Indonesiandaily.com – Pengalaman belajar di luar negeri menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan sekaligus mengenal budaya dan sistem pendidikan yang berbeda. Kesempatan itu dirasakan 10 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang mengikuti program student mobility di Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Terengganu, Malaysia.
Program yang berlangsung selama satu semester, mulai September 2026 hingga Februari 2027, ini diikuti mahasiswa dari Fakultas Hukum (FH) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Mereka merupakan mahasiswa angkatan 2024 yang menjalani perkuliahan di UniSZA saat memasuki semester lima.
Lima mahasiswa berasal dari FH, yakni Abid Fakhri Immaduddin, Achmad Abidarin Arief, Ken Istifham Ramadhan, Astri Cantikasari Hartono, dan Raya Cikal Larasati. Sementara lima lainnya dari FISIP adalah Palmeda Hersa Putra Abhista, Fachri Faruq Firdian, Maulana Fareid, Safra Zarwandah, dan Cut Faiza Dzikrillah.
Salah satu peserta, Abid Fakhri Immaduddin, mengungkapkan bahwa program tersebut memberinya kesempatan merasakan langsung atmosfer pendidikan tinggi di lingkungan internasional. Tidak hanya mengikuti perkuliahan, ia juga belajar memahami kebiasaan, budaya, serta etika akademik yang berlaku di Malaysia.
“Saya tertarik mengikuti program ini karena ingin mendapatkan pengalaman belajar di lingkungan internasional, khususnya di negara yang memiliki persamaan sekaligus perbedaan dengan Indonesia,” ungkap Abid.
Belajar Beradaptasi dengan Lingkungan Akademik Baru
Selama menjalani perkuliahan, Abid menemukan sejumlah perbedaan dalam pola interaksi dan kegiatan akademik. Beberapa mata kuliah di UniSZA dilaksanakan secara daring maupun luring. Budaya komunikasi serta etika di lingkungan kampus juga memberikan pengalaman baru bagi para mahasiswa.
Meski Indonesia dan Malaysia memiliki kedekatan bahasa serta budaya, kehidupan sebagai mahasiswa di negara lain tetap menghadirkan tantangan tersendiri. Mereka harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan cara berinteraksi yang berbeda.
Pengalaman tersebut justru menjadi ruang pembelajaran di luar materi perkuliahan. Abid mengaku semakin memahami pentingnya keterbukaan dan kemampuan menghargai perbedaan ketika berada di lingkungan baru.
“Dari situ, saya belajar untuk lebih terbuka, menghargai perbedaan, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru,” tuturnya.
Manfaatkan Kuliah di Malaysia untuk Riset Hukum Komparatif
Pengalaman di UniSZA juga dimanfaatkan Abid untuk memperdalam pengetahuan akademik. Bersama rekannya, ia mengimplementasikan materi Metode Penelitian Hukum (MPH) yang sebelumnya dipelajari di UMM melalui tugas membandingkan sistem hukum Indonesia dan Malaysia.
Aktivitas tersebut memberikan kesempatan untuk melihat persoalan hukum dari perspektif dua negara. Dengan mempelajari sistem hukum di lingkungan yang berbeda, mahasiswa dapat memperkaya pemahaman sekaligus menghubungkan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan konteks nyata.
Bagi Abid, pengalaman akademik lintas negara membuktikan bahwa proses belajar tidak terbatas pada ruang kelas. Interaksi dengan lingkungan baru, perbedaan budaya, serta kesempatan berdiskusi menjadi bagian penting dalam membangun pola pikir yang lebih luas.
“Program seperti ini bukan hanya tentang belajar di universitas lain, tetapi juga tentang bagaimana kita beradaptasi, memahami perbedaan, dan melihat suatu persoalan dari perspektif yang lebih luas,” pungkasnya.
Melalui program student mobility ini, mahasiswa UMM mendapatkan pengalaman yang tidak hanya memperkaya kompetensi akademik, tetapi juga melatih kemandirian, kemampuan beradaptasi, dan perspektif global sebagai bekal menghadapi tantangan setelah lulus kuliah.



