Indonesiandaily.com – Anies Rasyid Baswedan SE MPP PhD menyampaikan bahwa bangsa Indonesia membutuhkan orang-orang yang berintegritas. Hal tersebut ia sampaikan saat hadir di masjid Raden Patah (MRP) Universitas Brawijaya. Dalam acara tarawih spesial bertajuk Meneguhkan Hati dan Integrasi di Persimpangan Global.
Dalam kesempatan tersebut Anies menekankan bahwa Indonesia mengalami defisit integritas. Menurutnya integritas ini menjadi persoalan tersendiri di negara ini. Ia menekankan jangan membayangkan integritas urusan nanti kalau sudah punya posisi.
“Tapi integritas mulainya di rumah, di kampus, di organisasi. Integritas itu dibiasakan, memimpin tanpa memanfaatkan jabatan, menulis laporan dengan jujur, dan menepati janji,” ujarnya, Selasa (10/03).
Dalam pandangannya, bangsa ini butuh orang-orang berintegritas yang memiliki stamina fisik, moral, dan intelektual yang kuat. Menurut pengalamannya, melewati jalan lurus bisa melelahkan, kalah, bahkan gagal.
“Tapi, disitu sesungguhnya kita ditempa dan di glembeng untuk meneguhkan diri,” tambah Anies.
Setelah menyampaikan kalimat pembuka, Anies melanjutkan sesi berdialog dengan audiens. Tidak sedikit audiens yang mengutarakan keresahannya dan mencoba menemukan. Keresahan pertama terkait gelombang besar informasi di media sosial yang menimbulkan kebingungan hati.
“Benteng terkuat menghadapi banjir informasi dan disinformasi yakni berpikir kritis. Orang menyebarkan hoax karena informasi yang didapat tidak dikritisi. Kemampuan berpikir kritis menjadi kapasitas pembelajaran di masa depan. Orang yang berpikir kritis akan melihat sesuatu dari sisi lain, memunculkan pertanyaan yang jujur dan tidak terpikirkan,” jawab Anies.
Keresahan kedua mengenai bagaimana meneguhkan hati di dunia kerja yang mungkin jauh dari kata integritas. Anies membagikan sebuah rumus untuk menjawab hal ini.
K (kepercayaan) = K1 (kompetensi) + I (Integritas) + K2 (kedekatan) – KP (kepentingan pribadi).
“Seseorang yang berprestasi dan punya integritas yang tinggi, namun mencampurkan kepentingan pribadinya, maka ia akan kehilangan kepercayaan orang lain. Kita diikuti oleh masyarakat karena dipercaya,” tambah Anies.
Keresahan berikutnya, bagaimana menjaga integritas di tengah kriminalisasi, mengingat maraknya peristiwa hukum yang menimpa pejabat publik saat menjalankan tugas.
“Cara melindungi diri dari kriminalisasi yaitu mengikuti SOP. Sehingga, ruang kriminalisasi sangat kecil,” tandasnya.
Di akhir sesi, Anies memberi pesan kepada anak muda untuk memproyeksikan kompetitor sumber daya manusia (SDM) di masa depan dan menggunakan ponsel sebagai alat untuk membangun masa depan.
Di masa mendatang akan terjadi integrasi pasar global. Kompetitor bukan hanya alumni almamater yang sama, tapi dari seluruh dunia. Bahkan lulusan luar negeri yang membawa pengetahuan baru, jaringan global, dan kemampuan berbahasa internasional.
“Sehingga, ayo manfaatkan ponsel ini untuk membangun masa depan, bukan merawat masa lalu,” tutupnya.
