Dari Biologi UB ke BRIN, Farida Rahayu Tekuni Riset Rekayasa Genetika

Dari Biologi UB ke BRIN, Farida Rahayu Tekuni Riset Rekayasa Genetika

Indonesiandaily.com – Pilihan menekuni dunia penelitian membawa Farida Rahayu, alumni Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Maju (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) lulusan 2000, menempuh perjalanan karier hingga menjadi Peneliti Ahli Madya di Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN.

Farida bergabung dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) setelah lembaga tersebut berdiri pada 2021. Setahun kemudian, pada 2022, ia mulai terintegrasi dalam ekosistem penelitian BRIN.

Perjalanan itu bukan berarti memulai karier dari awal. Sebelumnya, Farida telah menjalani profesi sebagai peneliti di lingkungan Kementerian Pertanian. Dalam menjalankan tugas penelitian, ia juga berada dalam pembinaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Perubahan kelembagaan kemudian membuat perjalanan kariernya memasuki babak baru. LIPI menjadi bagian dari BRIN, sementara para peneliti yang sebelumnya berada di kementerian diberi pilihan untuk melanjutkan jalur fungsional sebagai peneliti atau beralih menjadi staf.

“Kalau saya kan sebagai peneliti dulu di Kementan. Pembinaannya tetap di LIPI, yang kemudian berpindah menjadi BRIN,” ujar Farida.

Bukan Sekadar Pindah Institusi 

Bagi Farida, menjadi peneliti di BRIN bukan semata soal perubahan nama lembaga. Aktivitas utama tetap sama, yakni melakukan penelitian dan menghasilkan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan.

Perbedaannya lebih terasa pada ekosistem penelitian yang terintegrasi. BRIN menghimpun peneliti dari berbagai bidang dalam satu institusi, sehingga akses terhadap sumber daya dan jejaring keilmuan menjadi lebih luas.

“Kalau di BRIN, berbagai macam peneliti ada di situ,” katanya.

Menurut Farida, kondisi tersebut membuat BRIN menjadi salah satu pintu bagi pihak luar yang membutuhkan keahlian peneliti tertentu. Peneliti dari beragam disiplin tersedia dalam satu ekosistem, mulai dari bidang sains, antariksa, ekonomi hingga bidang lainnya.

Fasilitas Laboratorium Lebih Terfasilitasi 

Salah satu perubahan yang paling dirasakan Farida adalah dukungan terhadap aktivitas penelitian, terutama dari sisi fasilitas laboratorium.

Sebagai peneliti di bidang yang berkaitan dengan rekayasa genetika, keberadaan fasilitas penelitian menjadi bagian penting dalam menunjang pekerjaan sehari-hari. Menurutnya, fasilitas yang tersedia di BRIN memberikan dukungan yang lebih terintegrasi bagi peneliti.

“Kalau sisi laboratorium, pastinya lebih terfasilitasi kalau di BRIN,” ujarnya.

Sementara dari sisi penghasilan, Farida menjelaskan bahwa status peneliti pada dasarnya tetap memiliki komponen penghasilan yang berkaitan dengan jabatan fungsional dan tunjangan kinerja.

“Salary sebenarnya sama. Ada tunjangan fungsional peneliti dan tunjangan kinerja,” katanya.

Namun, besaran tunjangan kinerja dapat mengalami perubahan seiring kebijakan dan perkembangan institusi. Farida menyebut dukungan kesejahteraan bagi peneliti di BRIN kini menjadi salah satu bagian yang menarik dalam pilihan menekuni karier penelitian.

Dari Kampus ke Dunia Riset 

Dua dekade lebih setelah menyelesaikan pendidikan di Departemen Biologi UB, perjalanan Farida menunjukkan bahwa karier lulusan biologi tidak berhenti pada ruang kelas maupun laboratorium kampus.

Dari bangku kuliah, ia melanjutkan langkah ke dunia penelitian hingga kini berkutat pada riset rekayasa genetika. Perubahan kelembagaan penelitian nasional pun menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya.

Saat ini, Farida menjalankan aktivitas penelitian di fasilitas BRIN yang berada di Purwadadi. Sebelumnya, terdapat kebijakan pemusatan aktivitas peneliti di kawasan Cibinong.

Perjalanan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana seorang alumni dapat terus berkembang mengikuti perubahan lanskap penelitian nasional, tanpa meninggalkan akar keilmuan yang dibangun sejak menjadi mahasiswa Biologi UB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *