Indonesiandaily.com – Pondok pesantren tidak lagi hanya menjadi ruang pembelajaran agama. Di Pondok Pesantren Mambaul Abyad, Wajak, Kabupaten Malang, para santri mulai dikenalkan dengan teknologi untuk membangun kemandirian pangan.
Universitas Negeri Malang (UM) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) menghadirkan sistem aquaponik yang terintegrasi dengan Internet of Things (IoT).
Program yang berlangsung Juni hingga Agustus 2026 ini memadukan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem. Lebih dari itu, aquaponik dijadikan laboratorium praktik bagi santri untuk menguasai teknologi sekaligus keterampilan produktif.
Langkah awal dilakukan pada Juni 2026. Tim PkM UM berkoordinasi dengan pengurus Pondok Pesantren Mambaul Abyad, Syarif Hidayatullah, M.Pd., dan jajaran pengurus lainnya.
Koordinasi dilakukan untuk memetakan kebutuhan pesantren, kondisi lingkungan, kesiapan sarana, hingga desain teknologi yang paling sesuai.
Setelah persiapan dilakukan, instalasi aquaponik mulai dipasang pada 29 Juli 2026.
Sistem tersebut memanfaatkan sirkulasi air untuk menghubungkan budidaya ikan dengan tanaman. Air yang mengandung nutrien dari kolam ikan dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman seperti selada dan pakcoy.
Konsep ini membuat lahan pesantren dapat dimanfaatkan secara lebih produktif. Penggunaan air juga menjadi lebih efisien karena berlangsung dalam sistem sirkulasi.
Namun, sasaran utama program ini bukan sekadar menghasilkan ikan dan sayuran.
UM ingin menjadikan aquaponik sebagai ruang belajar teknologi bagi para santri.
Santri Dilatih Membaca Data IoT
Transformasi pembelajaran semakin terlihat saat UM menggelar edukasi dan pelatihan IoT aquaponik pada 18 Agustus 2026.
Pengelola dan santri tidak hanya diperkenalkan dengan teori aquaponik. Mereka langsung belajar mengoperasikan instalasi, merawat ikan dan tanaman, hingga memantau kondisi sistem menggunakan teknologi IoT.
Santri dilatih memantau sejumlah parameter penting. Mulai dari pH, suhu, ketinggian air hingga aliran air.
Mereka juga belajar mengenali ketika sistem mengalami kondisi tidak normal. Dari data yang dipantau, santri diarahkan untuk menentukan tindakan yang diperlukan.
Pola pembelajaran ini membuat teknologi tidak berhenti sebagai perangkat yang dipasang di lingkungan pesantren.
Santri justru didorong menjadi pihak yang mampu mengoperasikan, membaca kondisi, dan merawat teknologi tersebut secara mandiri.
Dari Aquaponik Menuju Wirausaha Santri
Tim PkM UM juga menyiapkan sistem pengelolaan agar aquaponik dapat terus berjalan setelah program pengabdian berakhir.
Sejumlah perangkat pendukung disiapkan. Di antaranya standar operasional prosedur (SOP), kalender masa tanam dan panen, serta pembagian tugas pengelolaan.
Aquaponik juga diarahkan menjadi sarana pengembangan life skill, literasi teknologi, dan agropreneurship.
Ke depan, sistem akan dikembangkan untuk meningkatkan kapasitas produksi. Data IoT juga akan dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan aquaponik.
Hasil panen bahkan berpeluang dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif pesantren.
“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada KEMENDIKTISAINTEK yang telah memberikan Grant Program Pengabdian kepada Masyarakat,” ujar Tim PkM UM.
Program ini sekaligus memperlihatkan bagaimana teknologi dapat diterapkan dalam lingkungan pesantren untuk menjawab kebutuhan nyata.
Bukan hanya soal menanam sayuran atau memelihara ikan, tetapi membangun kemampuan santri agar mampu mengelola teknologi dan sumber daya pangan secara mandiri.
Inisiatif tersebut sejalan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 tentang Zero Hunger, SDG 4 tentang Quality Education, dan SDG 6 tentang Clean Water and Sanitation.
Program ini juga mendukung SDG 8 tentang Decent Work and Economic Growth serta SDG 12 tentang Responsible Consumption and Production melalui penguatan keterampilan produktif dan pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab.
