UIN Malang Miliki Tradisi Penguatan Spiritual dengan Wisuda 155 Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an

UIN Malang Miliki Tradisi Penguatan Spiritual dengan Wisuda 155 Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an

Indonesiandaily.com – Tradisi penguatan spiritual di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang terus dijaga melalui program Tahfizh Al-Qur’an (HTQ). Tahun ini, sebanyak 155 mahasiswa penghafal Al-Qur’an mengikuti Wisuda Tahfizh Al-Qur’an ke-18, Kamis (3/9/2026).

Wisuda tersebut bukan sekadar seremoni penghargaan bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan target hafalan. Bagi UIN Malang, tahfizh menjadi bagian dari upaya membangun mahasiswa yang memiliki keseimbangan antara kemampuan akademik, spiritualitas, dan karakter.

Slider Ucapan HUT RI

Para wisudawan berasal dari sejumlah jenjang hafalan. Sebanyak 32 mahasiswa berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz. Dari jumlah tersebut, empat merupakan mahasiswa putra dan 28 mahasiswa putri.

Sementara itu, enam mahasiswa tercatat menghafal 25 juz, 30 mahasiswa mencapai 20 juz, 32 mahasiswa mencapai 15 juz, 36 mahasiswa mencapai 10 juz, dan 19 mahasiswa menyelesaikan hafalan lima juz.

Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., mengatakan perjalanan menghafal Al-Qur’an tidak dapat dilepaskan dari proses pendampingan yang panjang.

Para muallim dan muallimah menjadi bagian penting dalam menjaga konsistensi mahasiswa. Mereka mendampingi proses setoran hafalan, melakukan koreksi, hingga menemani mahasiswa melakukan murojaah.

Menurut Ilfi, proses tersebut membutuhkan kesabaran dan waktu yang tidak sedikit. Pembimbing tahfizh harus berulang kali menyimak hafalan mahasiswa untuk memastikan ayat yang telah dihafalkan tetap terjaga.

“Para muallim dan muallimah telah memberikan pengabdian yang luar biasa. Mereka duduk berjam-jam, mendampingi anak-anak kita murojaah, menjaga hafalan mereka, dan melakukannya dengan penuh kesabaran,” kata Ilfi.

Hafalan 30 Juz Didominasi Mahasiswa Putri

Komposisi wisudawan tahun ini juga menjadi perhatian Rektor UIN Malang. Dari 32 mahasiswa yang berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz, hanya empat mahasiswa putra yang mencapai capaian tersebut.

Sebanyak 28 mahasiswa lainnya merupakan mahasiswa putri.

Ilfi berharap capaian tersebut dapat menjadi pemantik bagi mahasiswa putra untuk meningkatkan semangat dalam menghafal dan menjaga Al-Qur’an.

“Ini menjadi motivasi bagi mahasiswa putra. Semoga ke depan semakin banyak anak-anak kita yang ingin menjaga Al-Qur’an dalam hafalan, ingatan, dan kehidupannya,” ujarnya.

Ia juga meminta mahasiswa yang baru mencapai hafalan lima hingga 25 juz agar tidak berhenti pada capaian tersebut. Hafalan yang telah diperoleh diharapkan terus ditambah hingga mencapai 30 juz.

Tidak Berhenti pada Hafalan

Bagi UIN Malang, tradisi tahfizh tidak hanya berbicara mengenai jumlah ayat yang mampu diingat mahasiswa.

Ilfi mengingatkan para wisudawan bahwa hafalan Al-Qur’an harus menjadi fondasi dalam menghadapi perubahan zaman. Generasi muda menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan gaya hidup hingga derasnya arus informasi.

Karena itu, kemampuan menghafal harus berjalan beriringan dengan proses memahami kandungan Al-Qur’an.

“Hafalan Al-Qur’an tidak boleh berhenti hanya pada kemampuan mengingat ayat. Anak-anak harus terus belajar, memahami, dan mampu mengambil hikmah dari Al-Qur’an,” tegasnya.

Ilfi mencontohkan kisah Nabi Musa AS yang terdapat dalam berbagai bagian Al-Qur’an. Kisah tersebut tidak sekadar menyajikan rangkaian peristiwa masa lalu, tetapi menghadirkan pesan dan hikmah yang dapat menjadi pelajaran bagi kehidupan.

Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya untuk dihafalkan. Kandungannya perlu dipelajari dan dipahami agar dapat menjadi pedoman ketika menghadapi persoalan kehidupan.

“Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafalkan. Al-Qur’an harus dipelajari, dipahami, dan diambil ibrahnya untuk menghadapi persoalan kehidupan hari ini,” jelasnya.

Wisuda Bukan Akhir Perjalanan

Ilfi juga mengingatkan para wisudawan agar tidak menjadikan wisuda sebagai titik akhir perjalanan tahfizh.

Justru setelah prosesi tersebut, muncul tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga hafalan sekaligus mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, berbagai pencapaian duniawi seperti jabatan, popularitas, dan materi tidak selalu menjadi ukuran keberhasilan seseorang.

“Biarkan dunia sibuk menghitung pencapaiannya, sementara kalian sibuk menambah hafalan. Sebab ada keberhasilan yang tidak diukur dengan jabatan, tetapi dengan ayat-ayat yang melekat dalam ingatan, hati, dan sanubari,” pesan Ilfi.

Ia juga meminta para orang tua terus memberikan dukungan agar hafalan putra-putri mereka tetap terjaga.

Bagi 155 mahasiswa yang mengikuti Wisuda Tahfizh Al-Qur’an ke-18, capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan akademik sekaligus spiritual selama menempuh pendidikan di UIN Malang.

Tradisi tahfizh yang terus berlangsung menunjukkan bahwa pengembangan mahasiswa di UIN Malang tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik. Penguatan spiritual dan pembentukan karakter juga ditempatkan sebagai bagian penting dalam proses pendidikan.

Kini, 155 hafizh dan hafizhah tersebut menghadapi tantangan berikutnya: menjaga hafalan, memahami pesan Al-Qur’an, serta menerjemahkannya dalam sikap dan kehidupan.

Dengan demikian, wisuda bukan menjadi akhir dari perjalanan tahfizh, melainkan awal dari amanah untuk membuat ayat-ayat yang telah dihafalkan tetap hidup dalam hati, pemahaman, dan perbuatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *