Indonesiandaily.com – Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) berperan aktif dalam peluncuran Lab Teknologi Budaya di kampus Suvarnahumi Thailand.
Adalah Dr. Fitriana Puspita Dewi dosen FIB UB yang berpartisipasi aktif pada Cultural Technology and Social Innovation Lab Launching Ceremony. Acara ini diselenggarakan di Assumption University of Thailand, Kampus Suvarnabhumi, Thailand. Ia menunjukan peran penting dalam pengembangan jejaring akademik internasional di bidang humaniora dan teknologi budaya.
Ia merupakan, dosen Prodi Sastra Jepang sekaligus Ketua Unit Laboratorium Ilmu Humaniora FIB UB. Dalam kesempatan tersebut ia hadir sebagai representasi akademik UB dalam forum internasional yang merupakan bagian dari flagship program UNESCO International Work Station.
Kegiatan ini dilaksanakan melalui kolaborasi strategis antara Assumption University of Thailand dan Peking University, yang melibatkan akademisi dari berbagai perguruan tinggi dunia.
Forum ini dihadiri oleh perwakilan institusi ternama seperti National University of Singapore, Gyeongguk University (Korea Selatan), Shanghai Academy of Social Sciences, University of Hong Kong, hingga Politecnico di Milano.
Kehadiran para akademisi lintas negara tersebut menempatkan FIB UB dalam ekosistem global yang mempertemukan kajian seni, budaya, teknologi digital, dan inovasi sosial.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan peresmian Cultural Technology and Social Innovation Lab pada Sabtu (17/1/2026), dilanjutkan dengan pameran internasional bertajuk “Resonance: China–Thailand Artist International Exchange Exhibition” dan gala dinner.
Sedangkan pada Ahad (18/1/2026), peserta mengikuti kunjungan lapangan ke fasilitas pertanian dan peternakan milik Assumption University di Kanchanaburi sebagai bagian dari eksplorasi penerapan inovasi berbasis budaya dan keberlanjutan.
Agenda berlanjut pada Senin (19/1/2026) melalui International Symposium dan Round Table Discussion yang secara khusus membahas pengembangan program magister dan doktoral di bidang Cultural Technology and Social Innovation.
Cultural Technology and Social Innovation Lab merupakan laboratorium baru di bawah naungan International Work Station UNESCO yang mengintegrasikan seni dan budaya dengan teknologi digital serta isu kesehatan.
Laboratorium ini mengusung empat fokus utama, yakni Artify Village, AI Co-Creator, Digital Immersion, dan Wellness Guardian. Dalam konteks ini, UB memiliki posisi strategis karena menjadi institusi kedua di dunia yang mendirikan International Work Station UNESCO.
Dalam forum tersebut, Prof. Yong (Hardy) Xiang, UNESCO Chair on Creativity and Sustainability in Rural Areas sekaligus Dekan Institute of Cultural Industries Peking University, menyoroti potensi Kota Malang sebagai pusat pengembangan industri kreatif dan media art. Potensi tersebut dinilai sejalan dengan kekuatan akademik UB, khususnya FIB, dalam mengembangkan kajian lintas disiplin berbasis seni, budaya, dan teknologi digital.
Kerja Sama FIB UB dan Peking University ditampilkan di Cultural Technology and Social Innovation Lab.
Kontribusi Dr. Fitriana dalam forum internasional ini juga tidak terlepas dari kiprahnya dalam mendukung program Globalizing UB, melalui pengembangan platform batikpedia.cloud.
Platform ini berfungsi sebagai rumah virtual studi batik Jawa Timur yang memuat basis data batik, galeri virtual, serta aplikasi mobile, dan menjadi contoh konkret implementasi digital humanities yang dikembangkan oleh FIB UB.
Inisiatif tersebut membuka peluang kolaborasi internasional yang lebih luas, khususnya dalam pengembangan humaniora digital berbasis kearifan lokal.
Puncak dari partisipasi ini ditandai dengan penunjukan Dr. Fitriana Puspita Dewi sebagai Advisory Expert pada Cultural Technology and Social Innovation Lab, sekaligus sebagai Supervisor Program Doktor Cultural Technology and Social Innovation hingga tahun 2029.
Penunjukan tersebut mencerminkan kepercayaan komunitas akademik internasional terhadap kapasitas akademisi FIB UB, serta menjadi langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi antara UB, Assumption University of Thailand, dan Peking University.
Melalui keterlibatan aktif dosen FIB UB dalam forum global ini, FIB UB semakin meneguhkan posisinya sebagai pusat pengembangan humaniora yang adaptif terhadap kemajuan teknologi dan dinamika global, sekaligus berkontribusi nyata dalam peningkatan reputasi internasional UB
