Pusat Studi Islam UMM : Bonus Demografi Justru Bisa Jadi Bencana Indonesia 2045

Pusat Studi Islam UMM : Bonus Demografi Justru Bisa Jadi Bencana Indonesia 2045

Indonesiandaily.com – Pusat Studi Islam Berkemajuan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar diskusi awal tahun. Dalam refleksi tersebut, mengemuka, jika pendidikan dan kesehatan tidak diurus dengan serius. Maka bonus demografi justru bisa berbalik menjadi ancaman atau bencana bagi pembangunan Indonesia Emas 2045.

Seperti yang disampaikan oleh Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Luthfi J. Kurniawan. Ia dalam kesempatan tersebut memberikan peringatan keras atau alarm bahaya terkait bonus demografi.

Menurutnya keberhasilan menuju Indonesia Emas 2045 sangat bergantung pada kemampuan negara membangun sumber daya manusia (SDM) dan kesehatan secara simultan. Tanpa prasyarat tersebut, impian menjadi negara maju hanyalah utopia.

“Jika pendidikan dan kesehatan tidak diurus dengan serius, bonus demografi justru bisa berbalik menjadi ancaman atau bencana bagi pembangunan Indonesia Emas 2045,” ungkap Luthfi Kurniawan.

Dalam pandanganya Indonesia butuh tata kelola pemerintahan yang bersih serta efektif untuk menopang ini, bukan sekadar memanen jumlah penduduk usia produktif tanpa skill yang memadai.

Menyambung kekhawatiran tersebut, pakar sosiologi politik UMM, Abdus Salam, M.Si., mengajak peserta menengok realitas di lapangan yang sering luput dari jargon pembangunan, yakni kemiskinan struktural. Ia membedah persoalan ini dari berbagai sisi yang lebih mikro dan menyentuh akar masalah.

“Kita masih menemui wajah kemiskinan struktural yang nyata. Ada kemiskinan agraria di mana petani tak lagi punya lahan,” ucapnya.

Hingga kemiskinan urban akibat lemahnya struktur industri yang memaksa masyarakat bergantung pada sektor informal. Abdus Salam menilai, ini adalah ‘pekerjaan rumah’ besar yang harus diselesaikan jika ingin bicara soal kemajuan

Dalam kesempatan tersebut, Kepala PSIB UMM, Prof Gonda Yumitro PhD, juga memberikan perspektif yang tajam. Baginya, narasi Indonesia Emas tidak boleh berhenti di podium politik, melainkan harus diuji secara akademis.

“Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak,” ujar Prof Gonda.

Visi besar ini membutuhkan fondasi ilmiah yang kuat dan keberanian melakukan koreksi. Diskusi ini sengaja diarahkan agar tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi akan dirumuskan menjadi book chapter. yakni sebagai rujukan kebijakan bagi pemerintah dalam mengambil langkah strategis.

Diskusi ini sendiri dihadiri puluhan peserta dari berbagai elemen, mulai dari aktivis mahasiswa hingga pegiat literasi. Hingga ditutup dengan komitmen bersama untuk mengawal isu-isu strategis bangsa. PSIB UMM berharap gagasan kritis yang lahir dari forum ini dapat menjadi kontribusi nyata bagi peta jalan Indonesia masa depan

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *