Mahasiswa UIN Malang Uji Kepemimpinan di Forum ASEAN, Rancang Solusi Pendidikan Lintas Negara

Mahasiswa UIN Malang Uji Kepemimpinan di Forum ASEAN, Rancang Solusi Pendidikan Lintas Negara

Indonesiandaily.com – Keberanian mengambil kesempatan membawa Auliana Firdaus, mahasiswa semester lima Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, masuk ke ruang pertemuan pemuda lintas negara dalam One Young World ASEAN Leadership Forum 2026 di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Auliana menjadi satu dari sekitar 150 peserta yang hadir langsung dalam forum tersebut. Sementara sekitar 150 peserta lainnya mengikuti kegiatan secara virtual dari berbagai negara. Bagi Auliana, forum ini bukan sekadar ajang bertemu pemuda internasional, tetapi ruang untuk menguji kemampuan memimpin, berkomunikasi, sekaligus bekerja dalam tim dengan latar budaya berbeda.

Kesempatan tersebut bermula dari keputusan sederhana. Ia mendaftar tanpa memasang ekspektasi tinggi. Namun, surat penerimaan yang diterima pada 20 September 2026 justru membawanya pada pengalaman yang jauh lebih besar dari perkiraan awal.

Kepemimpinan Dimulai dari Kemampuan Berkomunikasi 

Forum yang berlangsung di Smart Green Learning Center UGM mempertemukan peserta dengan akademisi, pegiat komunitas, sektor swasta, mahasiswa, hingga profesional dari berbagai negara.

Bahasa Inggris menjadi bahasa utama hampir di seluruh rangkaian kegiatan. Mulai sambutan, sesi pleno, diskusi kelompok hingga percakapan informal, peserta dituntut mampu menyampaikan gagasan sekaligus memahami perspektif orang lain.

Bagi Auliana, kondisi tersebut menjadi ruang praktik bagi kompetensi yang selama ini diperoleh di bangku kuliah.

Kemampuan bahasa Inggris tidak lagi sekadar menjadi materi akademik. Bahasa menjadi modal untuk membangun relasi, menyampaikan gagasan, bernegosiasi dalam kelompok, sekaligus memahami perbedaan budaya.

Pengalaman itu salah satunya terjadi ketika Auliana berbincang dengan delegasi asal Thailand. Percakapan berkembang dari cerita tentang Indonesia dan Thailand hingga pengalaman mengikuti program mengajar di Malaysia saat SMA.

Menariknya, ketika mengetahui Auliana juga menguasai bahasa Arab, percakapan mereka kemudian berlanjut menggunakan bahasa tersebut.

Dari interaksi sederhana itu, Auliana melihat bahwa kemampuan berbahasa dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kedekatan dengan orang lain.

Dari Gagasan Menjadi Proyek Bersama 

Semangat kepemimpinan semakin terasa ketika peserta mengikuti sesi pleno “Turning Ideas into Action: Youth Collaborating for ASEAN’s Future.”

Peserta tidak hanya menerima paparan mengenai berbagai persoalan kawasan ASEAN, tetapi juga ditantang bekerja lintas negara untuk merumuskan solusi terhadap persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Auliana bergabung dalam Kelompok 5 bidang Education bersama 22 delegasi dari Indonesia, Timor Leste, Filipina, Vietnam, Pakistan, dan Malaysia.

Kolaborasi bahkan telah dimulai sebelum para peserta bertemu di Yogyakarta. Mereka berkoordinasi secara daring untuk merumuskan gagasan yang kemudian dikembangkan menjadi proyek bersama bernama ASEAN REACH (Regional Engagement for Academic & Career Pathways).

Proyek tersebut berangkat dari persoalan kesenjangan keterampilan lulusan SMA dan SMK, terutama di wilayah yang belum memperoleh akses pengembangan karier secara memadai.

Gagasan yang ditawarkan diarahkan pada penguatan peran guru Bimbingan dan Konseling serta guru kelas XII melalui modul panduan karier dan lokakarya daring.

Auliana mendapat tanggung jawab di tim evaluasi. Ia menyusun pre-test dan post-test yang digunakan untuk membantu mengukur dampak program.

Dari proses tersebut, ia belajar bahwa kepemimpinan tidak hanya berbicara mengenai siapa yang berada di depan. Pemimpin juga harus mampu mengorganisasi gagasan, mendengarkan anggota tim, membagi peran, serta memastikan sebuah ide dapat diukur dampaknya.

Tantangan lain muncul ketika setiap koordinator kelompok hanya memiliki waktu sekitar dua menit untuk mempresentasikan masalah, solusi, dan dampak proyek.

Kondisi itu memaksa peserta menyederhanakan gagasan kompleks menjadi pesan yang singkat, jelas, dan mudah dipahami.

Jejaring yang Membuka Perspektif Baru 

Pembelajaran Auliana tidak berhenti ketika sesi resmi berakhir. Waktu jeda justru menjadi kesempatan membangun jejaring dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda.

Salah satunya ketika ia berbincang dengan seorang peneliti UGM yang mengembangkan pemanfaatan serat batang pisang abaka sebagai bahan karpet.

Dari percakapan itu, Auliana mendapat gambaran mengenai bagaimana penelitian dapat terhubung dengan kebutuhan industri, kapasitas produksi hingga peluang pengembangan produk.

Pembicaraan kemudian melebar pada pendidikan pascasarjana dan peluang studi di luar negeri.

Ia juga bertemu tutor pendidikan, pendiri sekolah, penyusun kurikulum, pendiri perusahaan berbasis teknologi, mahasiswa hingga profesional dari berbagai bidang.

Rangkaian pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan setelah perguruan tinggi tidak memiliki satu jalur tunggal. Kompetensi yang dimiliki mahasiswa dapat berkembang ke berbagai bidang selama mampu membaca peluang dan membangun jejaring.

Melihat Potensi Produk Lokal 

Pengalaman forum semakin lengkap ketika Auliana menjadi satu dari 80 peserta yang mengikuti kunjungan lapangan pada hari ketiga.

Selain mengeksplorasi lingkungan UGM, peserta mengunjungi Agradaya untuk melihat bagaimana rempah Indonesia diolah sehingga memiliki nilai tambah dan peluang menembus pasar yang lebih luas.

Peserta diperkenalkan pada proses menjaga kebersihan bahan, mengurangi risiko kontaminasi, penggunaan peralatan pengolahan hingga proses pemanasan di rumah kaca.

Bagi Auliana, kunjungan tersebut memperluas pemahamannya bahwa kualitas produk lokal tidak hanya bergantung pada bahan baku. Proses pengolahan, konsistensi mutu dan kemampuan membaca kebutuhan pasar juga menentukan daya saing.

Dari Forum Lokal Menuju Jejaring Global

Pengalaman Auliana menunjukkan bahwa internasionalisasi pendidikan tidak selalu harus diawali dengan perjalanan ke luar negeri.

Forum internasional yang digelar di Indonesia pun dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan pemuda dari berbagai negara, menguji kemampuan komunikasi dan membangun jejaring global.

Bagi Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana kompetensi akademik dapat memperoleh konteks nyata ketika mahasiswa berhadapan dengan persoalan dan perspektif lintas negara.

Auliana sendiri pulang dari Yogyakarta dengan pandangan baru mengenai peluang internasional. Program dan beasiswa luar negeri yang sebelumnya terasa jauh kini mulai dilihat sebagai kesempatan yang realistis untuk diperjuangkan.

Ia berencana terus mengikuti forum dan pertemuan internasional sembari memperkuat kepekaan terhadap persoalan sosial di lingkungan sekitarnya.

Keikutsertaannya di One Young World ASEAN Leadership Forum 2026 akhirnya tidak berhenti sebagai pengalaman menghadiri forum internasional.

Bagi Auliana, pengalaman tersebut menjadi proses belajar tentang bagaimana memimpin kolaborasi, menyampaikan gagasan, membangun jejaring dan mengubah ide menjadi aksi.

Berawal dari pendaftaran tanpa ekspektasi tinggi, ia justru menemukan ruang untuk menguji kemampuan dan bekerja bersama peserta dari berbagai negara. Dari sana, satu pelajaran penting muncul: kepemimpinan tidak cukup dibangun dari apa yang dipelajari di ruang kuliah, tetapi juga dari keberanian membawa pengetahuan itu ke tengah persoalan nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *