap bertambahnya dua guru besar baru mampu meningkatkan kontribusi UWG Malang dalam menghasilkan riset yang berdampak langsung bagi masyarakat, baik melalui pengembangan tata kelola berbasis budaya maupun inovasi teknologi pertanian berkelanjutan.
Akuntansi Berbasis Kearifan Lokal
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Akuntansi Kearifan Lokal: Dari Nilai Budaya Menuju Akuntabilitas dan Keberlanjutan Organisasi”, Prof. Ana Sopanah memperkenalkan pendekatan baru dalam pengembangan ilmu akuntansi.
Ia menjelaskan bahwa akuntansi tidak hanya berkaitan dengan laporan keuangan perusahaan. Nilai budaya dan kehidupan sosial masyarakat juga menjadi bagian penting dalam praktik pengelolaan sumber daya dan pertanggungjawaban keuangan.
“Saya ingin membangun akuntansi bukan sekadar angka, tetapi ada nilai budaya dan sosial yang kemudian memengaruhi ketika masyarakat berinteraksi maupun mengelola anggaran dalam kehidupan sehari-hari. Karena pada hakikatnya, semua kehidupan kita ada akuntansinya,” jelasnya.
Melalui berbagai penelitian pada komunitas lokal, konsep tersebut menunjukkan bahwa praktik akuntansi telah hidup dalam budaya masyarakat, meski belum banyak dikaji dalam perspektif akademik.
Mikroorganisme Jadi Solusi Pertanian Ramah Lingkungan
Sementara itu, Prof. Ririen Prihandarini menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Revolusi Bioindustri: Inovasi Kunci Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan dan Pemulihan Lingkungan”.
Ia mengajak dunia pertanian mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia dengan memanfaatkan mikroorganisme alami yang mampu menjaga kesuburan tanah sekaligus memulihkan keseimbangan lingkungan.
“Sebetulnya Allah Subhana Wat Ta’ala sudah menurunkan makhluk-Nya untuk bekerja di alam ini. Tetapi selama ini kurang diperhatikan karena kita lebih percaya menggunakan bahan-bahan kimia. Padahal itulah yang menyebabkan kerusakan di alam. Saya ingin semuanya kembali dari alam untuk alam,” ungkapnya.
Meski demikian, Prof. Ririen mengakui penerapan pertanian organik berbasis mikroorganisme masih menghadapi berbagai tantangan. Selain membutuhkan proses yang lebih panjang, produksi mikroorganisme dalam skala industri juga masih terbatas.
“Menjadi organik itu tidak gampang. Butuh tenaga karena harus diupayakan sendiri oleh petani,” katanya.
Ia optimistis Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat pengembangan bioindustri dunia karena memiliki kekayaan mikroorganisme yang sangat melimpah.
“Indonesia sangat kaya mikroorganisme, bahkan termasuk yang terkaya di dunia karena berada di pertemuan dua rangkaian gunung berapi dan dua samudera besar. Kondisi itu sangat strategis bagi kehidupan mikroorganisme,” pungkasnya.
