PIONALA Farmasi FKIK UIN Malang Pacu Kemampuan Komunikasi Kesehatan Lewat MENTION 2026

PIONALA Farmasi FKIK UIN Malang Pacu Kemampuan Komunikasi Kesehatan Lewat MENTION 2026

Indonesiandaily.com – PIONALA Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terus memacu kemampuan komunikasi kesehatan anggotanya.

Penguatan tersebut dilakukan melalui MENTION 2026 (Pelatihan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi/KIE dalam Praktik Pengabdian Masyarakat).

Slider Ucapan HUT RI

Mengusung tema “Community Service Preparation for Meaningful Social Impact”, kegiatan ini menjadi ruang pembekalan bagi anggota PIONALA Farmasi sebelum terjun langsung dalam program pengabdian masyarakat.

MENTION 2026 digelar Sabtu (27/6/2026) di Ruang Kelas Apoteker Lantai 3, Gedung Ibnu Sina FKIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut diikuti seluruh anggota PIONALA Farmasi periode 2025/2026.

Pacu Kemampuan Komunikasi Kesehatan

MENTION 2026 dirancang tidak hanya untuk memperkuat wawasan kesehatan. Lebih dari itu, kegiatan ini mendorong anggota PIONALA agar mampu mengomunikasikan informasi kesehatan secara efektif kepada masyarakat.

Kemampuan tersebut menjadi penting dalam kegiatan pengabdian. Sebab, pengetahuan kesehatan harus dapat diterjemahkan menjadi informasi yang sederhana, komunikatif, dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Melalui pelatihan KIE, anggota PIONALA dibekali keterampilan membangun komunikasi, menyampaikan informasi, melakukan edukasi, hingga beradaptasi ketika berhadapan dengan masyarakat.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana pengembangan soft skills. Mulai dari kemampuan komunikasi, negosiasi, hingga membangun interaksi dengan berbagai karakter audiens.

Alma Nuril Tekankan Pentingnya Bahasa yang Mudah Dipahami

Pembekalan dalam MENTION 2026 disampaikan Apt. Alma Nuril Aliyah, M.Farm.

Ia menekankan bahwa keberhasilan pengabdian masyarakat tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas pengetahuan kesehatan yang dimiliki.

Kemampuan menyampaikan pesan kesehatan dengan cara yang tepat juga menjadi faktor penting agar informasi dapat diterima masyarakat.

“Keberhasilan suatu kegiatan pengabdian tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan kesehatan yang dimiliki, tetapi juga kemampuan menyampaikan informasi secara sederhana, mudah dipahami, serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat sehingga pesan kesehatan dapat diterima dan diterapkan dengan baik,” ujar Alma.

Pesan tersebut menjadi salah satu poin penting dalam MENTION 2026. Anggota PIONALA didorong untuk tidak menggunakan pendekatan komunikasi yang terlalu akademis ketika memberikan edukasi kepada masyarakat.

Sebaliknya, informasi kesehatan perlu dikemas dengan bahasa yang sederhana tanpa menghilangkan ketepatan substansi.

Kesehatan Pesantren Jadi Materi Praktik KIE

Untuk memperkuat kemampuan peserta, materi KIE dikaitkan dengan isu kesehatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Salah satunya melalui materi Kesehatan Lingkungan Pesantren.

Peserta diajak memahami berbagai faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan penghuni pesantren. Di antaranya kepadatan hunian, kebersihan kamar, sanitasi, ventilasi, serta kebiasaan hidup sehari-hari.

Berbagai penyakit yang kerap dijumpai di lingkungan pesantren juga dibahas. Mulai dari skabies, pedikulosis atau kutu rambut, hingga diare.

Pembahasan mencakup penyebab, gejala, cara penularan, pencegahan, dan penanganannya.

Peserta juga memperoleh materi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), personal hygiene pada masa pubertas, serta kebersihan organ reproduksi.

Tidak kalah penting, peserta dibekali kemampuan menyampaikan edukasi mengenai berbagai perubahan fisiologis pada masa pubertas.

Materi tersebut meliputi menstruasi, mimpi basah, bau badan, jerawat, hingga perubahan emosi.

Tak Hanya Mendengar, Peserta Langsung Praktik

PIONALA Farmasi FKIK UIN Malang tidak menjadikan MENTION 2026 sebatas kegiatan penyampaian materi.

Setelah sesi pembekalan, perwakilan anggota PIONALA melakukan praktik KIE secara langsung.

Peserta melakukan simulasi seolah sedang memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Mereka dituntut mampu menguasai materi sekaligus membangun komunikasi yang efektif dengan audiens.

Pemateri kemudian memberikan evaluasi terhadap penampilan peserta.

Aspek yang diperhatikan meliputi cara penyampaian, penguasaan materi, penggunaan bahasa, sikap, hingga kemampuan berinteraksi dengan audiens.

Evaluasi tersebut menjadi bagian penting untuk membantu peserta memahami bagaimana teknik KIE yang efektif diterapkan dalam kondisi nyata.

Bekal Menuju Pengabdian yang Berdampak

Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Anggota PIONALA aktif mengikuti diskusi dan tanya jawab bersama pemateri.

Melalui MENTION 2026, PIONALA Farmasi FKIK UIN Malang ingin memastikan anggotanya tidak hanya memiliki kompetensi akademik.

Mereka juga harus mampu menjadi komunikator kesehatan yang dapat menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat.

Kemampuan komunikasi tersebut diharapkan memperkuat pelaksanaan program pengabdian masyarakat. Edukasi kesehatan yang diberikan pun diharapkan lebih mudah dipahami dan diterapkan.

MENTION 2026 akhirnya menjadi salah satu langkah PIONALA Farmasi FKIK UIN Malang dalam menyiapkan anggota yang profesional, edukatif, adaptif, dan mampu memberikan dampak sosial.

Dengan memperkuat kemampuan komunikasi kesehatan, PIONALA Farmasi FKIK UIN Malang mendorong ilmu farmasi tidak berhenti di ruang kelas, tetapi hadir dan memberi manfaat nyata di tengah masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *