Indonesiandaily.com – Seni rupa di Kota Batu tidak hanya hadir untuk dipandang. Ia menjadi cara untuk membaca kembali cerita, kebiasaan, ingatan, hingga persoalan lingkungan yang hidup di tengah masyarakat.
Gagasan itu diusung Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) melalui Tim Warga Rupa bersama komunitas Pemuda Bundle Kota Batu dalam pameran “Panen Tiga Jalan: Temuan, Ramuan, Jamuan”.
Pameran dibuka Sabtu (12/9/2026) di Villa Oemah Biru, Jalan Terusan Bejo, Sisir, Kota Batu, dan berlangsung hingga 24 September 2026.
Bukan sekadar memajang karya, pameran ini mengajak publik melihat bagaimana pengetahuan lokal dikumpulkan, diolah melalui praktik seni, lalu dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk pengalaman dan percakapan baru.
Ketua Pelaksana PISN 2026 Tim Warga Rupa, Mayang Anggrian, mengatakan kolaborasi tersebut berangkat dari perhatian yang sama terhadap persoalan lingkungan di Kota Batu.
“Kami melihat folklor bisa menjadi pintu masuk untuk memperkuat advokasi lingkungan melalui seni,” kata Mayang.
Folklor dalam proyek ini tidak diperlakukan sebatas cerita rakyat atau mitos masa lalu. Pengetahuan lokal dibaca lebih luas, mulai dari ritual, pantangan, bahasa, permainan, praktik pertanian, tata ruang, hingga cara warga berhubungan dengan alam.
Kota Batu menjadi ruang penting dalam proses tersebut. Perkembangan pariwisata, pertanian, urbanisasi, serta perubahan lanskap sosial dan ekologis membuat pengetahuan lokal terus bernegosiasi dengan perubahan zaman.
Di sinilah masyarakat tidak ditempatkan sebagai objek penelitian. Warga justru menjadi pemilik sekaligus penghasil pengetahuan yang menjadi bahan utama penciptaan karya.
Konsep tersebut diterjemahkan melalui tiga tahapan: Temuan, Ramuan, dan Jamuan.
Temuan menjadi tahap pencarian pengetahuan melalui cerita, ingatan, ritual, simbol, lanskap, dan pengalaman warga. Pengetahuan itu kemudian diramu bersama pengalaman seniman, riset, medium, teknologi, eksperimen, serta kerja kolektif.
Tahap terakhir adalah Jamuan. Hasil proses tersebut dikembalikan kepada masyarakat melalui pameran. Pengunjung tidak diarahkan menerima satu tafsir, tetapi diberi ruang untuk mengalami, mempertanyakan, dan membangun pemaknaannya sendiri.
Sebanyak tujuh karya partisipatoris dipamerkan. Enam karya dibuat kelompok Pemuda Bundle, sementara satu karya diproduksi kelompok mahasiswa seni rupa FIB UB.
Dikuratori Anggun Setiawan, ketujuh karya ditempatkan dalam tujuh ruang dengan tema yang beragam. Mulai hubungan manusia dengan alam, batas teritori, fenomena gaib, tabu dan kontrol sosial, hingga ingatan, sejarah, dan bahasa.
Proses penciptaannya menggunakan pendekatan practice-based research, yang menjadikan observasi, percakapan, eksperimen, penciptaan karya, hingga refleksi sebagai bagian dari proses penelitian.
Tak berhenti pada karya, Tim Warga Rupa juga memperkuat kapasitas Pemuda Bundle melalui workshop riset berbasis praktik, tata kelola web, serta pengembangan Living Archive.
Arsip hidup tersebut memuat tiga lapisan pengetahuan, yakni Street Art & Mural, Folklor & Situs, serta Ekologi Ruang Publik. Warga juga dilibatkan melalui pengisian kuesioner folklor yang menjadi bagian dari proses dokumentasi.
Pilihan lokasi pameran di Villa Oemah Biru pun bukan kebetulan. Ruang yang berada di tengah permukiman warga itu dipilih agar seni tidak berjarak dengan masyarakat dan tidak hanya hidup di ruang galeri formal.
Rangkaian kegiatan bahkan diawali Aktivasi Umbul Selametan yang melibatkan warga sebagai bagian dari pra-acara.
Bagi Mayang, “Panen Tiga Jalan” pada akhirnya bukan sekadar tentang tujuh karya seni.
“Pameran ini menjadi ruang literasi visual sekaligus advokasi lingkungan yang lahir dari, oleh, dan untuk warga Kota Batu,” ujarnya.
Pameran ini memperlihatkan bahwa ketika kampus, seniman muda, dan masyarakat bekerja bersama, riset tidak harus berakhir sebagai dokumen akademik. Ia bisa menjelma karya, arsip, percakapan, sekaligus cara baru membaca persoalan lingkungan di sekitar.
“Kami berharap ‘Panen Tiga Jalan’ menjadi ruang belajar bersama dan mendorong lebih banyak kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas seni akar rumput,” kata Mayang.



