Dari Sastra Inggris ke Panggung Bisnis Brunei, Perjuangan Shandyka Berbuah Best Pitching Group

Dari Sastra Inggris ke Panggung Bisnis Brunei, Perjuangan Shandyka Berbuah Best Pitching Group

Indonesiandaily.com – Perjalanan Shandyka Naraya Sukma ke Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, bukan sekadar perjalanan mengikuti workshop internasional. Bagi mahasiswa semester VIII Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu, empat hari di negeri jiran menjadi ruang untuk menguji keberanian, kemampuan berkomunikasi, sekaligus belajar melihat dunia bisnis dari sudut pandang yang berbeda.

Mahasiswa asal Ketapang, Kalimantan Barat, tersebut menjadi bagian dari peserta Bengkel Keusahawanan Belia Islam MABIMS 2026 yang berlangsung pada 17–20 Agustus 2026.

Pengalaman itu berujung manis. Bersama kelompoknya, Shandyka berhasil meraih 1st Place for Best Pitching Group.

Namun, capaian tersebut bukan satu-satunya hal yang ia bawa pulang. Di balik penghargaan itu ada pengalaman bekerja dalam tim, menyatukan gagasan dengan peserta dari latar belakang berbeda, hingga keberanian menyampaikan ide dalam forum internasional.

“Workshop yang sangat memberikan dampak yang baik serta berguna, terkhusus untuk anak muda yang penuh ambisi mengenai dunia bisnis,” kata Shandyka.

Ia mengaku bersyukur mendapat kesempatan mewakili Indonesia dalam kegiatan tersebut. Baginya, pertemuan dengan anak muda dari berbagai negara membuat cara pandangnya terhadap banyak hal ikut berubah.

“Saya merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari peserta untuk mewakili Indonesia. It changes and gives me many perspectives about many things,” ujarnya.

Berangkat dari Sastra Inggris, Masuk ke Dunia Bisnis 

Latar belakang Shandyka sebagai mahasiswa Sastra Inggris membuat pengalaman tersebut menjadi semakin menarik. Selama kuliah, ia akrab dengan bahasa, sastra, komunikasi, dan kajian humaniora.

Di Brunei, kemampuan itu dibawa ke ruang yang berbeda: kewirausahaan.

Ia bersama anggota kelompok harus mengembangkan gagasan, menyusun konsep, membagi peran, lalu mengemas ide tersebut agar dapat dipahami dan meyakinkan ketika dipresentasikan.

Di titik itu, kemampuan komunikasi tidak lagi sekadar menjadi bagian dari pembelajaran di kelas. Kemampuan menyampaikan gagasan menjadi bagian penting dalam menentukan bagaimana sebuah ide diterima orang lain.

Apalagi, pitching dilakukan dalam lingkungan internasional.

Setiap peserta datang dengan pengalaman, kebiasaan, dan cara berpikir yang berbeda. Perbedaan tersebut justru menjadi bagian dari proses belajar Shandyka selama mengikuti program.

Ketika Ide Harus Diperjuangkan 

Meraih predikat Best Pitching Group juga tidak berhenti pada soal memiliki ide yang menarik.

Sebuah gagasan harus mampu dijelaskan secara sederhana. Persoalan yang ingin diselesaikan harus terlihat, nilai yang ditawarkan perlu dipahami, dan setiap anggota kelompok harus mampu memainkan perannya.

Proses itu menuntut komunikasi dan kerja sama.

Shandyka tidak bekerja sendiri. Ia harus menyatukan pemikiran dengan anggota kelompoknya hingga menghasilkan satu gagasan yang dapat disampaikan secara utuh.

Dari proses tersebut, ia belajar bahwa keberhasilan sebuah tim tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu.

Kemampuan mendengarkan, menerima perbedaan pendapat, membagi tugas, dan menyatukan perspektif menjadi bagian penting sebelum seseorang berdiri di depan forum untuk mempresentasikan gagasannya.

Pengalaman itulah yang membuat penghargaan Best Pitching Group memiliki cerita tersendiri bagi Shandyka.

Belajar dari Empat Negara

Bengkel Keusahawanan Belia Islam MABIMS 2026 mempertemukan generasi muda dari Indonesia, Malaysia, Uganda, dan Brunei Darussalam.

Program tersebut diselenggarakan Kementerian Hal Ehwal Ugama atau Ministry of Religious Affairs Brunei Darussalam bekerja sama dengan Brunei Economic Development Board (BEDB).

Pertemuan lintas negara itu membuat proses belajar tidak hanya berlangsung melalui materi workshop. Diskusi, kerja kelompok, percakapan informal, hingga pertukaran pengalaman menjadi bagian dari pembelajaran.

Bagi Shandyka, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kewirausahaan tidak mengenal batas disiplin ilmu maupun negara.

Sementara itu, kemampuan bahasa yang selama ini ia pelajari di bangku kuliah mendapatkan ruang penggunaan yang lebih luas. Bahasa menjadi jembatan untuk berkomunikasi, membangun relasi, memahami perspektif orang lain, dan bekerja bersama orang-orang dari latar belakang berbeda.

Membawa Pulang Perspektif Baru 

Bengkel Keusahawanan Belia Islam MABIMS 2026 merupakan bagian dari upaya mendukung fokus strategis “Potensi Belia” dalam Rancangan Strategik MABIMS 2026–2030, khususnya dalam penguatan program pemberdayaan generasi muda Islam MABIMS.

Bagi Shandyka, pemberdayaan itu terasa melalui pengalaman langsung. Ia tidak hanya menerima materi mengenai kewirausahaan, tetapi juga diberi ruang untuk berkolaborasi, menguji gagasan, dan merasakan bagaimana sebuah ide dipertanggungjawabkan di hadapan orang lain.

Dari Bandar Seri Begawan, Shandyka akhirnya pulang dengan lebih dari sekadar penghargaan.

Ia membawa pengalaman tentang bagaimana bekerja dengan orang yang berbeda, bagaimana sebuah ide diperjuangkan bersama, dan bagaimana kemampuan komunikasi dapat membuka ruang yang lebih luas.

Bagi mahasiswa Sastra Inggris, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa ruang tumbuh seorang mahasiswa tidak selalu berhenti pada disiplin ilmu yang dipelajarinya.

Bahasa, komunikasi, keberanian, kreativitas, dan kemampuan memahami orang lain dapat menjadi bekal untuk memasuki banyak ruang profesional.

Dan bagi Shandyka, perjalanan itu menjadi satu langkah penting untuk melihat bahwa setelah bangku kuliah nanti, masih terbuka banyak kemungkinan yang bisa ia perjuangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *