Indonesiandaily.com – Perpustakaan sekolah kerap identik dengan rak buku dan suasana yang tenang. Namun, tiga mahasiswa Universitas Islam Malang (UNISMA) Malang mencoba menghadirkan wajah berbeda di Perpustakaan MAN Kota Batu.
Mereka mengubah salah satu area yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal menjadi ruang baca yang lebih santai dan menarik. Ruang tersebut kemudian diberi nama “Sudut Baca Bocil”.
Gagasan itu digarap Jauharoh Kamila, Novelya Ananta Abila, dan Rizki Khoirul Sahrillah melalui program Praktik Belajar Lapangan Inovasi (PBLI) sekaligus Kandidat Sarjana Mengabdi (KSM) Terpadu.
Ketiganya berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Surya Sari Faradiba, S.Si., M.Pd.
Alih-alih membuat fasilitas baru, mahasiswa memilih memaksimalkan ruang yang sudah tersedia. Koleksi buku yang dimiliki perpustakaan menjadi modal yang kemudian dipadukan dengan penataan ruang yang lebih atraktif.
Area baca ditata dengan mempertimbangkan kenyamanan, kerapian, serta unsur visual yang lebih dekat dengan karakter siswa.
Konsep tersebut sengaja dibuat agar perpustakaan tidak terasa sebagai ruang formal yang hanya didatangi ketika siswa mendapat tugas dari guru.
Melalui “Sudut Baca Bocil”, mahasiswa ingin menciptakan tempat yang membuat siswa lebih leluasa membaca, belajar, mencari informasi, maupun sekadar menghabiskan waktu dengan aktivitas positif.
Novelya mengatakan, ide tersebut muncul setelah mahasiswa melihat masih ada potensi ruang perpustakaan MAN Kota Batu yang dapat dikembangkan.
“Kami melihat perpustakaan MAN Kota Batu sebenarnya sudah memiliki potensi yang sangat baik, terutama dari segi ruangan dan koleksi buku,” kata Novelya.
Menurutnya, mahasiswa tidak ingin menghadirkan fasilitas yang sepenuhnya baru. Fokusnya justru pada bagaimana ruang yang telah tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal.
“Karena itu, kami tidak ingin membuat sesuatu yang sepenuhnya baru, tetapi mengembangkan ruang yang sudah ada agar menjadi lebih nyaman, menarik, dan ramah bagi siswa melalui Sudut Baca Bocil,” lanjutnya.
Mengubah Kesan Perpustakaan
Nama “Sudut Baca Bocil” dipilih bukan tanpa alasan. Istilah tersebut ingin menghadirkan kesan akrab dan ceria sehingga siswa merasa lebih dekat dengan ruang perpustakaan.
Konsep ini juga menjadi cara sederhana untuk mengubah pandangan bahwa perpustakaan merupakan tempat yang kaku.
Mahasiswa berharap keberadaan ruang tersebut dapat mendorong siswa datang ke perpustakaan bukan hanya karena kewajiban, tetapi karena merasa nyaman berada di dalamnya.
Kepala Perpustakaan MAN Kota Batu, Dra. Dwi Tjahjaningrum, menyambut positif perubahan tersebut.
Ia menilai kreativitas mahasiswa memberikan suasana baru bagi perpustakaan sekaligus membuka peluang munculnya ruang favorit bagi siswa.
“Kami sangat mengapresiasi kepekaan dan kreativitas adik-adik mahasiswa UNISMA. Kehadiran Sudut Baca Bocil ini memberikan sentuhan baru yang lebih segar di perpustakaan kami,” ujarnya.
Menurut Dwi, ruang baca yang lebih santai diharapkan dapat membuat siswa semakin tertarik berkunjung dan membaca.
“Anak-anak jadi punya ruang favorit baru yang tidak kaku, sehingga harapannya minat berkunjung dan membaca siswa-siswi MAN Kota Batu bisa makin meningkat,” imbuhnya.
Dari Ruang Kosong Jadi Pemantik Literasi
Bagi mahasiswa pelaksana, perubahan ruang tersebut bukan sekadar persoalan dekorasi.
Penataan lingkungan perpustakaan dipandang sebagai salah satu cara untuk mendukung kebiasaan membaca. Ruang yang nyaman dapat membuat aktivitas membaca terasa lebih menyenangkan.
Dari proses itu, mahasiswa juga mendapat pengalaman langsung dalam menyelesaikan persoalan di lingkungan sekolah.
Mereka harus melihat kondisi yang ada, menemukan bagian yang masih dapat dikembangkan, menyusun konsep, kemudian merealisasikannya bersama pihak sekolah.
Program tersebut menunjukkan bahwa inovasi di lingkungan pendidikan tidak selalu harus diwujudkan melalui teknologi atau pembangunan fasilitas baru.
Ruang yang sudah ada pun dapat memberikan manfaat lebih besar ketika ditata berdasarkan kebutuhan penggunanya.
“Sudut Baca Bocil” akhirnya menjadi contoh sederhana bagaimana sebuah area di perpustakaan dapat diberi fungsi baru.
Dari sebuah sudut ruang, mahasiswa berharap lahir kebiasaan yang lebih besar: siswa datang ke perpustakaan, memilih buku, membaca, dan menemukan pengetahuan baru dari setiap halaman.
Bagi Perpustakaan MAN Kota Batu, kehadiran sudut baca tersebut menjadi warna baru. Sementara bagi mahasiswa PBLI-KSM UNISMA, program ini menjadi pengalaman bahwa perubahan dalam budaya literasi bisa dimulai dari hal sederhana.
