Akuntansi di Era AI: UNISMA Bekali Mahasiswa Jadi Master Teknologi, Bukan Budak Inovasi

Akuntansi di Era AI: UNISMA Bekali Mahasiswa Jadi Master Teknologi, Bukan Budak Inovasi

Indonesiandaily.com – Di tengah kekhawatiran  profesi akuntansi bakal tergerus kecerdasan buatan (AI), Program Studi (Prodi) Akuntansi  Universitas Islam Malang (UNISMA) justru optimistis. Kepala Prodi Akuntansi UNISMA, Dr. Dwiyani Sudaryanti, SE, MSi, Ak., menegaskan bahwa akuntansi tetap relevan, selama manusia tetap menjadi pengendali utama teknologi.

“Bidang akuntansi itu luas. Memang ada sisi teknis yang repetitif dan rawan digantikan teknologi, kami sadar itu. Tapi akuntansi juga menyangkut analisis, kebijaksanaan, dan bersentuhan langsung dengan kehidupan sosial masyarakat,” ujar Dwiyani, Selasa (26/5/2026).

Menurutnya, hal-hal non-teknis seperti keadilan, pemerataan, hingga deteksi kecurangan (fraud) tetap membutuhkan sentuhan manusia secara utuh. “Di situlah kami yakin akuntansi masih sangat relevan,” tegasnya.

 

Bekal Hadapi AI: Etika, Soft Skill, dan Sertifikasi

Dwiyani menekankan, teknologi bukanlah sesuatu yang bisa dihindari, melainkan harus dihadapi. Oleh karena itu, Prodi Akuntansi UNISMA membekali mahasiswanya dengan dua strategi utama.

Greeting Lebaran Rddy Wahyono

“Pertama, kami menempatkan teknologi sebagai alat, bukan pengganti. Kami ingin mahasiswa menjadi master of technology, yang mengarahkan teknologi, bukan menjadi budaknya inovasi,” jelasnya.

Strategi kedua adalah membekali mahasiswa dengan sikap analitis, kritis, dan terbuka terhadap pandangan baru. Nilai-nilai ini diperkuat melalui sosialisasi etika penggunaan AI, misalnya saat menyusun tugas akhir, serta penguatan etika profesional dan soft skill seperti kemampuan berbicara.

“Yang dinilai tidak hanya kompetensi teknis, tetapi juga sikap. Ini menjadi senjata agar mahasiswa tetap unggul,” tambah Dwiyani.

Tak hanya itu, mahasiswa Akuntansi UNISMA diwajibkan mengantongi sejumlah sertifikat kompetensi. Tiga sertifikat wajib meliputi sertifikat digital accounting (menggunakan program Zahira), sertifikat digital marketing dari Asosiasi Digital Marketing Indonesia, serta sertifikat brevet pajak A dan B.

“Selain itu, sertifikat Microsoft Office juga menjadi syarat kelulusan yudisium,” ucap Kaprodi satu ini.

 

Keterserapan Lulusan di Atas 75 Persen

Dwiyani mengungkapkan, berdasarkan data tracer study, tingkat keterserapan lulusan Akuntansi UNISMA di dunia kerja sudah di atas 75 persen. Angka ini bahkan cenderung meningkat untuk lulusan terbaru.

“Beberapa calon wisudawan bulan ini sudah ada yang bekerja sebelum diwisuda. Peran alumni sangat besar, mereka sering meminta adik kelas untuk direkomendasikan ke perusahaan tempat mereka bekerja,” ungkapnya.

 

Mengikis Stigma “Akuntansi Itu Sulit”

Dwiyani mengakui, stigma bahwa akuntansi adalah ilmu yang rumit dan berat membuat minat calon mahasiswa menurun. Namun, pihaknya terus melakukan sosialisasi untuk mengikis anggapan tersebut.

“Kami yakinkan bahwa semua bidang kehidupan pasti berkaitan dengan keuangan. Akuntansi selalu dibutuhkan di berbagai level. Meski ada kekhawatiran digantikan AI, pasti tetap butuh manusia untuk mengoperasikan, mengatur sistem, dan mengontrol,” jelasnya.

Ia menambahkan, kerumitan selama kuliah justru melatih mahasiswa berpikir logis, runut, dan sistematis. “Ini modal berharga di dunia kerja. Tidak hanya soal gaji awal, tetapi kemampuan untuk terus naik level,” pungkas Dwiyani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *