UB Menuju Kampus Hijau, Sosialisasikan Program Smart Green Campus

UB Menuju Kampus Hijau, Sosialisasikan Program Smart Green Campus

Indonesiandaily.com – Universitas Brawijaya (UB) selangkah lagi menuju Kampus Hijau. Yakni melalui penguatan Program Smart Green Campus (SGC) 2026. Wujud keseriusan tersebut nampak lewat upaya sosialisasi UPT UB Green Campus kepada pimpinan fakultas.

Seperti yang dijelaskan oleh Ketua Unit Pelaksana Teknis (UPT) UB Green Campus Sri Suhartini bahwa pihaknya mendapat mandat langsung dari Rektor untuk menjadi motor penggerak implementasi prinsip keberlanjutan di kampus ini. UPT ini berperan sebagai motor penggerak implementasi program dan teknologi yang berorientasi pada efisiensi energi dan air. Termasuk juga meminimalisasi limbah dan emisi karbon, pengembangan infrastruktur hijau, biodiversitas..

“Sosialisasi program dilakukan melalui berbagai kanal, seperti media sosial, laman resmi universitas, serta koordinasi langsung dengan unit dan fakultas,” ungkap Sri Suhartini, Senin (19/01/’26).

Dalam sosialisasi ini seluruh pimpinan universitas dan fakultas dilibatkan untuk memastikan implementasi berjalan serempak.

Ia berharap Program Smart Green Campus dapat menghasilkan luaran berupa publikasi ilmiah dan pemberitaan media yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya SDGs 6 (air bersih dan sanitasi layak) dan SDGs 7 (energi bersih dan terjangkau).

Ditambahkan oleh Sekretaris Universitas Brawijaya Dr Tri Wahyu Nugroho bahwa  seluruh fakultas telah mengalokasikan anggaran untuk mendukung implementasi Smart Green Campus. Meski besarannya disesuaikan dengan potensi masing-masing unit.

“Target awal program ini sederhana namun menantang, yakni perubahan perilaku, terutama dalam pemilahan sampah,” ucap Tri.

Beberapa wacana yang tengah disiapkan antara lain penerapan Car Free Day setiap Jumat serta penguatan budaya membawa tumbler pribadi melalui penyediaan water station.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor UB Prof Widodo menegaskan bahwa konsep Green Campus tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan sampah atau kebersihan lingkungan. Melainkan merupakan kebijakan holistik untuk mengubah kultur dan pola pikir sivitas akademika.

Seluruh aktivitas kampus harus mendukung prinsip pembangunan berkelanjutan. Salah satu langkah nyata yang terus didorong UB adalah peralihan sistem administrasi dan pembelajaran dari berbasis kertas ke digital guna menekan limbah serta konsumsi sumber daya alam.

“Ini bukan hanya kewajiban pimpinan atau institusi, melainkan tanggung jawab setiap individu. Semua orang harus berkontribusi membangun keberlanjutan di lingkungan masing-masing,” ujarnya.

Selain digitalisasi, UB juga melakukan transisi penggunaan energi secara bertahap. Dimana sumber listrik di Indonesia mayoritas masih batu bara, maka UB mulai melakukan pergeseran menuju pemanfaatan energi terbarukan secara bertahap.

Selain itu pengelolaan sampah, termasuk limbah laboratorium, juga menjadi agenda utama. UB menargetkan kampus menuju zero waste dengan mengolah limbah menjadi produk bernilai guna, seperti kompos, biogas, hingga bioetanol, yang terintegrasi dengan riset dan inovasi teknologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *