Dari Kebun ke Green Bean, Mahasiswa UMM Bantu Petani Klampok Tingkatkan Nilai Kopi

Dari Kebun ke Green Bean, Mahasiswa UMM Bantu Petani Klampok Tingkatkan Nilai Kopi

Indonesiandaily.com – Petani kopi di Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, selama ini lebih banyak menjual buah kopi segar kepada pengepul. Keterbatasan fasilitas pascapanen membuat mereka belum leluasa mengolah hasil kebun menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.

Situasi itu coba diubah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK ORMAWA), Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Peternakan (BEM FPP) UMM membawa teknologi fermentasi ke tengah Kelompok Tani Hutan (KTH) Wono Klampok Lestari.

Program yang berlangsung Juni hingga Oktober 2026 itu tidak sekadar membuat alat. Mahasiswa berupaya membangun kemampuan petani agar bisa mengolah kopi sendiri, mengontrol proses fermentasi, sekaligus membuka jalur pemasaran yang lebih luas.

Ketua Pelaksana PPK ORMAWA BEM FPP UMM, Moh. Amir Muktar, mengatakan gagasan tersebut muncul setelah tim turun langsung menemui petani dan menggelar Focus Group Discussion (FGD).

Dari pertemuan itu, mahasiswa menemukan persoalan utama berada pada keterbatasan teknologi dan fasilitas pengolahan pascapanen.

“Petani menyadari posisi tawar mereka sangat lemah karena terpaksa menjual buah kopi segar ke pengepul,” kata Amir.

Harga yang diterima petani saat menjual buah kopi segar berada di kisaran Rp15.000 per kilogram untuk robusta dan Rp20.000 per kilogram untuk arabika.

Bagi mahasiswa, kondisi tersebut menunjukkan persoalan petani bukan semata pada produksi. Nilai ekonomi kopi juga sangat ditentukan oleh apa yang dilakukan setelah buah dipanen.

Membawa Fermentasi Terkontrol ke Kebun Kopi 

Tim BEM FPP UMM kemudian memperkenalkan Smart Multifunctional Fermentor dengan Sistem Karbonasi Terkontrol.

Perangkat tersebut memanfaatkan injeksi gas CO2 untuk menciptakan kondisi anaerob dalam proses fermentasi. Suhu dan tingkat keasaman atau pH juga dipantau menggunakan sensor.

Dengan sistem itu, proses fermentasi diharapkan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada perkiraan manual. Petani dapat memperoleh parameter yang lebih terukur ketika mengolah buah kopi.

Teknologi tersebut dapat digunakan untuk sejumlah metode pascapanen, antara lain natural anaerob, honey anaerob, hingga carbonic maceration.

Bagi petani, perubahan proses tersebut penting karena hasil akhirnya bukan lagi sekadar buah kopi yang cepat dijual, melainkan green bean yang memiliki karakter dan mutu lebih terukur.

Amir menyebut metode carbonic maceration berpotensi menghasilkan kopi dengan cupping score di atas 80. Jika kualitas tersebut dapat dicapai secara konsisten, nilai jual kopi juga berpeluang meningkat.

“Harga jualnya berpotensi mencapai Rp350.000 per kilogram,” ujarnya.

Angka tersebut merupakan potensi harga berdasarkan kualitas yang ditargetkan, bukan harga yang otomatis diterima petani. Karena itu, konsistensi mutu dan kemampuan pemasaran menjadi bagian penting dari program.

Mahasiswa Tak Berhenti di Pembuatan Alat 

Program tersebut tidak berhenti setelah fermentor selesai dibuat.

Mahasiswa memberikan pelatihan dan pendampingan kepada kelompok tani, mulai dari pengoperasian teknologi, praktik pengolahan, evaluasi proses hingga penguatan kelembagaan.

Langkah itu dilakukan agar teknologi tidak menjadi alat yang hanya digunakan selama program berlangsung.

Koperasi Wonokerto Rahayu juga dilibatkan sebagai mitra dalam jalur pemasaran. Kolaborasi tersebut diharapkan membantu menghubungkan hasil pengolahan petani dengan pasar yang lebih luas.

Dengan pola tersebut, mahasiswa mencoba membangun mata rantai yang lebih lengkap. Petani tidak hanya didorong menghasilkan kopi, tetapi juga memahami proses pascapanen, menjaga mutu, dan menyiapkan akses pasar.

Dari Laboratorium ke Persoalan Desa 

Dosen pendamping PPK ORMAWA BEM FPP UMM, Afifa Husna, S.TP., M.TP., M.Sc., mengatakan program di Klampok menjadi ruang belajar bagi mahasiswa sekaligus masyarakat.

Mahasiswa berhadapan langsung dengan persoalan yang tidak selalu bisa ditemukan di ruang kuliah. Mereka harus merancang solusi, menjelaskan teknologi kepada masyarakat, mengelola kegiatan, sekaligus memastikan alat dapat diterapkan di lapangan.

“Mahasiswa bisa langsung terjun ke masyarakat untuk memberikan solusi terhadap masalah yang benar-benar terjadi,” kata Afifa.

Menurut dia, potensi Desa Klampok masih dapat dikembangkan lebih jauh. Sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki desa menjadi modal untuk membangun kegiatan ekonomi berbasis potensi lokal.

Kopi menjadi salah satu pintu masuknya.

Jika teknologi fermentasi tersebut mampu diterapkan secara berkelanjutan, petani tidak lagi hanya bergantung pada penjualan buah kopi segar. Mereka memiliki pilihan untuk mengolah sebagian hasil panen, menjaga kualitas, dan mengejar nilai tambah dari produk yang dihasilkan.

Di titik itulah program mahasiswa UMM menemukan makna yang lebih besar: teknologi bukan sekadar alat baru di tengah kebun kopi, tetapi upaya memberi petani lebih banyak pilihan atas hasil panennya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *