Oleh: Prof. Dr. H. M. Abdul Hamid, M.A.
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Malang
Indonesiandaily.com – Ada masa ketika kampus ini begitu sederhana hingga bangunannya pernah dibandingkan dengan sekolah dasar di daerah terpencil. Siapa sangka, dari keterbatasan itu tumbuh sebuah universitas Islam yang kini menembus panggung pemeringkatan dunia?
Enam puluh lima tahun perjalanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang adalah kisah tentang keberanian bermimpi, ketekunan membangun, dan kemampuan melampaui keterbatasan. Namun, di balik kebanggaan atas pencapaian tersebut, ada pertanyaan yang layak kita renungkan bersama: apakah kita telah mampu mengubah pertumbuhan kelembagaan menjadi keunggulan akademik yang semakin bermakna?
Pertanyaan inilah yang semestinya menyertai Dies Maulidiyah ke-65 dan Lustrum XIII. Bukan untuk mengurangi kebanggaan, melainkan memastikan bahwa sejarah panjang ini menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh.
Dari Kampus Sederhana Menuju Universitas Bereputasi Dunia
Saya mengenal kampus ini sejak 1992, ketika menempuh studi Pendidikan Bahasa Arab di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang. Setelah menyelesaikan studi pada September 1996, saya kembali mengabdi sebagai dosen luar biasa pada Maret 1997. Sejak itu, saya menyaksikan perjalanan panjang institusi ini, dari kampus yang bersahaja hingga menjadi universitas dengan jejaring dan reputasi internasional.
Perjalanan tersebut bermula pada 28 Oktober 1961, ketika Fakultas Tarbiyah Malang berdiri sebagai cabang IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pada 1997, institusi ini menjadi STAIN Malang, kemudian bertransformasi menjadi Universitas Islam Indonesia-Sudan pada 2002, sebelum resmi menjadi UIN Malang melalui Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun 2004. Sejak 2009, nama UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi identitas yang kita kenal sekarang.
Transformasi itu bukan sekadar pergantian nama dan status. Di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Imam Suprayogo, penguatan bahasa Arab dan bahasa Inggris serta tradisi ma’had dikembangkan sebagai fondasi pendidikan yang mengintegrasikan penguasaan ilmu, pembentukan karakter, dan kehidupan pesantren.
Fondasi tersebut kemudian diperkuat oleh kepemimpinan berikutnya. Prof. Dr. Mudjia Rahardjo melanjutkan pengembangan pendidikan kedokteran hingga izin program pendidikan dokter dan profesi dokter terbit pada 28 Maret 2016. Pada masa Prof. Dr. Abd Haris, penguatan sumber daya akademik, termasuk guru besar, mendapat perhatian penting. Kepemimpinan Prof. Dr. M. Zainuddin melanjutkan pengembangan infrastruktur dan kampus internasional, antara lain melalui pembangunan Gedung Ar-Rahim dengan dukungan Saudi Fund for Development.
Kini, di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., pengembangan kelembagaan terus berlanjut, termasuk pembentukan Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam serta Fakultas Teknik pada 2026. Capaian dalam Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) 2027, yang menempatkan UIN Malang dalam kelompok 10 besar perguruan tinggi Indonesia dan peringkat dunia 1201–1400, juga menjadi penanda perjalanan internasionalisasi kampus ini.
Semua itu menegaskan bahwa kemajuan universitas merupakan hasil kerja kolektif lintas generasi. Setiap kepemimpinan meletakkan fondasi dan membuka jalan bagi perkembangan berikutnya. Menghormati para pendahulu berarti merawat capaian mereka sekaligus melanjutkan ikhtiar untuk mencapai standar yang semakin tinggi.
Peringkat Dunia Bukan Garis Akhir
Pengalaman akademik di King Saud University, pendidikan doktoral di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, program pascadoktoral di Université Mohammed V, Rabat, Maroko, serta kunjungan akademik ke berbagai negara memperluas perspektif saya tentang universitas yang unggul.
Universitas kelas dunia tidak hanya ditentukan oleh kemegahan gedung, kelengkapan program studi, atau posisi dalam pemeringkatan. Keunggulannya juga bertumpu pada budaya akademik yang hidup, penelitian bermutu, produktivitas ilmiah, integritas, dan kolaborasi yang menghasilkan manfaat nyata.
Karena itu, capaian pemeringkatan global patut kita syukuri, sekaligus kita jadikan momentum untuk memperkuat kualitas substantif. Seberapa besar kontribusi penelitian kita terhadap perkembangan ilmu pengetahuan? Seberapa jauh karya ilmiah kita menjadi rujukan dan memberikan pengaruh? Apakah mahasiswa tumbuh sebagai pemikir mandiri yang kritis, kreatif, dan berintegritas? Sudahkah kerja sama internasional menghasilkan riset bersama, publikasi berkualitas, inovasi, dan pertukaran akademik yang substantif?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan bentuk pesimisme, melainkan bagian dari tanggung jawab akademik. Kita tidak cukup hanya hadir dalam peta perguruan tinggi dunia. Kita perlu terus memperkuat kapasitas untuk menghasilkan pengetahuan, gagasan, dan solusi yang dibutuhkan masyarakat global.
Dari Ekspansi Menuju Kedalaman Akademik
Pada usia ke-65, tantangan UIN Maliki Malang bukan lagi semata-mata memperluas struktur, menambah fasilitas, atau memperbanyak program studi. Tantangan berikutnya adalah memperdalam kualitas akademik agar sejalan dengan keluasan institusi dan cita-cita internasionalnya.
Ada Lima Agenda yang Perlu Terus Diperjuangkan.
Pertama, membangun budaya riset yang kuat dengan menempatkan kebaruan, ketelitian metodologis, integritas data, dan kontribusi keilmuan sebagai orientasi utama penelitian.
Kedua, memperkuat mutu pembelajaran agar mahasiswa tidak hanya memperoleh nilai dan ijazah, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, kompetensi profesional, dan tanggung jawab sosial.
Ketiga, menjadikan integrasi Islam dan sains sebagai tradisi intelektual yang produktif, bukan sekadar identitas simbolis. Nilai-nilai Islam perlu memperdalam orientasi etis dan kemanusiaan ilmu, sementara disiplin akademik memastikan bahwa pengetahuan dihasilkan melalui proses yang dapat diuji dan dipertanggungjawabkan.
Keempat, mengembangkan kerja sama internasional menjadi produktivitas akademik. Nota kesepahaman perlu ditindaklanjuti melalui penelitian bersama, publikasi bermutu, pengembangan kurikulum, dan mobilitas akademik yang memberikan manfaat timbal balik.
Kelima, memperkuat tata kelola yang transparan, akuntabel, dan meritokratis. Keunggulan akademik membutuhkan integritas kelembagaan, penghargaan terhadap kompetensi, dan konsistensi dalam menjaga standar mutu.
Bagi saya, sebagai Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga, agenda internasionalisasi memiliki arti strategis. Internasionalisasi tidak cukup diukur melalui banyaknya penandatanganan dokumen atau kunjungan kelembagaan. Yang lebih penting adalah bagaimana jejaring tersebut membuka ruang pertukaran pengetahuan, memperluas kolaborasi riset, dan meningkatkan kontribusi universitas bagi masyarakat global.
Merawat Identitas, Menjawab Masa Depan
UIN Maliki Malang memiliki kekhasan yang perlu terus dirawat: penguatan bahasa Arab dan Inggris, tradisi ma’had, pendidikan keislaman, dan pengembangan ilmu pengetahuan modern.
Bahasa Arab dan Inggris harus menjadi pintu menuju khazanah intelektual Islam sekaligus ruang dialog dengan dunia Arab dan Barat. Ma’had perlu membentuk kedisiplinan, kedalaman spiritual, kematangan sosial, dan etika akademik. Sementara itu, integrasi Islam dan sains diharapkan melahirkan penelitian serta pemikiran yang relevan bagi kehidupan.
Identitas Islam bukan alasan untuk merasa cukup. Sebaliknya, identitas itulah yang semestinya mendorong kita menghasilkan ilmu yang berintegritas, menghadirkan kemaslahatan, dan menjawab persoalan kemanusiaan.
Enam puluh lima tahun adalah usia yang patut disyukuri. Perjalanan dari sebuah fakultas sederhana hingga menjadi universitas yang diperhitungkan secara internasional merupakan pencapaian kolektif yang membanggakan. Namun, rasa syukur perlu berjalan beriringan dengan evaluasi diri, agar setiap capaian menjadi modal untuk meningkatkan kualitas dan memperluas manfaat.
Dahulu, kita berjuang membangun status, fasilitas, struktur, dan identitas universitas. Kini, kita memiliki kesempatan sekaligus tanggung jawab untuk semakin memperdalam ilmu, memperkuat tradisi akademik, dan memperbesar kontribusi bagi masyarakat.
Pada Dies Maulidiyah ke-65 ini, penghormatan terbaik terhadap sejarah bukanlah menyatakan bahwa kita telah sampai, melainkan memastikan bahwa kita terus bertumbuh dan mampu melangkah lebih jauh.
Sebab, ukuran penting sebuah universitas bukan hanya seberapa jauh ia telah berubah dari masa lalunya, melainkan seberapa besar ia mampu menghadirkan perubahan melalui ilmu pengetahuan, integritas, dan kontribusi nyata bagi kemanusiaan.



