Bahasa Arab dan Ekosistem Keilmuan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang: Menjaga Warisan, Merawat Keunggulan
(Refleksi Dies Natalis ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)
- Oleh: Prof. Dr. Uril Bahruddin, MA
Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Ada ungkapan yang cukup populer di kalangan penggiat bahasa Arab di Indonesia: “Jika ingin belajar bahasa Arab dan mengembangkannya, silakan datang ke UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.” Ungkapan ini tentu bukan sekadar pujian. Ia merupakan pengakuan atas reputasi akademik yang dibangun melalui proses panjang, kebijakan yang berani, dan komitmen kelembagaan yang relatif konsisten. Di balik reputasi tersebut, terdapat sesuatu yang lebih penting daripada sekadar program unggulan, yakni ekosistem bahasa Arab yang tumbuh dan berkembang di lingkungan kampus ini.
Dalam momentum Dies Natalis ke-65, rasanya penting untuk merenungkan kembali bagaimana bahasa Arab telah menjadi bagian dari identitas akademik UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, apa kontribusinya bagi pengembangan perguruan tinggi, dan bagaimana keberlangsungannya harus dijaga untuk menghadapi tantangan masa depan.
Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Program
Salah satu keunggulan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terletak pada keberaniannya menempatkan bahasa Arab sebagai bagian penting dari pengalaman akademik mahasiswa. Melalui Program Khusus Perkuliahan Bahasa Arab (PKPBA), mahasiswa baru diwajibkan mengikuti pembelajaran bahasa Arab secara intensif selama satu tahun penuh pada tahun pertama perkuliahan. Program ini menjadi semacam kawah candradimuka yang membekali mahasiswa dengan kemampuan bahasa Arab sebagai bekal memasuki kehidupan akademik dan keislaman yang lebih luas.
Namun, pembelajaran bahasa tidak cukup hanya berlangsung di ruang kelas. Bahasa adalah keterampilan yang membutuhkan pembiasaan, interaksi, dan lingkungan yang mendukung. Kesadaran inilah yang menemukan bentuknya dalam keberadaan Ma’had Sunan Ampel Al-‘Aly. Melalui kehidupan berasrama, mahasiswa memperoleh ruang untuk mempraktikkan bahasa Arab, membangun kebiasaan berkomunikasi, dan menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dengan pengalaman sehari-hari.
Keistimewaan UIN Malang tidak berhenti pada dua institusi tersebut. Ekosistem bahasa Arabnya berlanjut melalui program studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) dan Bahasa dan Sastra Arab (BSA) pada jenjang sarjana, program magister pada kedua bidang tersebut, hingga program doktor Pendidikan Bahasa Arab. Rangkaian ini membentuk kesinambungan antara pembelajaran dasar, praktik kebahasaan, pengembangan kompetensi akademik, penelitian, dan produksi ilmu pengetahuan.
Karena itulah, kekuatan UIN Malang tidak tepat jika hanya diukur dari keberadaan PKPBA, ma’had, atau program studi tertentu secara terpisah. Kekuatan sesungguhnya terletak pada keterhubungan seluruh unsur tersebut. Inilah yang saya sebut sebagai ekosistem bahasa Arab.
Sebagaimana ekosistem dalam ilmu biologi, setiap unsur memiliki fungsi dan saling memengaruhi. Melemahkan satu unsur dapat berdampak pada unsur lainnya. Jika pembelajaran intensif tidak didukung lingkungan praktik, kemampuan mahasiswa berisiko berhenti pada pengetahuan kaidah. Jika lingkungan praktik tidak diikuti pengembangan akademik, keterampilan berbahasa dapat kehilangan arah keilmuan. Sebaliknya, program studi yang kuat akan lebih mudah berkembang apabila didukung mahasiswa dengan fondasi bahasa Arab yang memadai.
Dari Keunggulan Lokal Menuju Pengaruh Nasional
Model pembelajaran bahasa Arab UIN Malang telah menginspirasi berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia. Banyak institusi mencoba mengadopsi pola pembelajaran intensif dan kehidupan ma’had sebagai strategi meningkatkan kemampuan bahasa Arab mahasiswa. Meskipun demikian, pengalaman menunjukkan bahwa mereplikasi struktur program tidak otomatis menghasilkan keberhasilan yang sama. Di sejumlah tempat, keberlanjutan program bahkan menghadapi persoalan serius.
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting: keberhasilan sebuah model tidak hanya ditentukan oleh desain program, tetapi juga oleh visi kelembagaan, kesinambungan kebijakan, kualitas sumber daya manusia, pendanaan, evaluasi, dan budaya akademik yang menopangnya. Ekosistem tidak dapat dibangun hanya dengan menyalin nama program atau bentuk kelembagaannya. Ia membutuhkan komitmen untuk menghidupkan seluruh unsur secara berkelanjutan.
Reputasi UIN Malang di tingkat nasional dan internasional juga tidak dapat dilepaskan dari kemampuannya membangun lingkungan akademik yang mendukung penguasaan bahasa Arab. Bahasa ini membuka akses terhadap khazanah keilmuan Islam, memperluas jejaring kerja sama internasional, dan memperkuat kepercayaan mitra luar negeri. Dukungan pendanaan dari Islamic Development Bank (IDB) dan Saudi Fund for Development (SFD), sebagaimana pengalaman kelembagaan yang pernah dilalui kampus ini, merupakan bagian dari sejarah pengembangan institusi yang patut direnungkan.
Hal serupa tampak dalam kekayaan koleksi perpustakaan berbahasa Arab yang mencakup berbagai disiplin ilmu. Menurut pengamatan saya, koleksi tersebut memiliki nilai strategis karena memungkinkan sivitas akademika mengakses sumber pengetahuan yang lebih luas, termasuk bidang kesehatan, ekonomi, teknik, dan bidang-bidang lainnya. Kepercayaan mitra, dukungan sumber daya, dan kemampuan memanfaatkan literatur internasional merupakan modal akademik yang perlu terus dirawat.
Dengan demikian, bahasa Arab di UIN Malang bukan semata-mata mata kuliah atau keterampilan tambahan. Ia merupakan salah satu infrastruktur intelektual yang ikut membangun reputasi universitas.
Refleksi Jujur: Ketika Keunggulan Mulai Memerlukan Perhatian
Akan tetapi, refleksi yang baik tidak cukup hanya merayakan keberhasilan masa lalu. Ia juga harus berani membaca gejala yang berkembang pada masa kini.
Secara jujur, saya merasakan adanya indikasi bahwa kualitas ekosistem bahasa Arab di UIN Malang mulai mengalami penurunan pada aspek-aspek tertentu. Salah satu indikator yang patut mendapatkan perhatian ialah kemampuan aktif berbahasa Arab di kalangan lulusan. Dahulu, berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, terdapat mahasiswa dari program studi umum, seperti ekonomi dan informatika, yang mampu menulis tugas akhir menggunakan bahasa Arab. Pencapaian tersebut bahkan memperoleh apresiasi dari pimpinan universitas.
Kini, praktik semacam itu, sejauh yang saya ketahui, semakin jarang terdengar. Pengamatan ini tentu perlu ditindaklanjuti dengan data yang sistematis agar dapat diketahui sejauh mana perubahan tersebut terjadi. Namun, ia cukup penting untuk menjadi bahan evaluasi bersama.
Pertanyaan mendasarnya bukan sekadar apakah mahasiswa masih mempelajari bahasa Arab, melainkan apakah mereka benar-benar mampu menggunakannya. Apakah lulusan program studi umum dapat membaca literatur Arab sesuai bidang keilmuannya? Apakah mereka mampu berdiskusi, menulis, dan menyampaikan gagasan dalam bahasa Arab? Apakah pembelajaran intensif selama satu tahun telah menghasilkan kompetensi yang bertahan hingga akhir masa studi?
Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab melalui evaluasi yang terukur. Keberhasilan tidak semestinya hanya dinilai dari terselenggaranya program, jumlah jam pembelajaran, atau capaian administratif, tetapi juga dari kemampuan nyata mahasiswa dan lulusan dalam menggunakan bahasa Arab.
Menjaga Warisan, Mengembangkan Masa Depan
Pada Dies Natalis ke-65 ini, saya ingin menyampaikan sebuah harapan kepada seluruh sivitas akademika dan para pemimpin UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, baik yang mengemban amanah saat ini maupun pada masa mendatang: jangan pernah merasa cukup dengan capaian yang telah diraih. Reputasi adalah amanah, bukan alasan untuk berpuas diri.
Ekosistem bahasa Arab yang telah dibangun perlu diperkuat melalui evaluasi berkala, peningkatan kualitas pengajar, integrasi pembelajaran dengan kebutuhan akademik lintas program studi, serta pengembangan lingkungan berbahasa yang lebih hidup. Kemampuan aktif mahasiswa juga perlu menjadi indikator keberhasilan yang jelas dan terukur.
Di era digital, upaya tersebut harus disertai pemanfaatan teknologi secara cerdas. Kecerdasan buatan, platform pembelajaran digital, sumber literatur elektronik, dan komunitas komunikasi lintas negara dapat memperluas kesempatan mahasiswa untuk membaca, menulis, menyimak, dan berbicara dalam bahasa Arab. Namun, teknologi seharusnya memperkuat ekosistem yang telah ada, bukan menggantikan interaksi manusia, keteladanan dosen, dan budaya akademik yang menjadi fondasinya.
Lebih jauh, bahasa Arab perlu terus dihubungkan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Mahasiswa tidak cukup hanya mampu memahami teks keagamaan, tetapi juga perlu memperoleh akses terhadap perkembangan ilmu kontemporer melalui sumber-sumber berbahasa Arab. Dengan demikian, bahasa Arab menjadi jembatan antara tradisi keilmuan Islam, ilmu pengetahuan modern, dan pergaulan akademik global.
Pada akhirnya, keunggulan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tidak hanya terletak pada sejarah keberhasilannya membangun program bahasa Arab, tetapi pada kemampuannya menjaga, memperbarui, dan mengembangkan ekosistem tersebut. Sebab, membangun sebuah keunggulan membutuhkan perjuangan, tetapi mempertahankannya menuntut kesadaran, konsistensi, dan keberanian untuk terus berbenah.
Semoga pada usia ke-65 ini, UIN Malang tidak hanya dikenang sebagai kampus yang pernah unggul dalam pembelajaran bahasa Arab, tetapi terus menjadi rujukan nasional dan internasional dalam pengembangan bahasa Arab yang hidup, produktif, dan berdaya guna bagi kemajuan ilmu pengetahuan serta peradaban. Wallahu a‘lam.
Batu 23 Oktober 2026



