Mahasiswa BSA UIN Malang Raih Medali Perak Debat Bahasa Arab PORSI JAWARA II

Mahasiswa BSA UIN Malang Raih Medali Perak Debat Bahasa Arab PORSI JAWARA II

Indonesiandaily.com – Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menorehkan prestasi di ajang Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah (PORSI) JAWARA II.

Siti Najahatul Imtihan dan Nasruddin Rafa’i berhasil meraih Juara II atau Medali Perak Debat Bahasa Arab dalam kompetisi yang berlangsung pada 9–13 September 2026 di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

PORSI JAWARA II digelar Kementerian Agama RI bersama Forum Wakil Rektor III PTKIN se-Jawa dan Madura. Ajang ini mempertemukan mahasiswa PTKIN dari berbagai daerah dalam kompetisi olahraga, seni, dan ilmiah.

Adu Argumentasi dalam Bahasa Arab

Dalam cabang Debat Bahasa Arab, Siti dan Nasruddin tampil bersama Rizal Rafid Arriqoh, mahasiswa semester 7 Program Studi Pendidikan Bahasa Arab. Mereka membawa nama UIN Malang menghadapi tim dari berbagai PTKIN.

Bagi Siti dan Nasruddin, kompetisi tersebut bukan sekadar mengejar medali. Debat menjadi ruang untuk menguji kemampuan bahasa Arab sekaligus melatih kecepatan berpikir, penyusunan argumentasi, komunikasi, dan kerja sama tim.

Debat menuntut peserta memahami persoalan, menentukan posisi, menyusun argumen, hingga merespons pandangan lawan. Seluruh proses itu dilakukan dalam bahasa Arab.

Karena itu, kemampuan kebahasaan menjadi modal awal. Peserta juga membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan keberanian menyampaikan gagasan secara terstruktur.

Bahasa Arab Tak Berhenti di Ruang Kelas

Siti merupakan mahasiswa BSA semester 7, sementara Nasruddin berada di semester 5. Keduanya berasal dari Lombok.

Pengalaman di PORSI JAWARA II membuat kemampuan bahasa Arab yang dipelajari di bangku kuliah menemukan ruang penerapan secara langsung.

Bahasa Arab tidak hanya dipelajari melalui struktur, kosakata, dan teks. Di arena debat, bahasa menjadi alat untuk membaca persoalan, membangun argumentasi, mempertahankan pendapat, dan berdialog dengan peserta lain.

Kompetisi tersebut juga mempertemukan mereka dengan mahasiswa PTKIN dari berbagai wilayah, mulai Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Jawa Timur.

Pertemuan itu memberi pengalaman baru. Mereka dapat melihat cara peserta lain menyusun argumentasi, berkomunikasi, dan bekerja dalam tim.

Medali Perak dan Pengalaman Berharga

Siti mengaku bersyukur mendapat kesempatan mewakili UIN Malang dalam kompetisi tersebut.

“Senang banget bisa mewakili UIN Malang. Bersyukur diberikan kesempatan untuk belajar dan terus menambah pengalaman,” kata Siti.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada kampus, fakultas, program studi, keluarga, dan teman-teman yang memberikan dukungan selama mengikuti kompetisi.

Bagi Fakultas Humaniora, capaian tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran dapat berkembang menjadi pengalaman nyata di luar ruang kuliah.

Medali perak memang menjadi hasil yang dibawa pulang dari Pekalongan. Namun, pengalaman menghadapi lawan dari berbagai kampus, mengelola tekanan pertandingan, mempertahankan argumentasi, dan bekerja sebagai tim menjadi bekal yang tidak kalah penting.

Prestasi Siti dan Nasruddin sekaligus memperlihatkan bahwa penguasaan bahasa Arab dapat berkembang menjadi kompetensi yang lebih luas: berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, dan menyampaikan gagasan di hadapan publik.

Dari ruang kelas hingga arena kompetisi, bahasa akhirnya tidak hanya menjadi sesuatu yang dipelajari. Bahasa menjadi alat bagi mahasiswa untuk berpikir, berdialog, dan membuka diri terhadap lingkungan akademik yang lebih luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *