Lima Ribu Mahasiswa dari Berbagai Perguruan Tinggi Kumpul di UMM, Pamerkan Inovasi KKN Berdampak

Lima Ribu Mahasiswa dari Berbagai Perguruan Tinggi Kumpul di UMM, Pamerkan Inovasi KKN Berdampak

Indonesiandaily.com – Sekitar lima ribu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi berkumpul di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka membawa hasil karya pengabdian masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak.

Hampir lima ribu atau 4.780 mahasiswa dari 49 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) ikut ambil bagian dalam rangkaian kegiatan yang dikemas melalui tur kampus, fun walk, hingga ekspo gelar produk.

Slider Ucapan HUT RI

Ekspo menjadi salah satu agenda utama. Di lokasi tersebut, mahasiswa memamerkan sekitar 120 produk dan inovasi yang lahir dari pelaksanaan KKN di berbagai wilayah.

Kepala Divisi Pengabdian Masyarakat UMM, Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa KKN tidak berhenti pada aktivitas pengabdian.

Mahasiswa didorong menghasilkan inovasi yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Ini menjalankan amanah dari Kemendikti Saintek, bagaimana mahasiswa berdampak sesuai dengan tagline KKN dan juga tagline kampus UMM, Mandiri, Inovasi, Berdampak,” ujar Arina.

Ribuan Mahasiswa, Beragam Karya

Menurut Arina, 120 stan yang ditampilkan dalam ekspo membawa beragam hasil inovasi mahasiswa.

Karya tersebut mencakup teknologi tepat guna, pengembangan UMKM, pertanian berbasis Internet of Things (IoT), kampung wisata, budidaya ikan, hingga teknologi pengolahan air.

Salah satu inovasi yang menarik dikembangkan mahasiswa di wilayah Batu. Mereka menciptakan sistem IoT untuk membantu mengontrol kebutuhan air tanaman stroberi.

Teknologi tersebut menjadi contoh bagaimana mahasiswa mencoba menjawab persoalan masyarakat dengan pendekatan teknologi.

“Di Batu ada IoT yang mengontrol air pada tanaman stroberi,” jelas Arina.

Inovasi lain muncul dari mahasiswa yang menjalankan KKN di wilayah Malang Selatan. Mereka mengembangkan teknologi mesin pengolah air yang kini mulai diarahkan untuk memperoleh perlindungan hak kekayaan intelektual.

Arina menyebut proses tersebut masih berjalan karena produk teknologi membutuhkan pendampingan dan pengembangan berkelanjutan.

KKN Lintas Kampus hingga Mancanegara

Kegiatan KKN yang dipamerkan tidak hanya berlangsung di satu wilayah.

Mahasiswa terlibat dalam berbagai skema pengabdian, termasuk KKN internasional di Malaysia, Thailand, dan Taiwan.

Dalam program tersebut, mahasiswa membawa misi pengabdian sekaligus memperkenalkan kemampuan akademik dan inovasi Indonesia di tingkat internasional.

Ada pula KKN MAS PTMA yang melibatkan perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah dari berbagai daerah di Indonesia. Lokasi pengabdian salah satunya berada di Kabupaten Malang.

Sementara KKN Berdampak menjangkau berbagai wilayah di Jawa Timur.

UMM juga memiliki KKN Gentaskin yang diarahkan untuk membantu mengentaskan kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Jadi semuanya berkumpul di sini. Jumlahnya 4.780 mahasiswa dari 49 kampus PTMA,” ungkap Arina.

Dibentuk untuk Membaur

Menariknya, mahasiswa tidak dikelompokkan berdasarkan asal kampus.

Kelompok KKN dibuat secara campuran agar mahasiswa dari berbagai PTMA dapat berkolaborasi dan saling bertukar pengalaman.

Satu kelompok umumnya terdiri dari sekitar 30 mahasiswa. Sementara kelompok kecil beranggotakan sekitar 15 mahasiswa.

Skema tersebut membuat KKN menjadi ruang kolaborasi lintas kampus. Mahasiswa tidak hanya membawa nama perguruan tinggi masing-masing, tetapi bekerja bersama menghasilkan solusi bagi masyarakat.

“Kelompoknya campuran supaya PTMA membaur. UMM juga menjadi satu,” kata Arina.

Para mahasiswa tersebut berasal dari berbagai program studi. Sebagian merupakan mahasiswa semester 4 menuju semester 5 dan sebagian lainnya semester 6 menuju semester 7.

Inovasi UMKM hingga Branding Produk

Tidak semua inovasi berbentuk teknologi.

Di Pujon, mahasiswa mendampingi sekitar 10 UMKM. Mereka membantu pelaku usaha yang sebelumnya belum memiliki merek untuk membangun identitas dan branding produk.

Pendampingan tersebut menjadi salah satu contoh dampak KKN yang langsung menyentuh sektor ekonomi masyarakat.

Mahasiswa membantu mengembangkan produk agar lebih dikenal dan memiliki peluang masuk ke pasar yang lebih luas.

Menurut Arina, model pendampingan semacam ini masih dapat dikembangkan melalui kerja sama lanjutan dengan berbagai pihak.

UMM Bidik Hilirisasi Karya Mahasiswa

UMM tidak ingin 120 inovasi tersebut berhenti setelah ekspo selesai.

Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), kampus akan mendorong pengembangan karya mahasiswa agar dapat masuk ke tahap hilirisasi.

Pendampingan dosen pembimbing lapangan (DPL) juga akan terus dilakukan untuk memastikan inovasi yang telah dibuat memiliki keberlanjutan.

“Harapannya ide ini tidak berhenti sampai di sini, karena harus menjadi dampak nyata. Ke depan akan didampingi DPL masing-masing untuk keberlanjutan industri,” tutur Arina.

UMM juga membuka peluang untuk menghubungkan inovasi mahasiswa dengan dunia industri.

Beberapa produk telah diarahkan menuju perlindungan hak kekayaan intelektual. Tahap berikutnya adalah mencari mitra yang dapat membantu proses pengembangan dan komersialisasi.

“Next mungkin kita akan membangun kerja sama dengan industri,” ujarnya.

Dari KKN Menuju Karya Berkelanjutan

Arina menegaskan, ekspo bukan sekadar ajang memamerkan hasil KKN.

Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi etalase inovasi mahasiswa sekaligus titik awal untuk membawa karya pengabdian menuju tahap berikutnya.

“Goal dari expo ini dari riset, teknologi tepat guna, sampai keluaran. Harapannya karya-karya ini bisa terus dikembangkan,” katanya.

Dengan melibatkan ribuan mahasiswa dan puluhan perguruan tinggi, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa KKN dapat menjadi ruang lahirnya inovasi sekaligus kolaborasi.

Dari teknologi pertanian berbasis IoT hingga penguatan UMKM, mahasiswa membuktikan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat menghasilkan karya yang memiliki manfaat nyata.

KKN pun tidak lagi sekadar tentang datang ke desa, menjalankan program, lalu pulang. Di UMM, KKN didorong menjadi gerakan yang meninggalkan inovasi dan membuka jalan menuju dampak berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *