Indonesiandaily.com – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kharisma Dewi Nur Aziza, mahasiswa semester lima Program Studi Sastra Inggris, berhasil meraih Juara II dalam Edelweiss Science Excellence Olympiad (ESEO) 2026.
Kompetisi tingkat nasional tersebut digelar secara daring oleh Edelweiss Institute pada 30 Juni hingga 1 Juli 2026. Ajang ini mempertemukan peserta dari berbagai daerah di Indonesia untuk menguji kemampuan sekaligus menumbuhkan semangat berprestasi.
Bagi Kharisma, capaian tersebut bukan sekadar tentang meraih posisi juara. Kompetisi menjadi ruang untuk mengukur kemampuan yang selama ini dikembangkan melalui proses pembelajaran di bangku kuliah.
Dengan mengikuti kompetisi secara individu, Kharisma dituntut mempersiapkan diri secara mandiri. Ia juga harus membangun kedisiplinan, kesiapan mental, dan kepercayaan diri sebelum menghadapi peserta dari berbagai daerah.
“Mengikuti olimpiade ini adalah pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Melalui kompetisi ini, saya mendapat kesempatan untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris,” ungkap Kharisma.
Menurutnya, proses persiapan memberikan pelajaran penting mengenai kerja keras dan kedisiplinan. Ia juga semakin memahami pentingnya percaya terhadap kemampuan diri ketika berada dalam situasi kompetitif.
“Proses persiapan yang saya lalui mengajarkan saya arti kerja keras, disiplin, dan pentingnya percaya diri saat tampil,” lanjutnya.
Keluar dari Rutinitas Perkuliahan
Keputusan Kharisma mengikuti ESEO 2026 menjadi langkah untuk keluar dari rutinitas pembelajaran di kelas. Ia ingin menguji kompetensi yang dimiliki dalam ruang kompetisi yang lebih luas.
Pilihan tersebut membuahkan hasil. Di tengah persaingan peserta dari berbagai daerah, mahasiswa Sastra Inggris itu mampu menempati posisi Juara II.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa kompetensi akademik dapat berkembang ketika mahasiswa berani mengaktualisasikan kemampuan melalui berbagai kesempatan di luar kampus.
Bagi Fakultas Humaniora, pengalaman kompetitif juga menjadi bagian penting dari proses pembelajaran mahasiswa. Pendidikan tidak hanya berlangsung melalui perkuliahan, tugas, dan ujian.
Kompetisi dapat menjadi laboratorium pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan keterampilan lain. Di antaranya komunikasi, manajemen waktu, kemandirian, ketahanan menghadapi tekanan, hingga kepercayaan diri.
Dorong Mahasiswa Berani Berkompetisi
Pengalaman Kharisma di ESEO 2026 sekaligus mendorong semakin banyak mahasiswa untuk berani mengambil kesempatan dalam kompetisi eksternal.
Ia berharap fakultas terus memberikan dukungan bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan kemampuan melalui berbagai ajang di luar kampus.
“Saya berharap fakultas dapat terus mendukung dan memberikan izin bagi mahasiswa yang ingin mengikuti kompetisi-kompetisi serupa di luar kampus,” ujarnya.
Menurut Kharisma, kompetisi eksternal memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan soft skill. Khususnya kemampuan berbahasa Inggris yang menjadi kompetensi utama dalam bidang studinya.
Ia juga berharap dukungan tersebut dapat diperkuat melalui penyebaran informasi kompetisi dan pendampingan bagi mahasiswa yang memiliki minat berprestasi.
“Semoga ke depannya semakin banyak mahasiswa yang berani mengikuti kompetisi eksternal, dan fakultas dapat memfasilitasi dengan informasi maupun bimbingan bagi mahasiswa yang berminat,” tambahnya.
Bahasa Inggris sebagai Bekal Global
Dalam konteks Program Studi Sastra Inggris, pengalaman mengikuti kompetisi memberikan ruang bagi mahasiswa untuk membawa kompetensi bahasa keluar dari konteks pembelajaran formal.
Bahasa Inggris tidak hanya dipelajari sebagai disiplin akademik. Kemampuan tersebut juga menjadi bekal untuk berkomunikasi, menyampaikan gagasan, memperluas wawasan, dan berinteraksi dalam lingkungan global.
Prestasi Kharisma menjadi gambaran bagaimana proses belajar dapat berkembang ketika mahasiswa berani mengambil peluang di luar ruang kuliah.
Juara II ESEO 2026 menjadi capaian penting. Namun, pengalaman membangun disiplin, kerja keras, kemandirian, dan kepercayaan diri selama kompetisi menjadi bekal yang tidak kalah berharga.
Capaian tersebut sekaligus menambah catatan positif mahasiswa Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam kompetisi eksternal sepanjang 2026.
Melalui pembinaan dan dukungan berkelanjutan, Fakultas Humaniora terus mendorong mahasiswa menjadi pribadi yang aktif, kompetitif, dan berani mengembangkan potensi.
Keberhasilan Kharisma menunjukkan bahwa ketika kompetensi akademik dipadukan dengan keberanian mencoba, kerja keras, dan kepercayaan diri, mahasiswa memiliki peluang besar untuk berprestasi di tingkat nasional hingga global.



