Indonesiandaily.com – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) terus memperkuat upaya pelestarian budaya melalui teknologi digital. Memasuki tahun kedua pengembangannya, Brawijaya Corpora Project (BCP) diproyeksikan menjadi korpus budaya multimodal yang mampu mengintegrasikan data bahasa, budaya, foto, audio, video hingga model tiga dimensi (3D).
Penguatan tersebut dibahas dalam Workshop Pengembangan Brawijaya Corpora Project (BCP) Menuju Korpus Budaya Multimodal yang digelar pada Jumat (17/7/2026). Program ini menjadi langkah strategis FIB UB untuk menghadirkan infrastruktur digital yang mendukung penelitian sekaligus pelestarian budaya Jawa Timur.
Project Leader BCP, Wahyu Widodo, menjelaskan bahwa tahun kedua menjadi fase penting untuk memperkuat fondasi sistem setelah dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program pada tahun pertama.
“Pada tahun kedua ini kami fokus menata fundamental agar sistem yang dibangun semakin stabil dan memiliki prosedur kerja yang jelas untuk pengembangan berikutnya,” ujarnya.
Selama tahap awal, BCP telah mendokumentasikan subkultur Tengger dan seni pertunjukan Reog melalui platform digital yang memuat glosarium budaya, dokumentasi foto, video, model 3D, serta sistem informasi budaya yang dapat diakses secara interaktif.
Berbeda dengan korpus bahasa pada umumnya, BCP mengembangkan konsep korpus budaya multimodal. Setiap data budaya tidak hanya disajikan dalam bentuk teks, tetapi juga dilengkapi dokumentasi visual, audio, video, hingga model tiga dimensi sehingga pengguna dapat memahami budaya secara lebih utuh.
Workshop juga menghadirkan Syarifuddin dari Museum Panji Malang yang membahas standar dokumentasi dan digitalisasi warisan budaya. Sementara keynote speaker Miguel Escobar Varela dari National University of Singapore (NUS) memaparkan praktik pengembangan korpus budaya digital berstandar internasional.
Dekan FIB UB, Sahiruddin, mengatakan pengembangan BCP merupakan bagian dari komitmen fakultas untuk membawa kekayaan budaya Indonesia ke panggung global melalui program Globalizing UB.
“Melalui sistem yang dibangun dalam Brawijaya Corpora Project, berbagai produk budaya dapat dihimpun dan dipelajari masyarakat. Harapannya, BCP menjadi salah satu rujukan untuk mempelajari budaya Indonesia,” katanya.
Pada tahun kedua, cakupan BCP juga diperluas dengan mendokumentasikan arsitektur Nusantara melalui rumah tradisional Srotong di Bojonegoro. Dokumentasi meliputi kajian arsitektur, foto, video, deskripsi budaya, hingga model 3D.
Melalui penguatan fondasi tersebut, FIB UB menargetkan BCP berkembang menjadi pusat dokumentasi budaya digital yang mendukung penelitian, pendidikan, serta pelestarian budaya Indonesia. Ke depan, platform ini diharapkan menjadi rujukan nasional hingga internasional dalam pengembangan korpus budaya berbasis teknologi digital.
