Indonesiandaily.com – Politeknik Unisma (Polisma) hadir sebagai solusi kebutuhan industri akan tenaga kerja terampil. Direktur Polisma, Mohammad Sulhan, menegaskan bahwa Polisma merupakan perguruan tinggi vokasi yang fokus pada pengembangan skill mahasiswa.
“Polisma hadir untuk menyiapkan kebutuhan industri. Saat ini industri membutuhkan lulusan yang benar-benar memiliki kemampuan dari sisi keterampilan,” ungkap Sulhan, Senin (25/05).
Polisma saat ini memiliki tiga program studi unggulan, yaitu Teknik Mesin D3, Teknik Listrik D3, dan Teknologi Rekayasa Komputer Jaringan (TRKJ) D4. Pihaknya juga tengah mengajukan program studi baru, yaitu Akademi Keperawatan.
“Kami berani memunculkan prodi baru karena kami memiliki rumah sakit sendiri, RS Islam yang berada di sebelah kampus. Mahasiswa bisa praktik langsung di sana,” jelasnya.
Pembeda Polisma dengan politeknik lain terletak pada pembentukan karakter mahasiswa. Polisma berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama yang mewajibkan mahasiswa mengikuti Halaqoh selama satu tahun. Tentunya ini bertujuan untuk memperkuat kemampuan keagamaan dan akhlakul karimah.
“Banyak mahasiswa punya skill tinggi tapi lupa etika. Kami menjaga betul akhlakul karimah. Skill sudah okay, tugas kami adalah menciptakan lulusan yang punya skill dan integritas,” tegas Sulhan.
Dari segi serapan lulusan, Polisma mencatatkan angka 100%. Pasalnya hampir seluruh mahasiswa yang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) seringkali langsung direkrut oleh perusahaan.
“Mayoritas mereka tidak perlu mencari pekerjaan lagi karena sudah dipesan di tempat PKL. Bahkan mereka mengerjakan tugas akhir di industri tersebut,” ungkapnya.
Perusahaan yang menyerap lulusan Polisma antara lain PLTU Paiton, PT Kereta Api Madiun, serta berbagai perusahaan di Tangerang yang menyuplai perangkat PLN.
Sejak 2020, Polisma menerapkan pola bimbingan tugas akhir berbasis digital untuk memfasilitasi mahasiswa yang sudah direkrut industri. Pihak Politeknik ini membuka diri dan memberika layanan konsultasi skripsi secara daring. Baik melalui Zoom, maupun Platform lainnya.
“Kami tidak ingin prinsip bekerja di industri memberikan dampak negatif pada perkuliahan. Proses pembelajaran tetap berjalan, kami yang harus mengadaptasi kebutuhan mahasiswa,” pungkas Sulhan.
