Indonesiandaily.com – Dua dosen Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Ahmad Ghozi dan Dien Nur Chotimah, mengambil peran penting dalam penguatan kompetensi profesional mahasiswa.
Keduanya dipercaya menjadi asesor dalam Uji Kompetensi Skema Okupasi Penerjemah Teks Umum yang diselenggarakan melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) P1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Keterlibatan tersebut menjadi strategis karena penerjemahan memiliki keterkaitan erat dengan keilmuan bahasa yang dikembangkan di Fakultas Humaniora.
Peran dosen pun tidak berhenti pada proses pembelajaran. Kepakaran yang dimiliki turut digunakan untuk mengukur kompetensi peserta berdasarkan standar sertifikasi profesi.
Ahmad Ghozi merupakan dosen Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora. Selain menjadi asesor, ia dipercaya sebagai Direktur LSP P1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Posisi tersebut membuat Ahmad berperan dalam pengembangan dan pengelolaan sistem sertifikasi kompetensi di lingkungan universitas.
Sementara itu, Dien Nur Chotimah merupakan dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Humaniora.
Dien juga dipercaya sebagai Manajer Sertifikasi LSP P1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Peran tersebut dijalankan bersamaan dengan tugasnya sebagai asesor Skema Okupasi Penerjemah Teks Umum.
Jembatani Akademik dan Dunia Profesional
Keterlibatan kedua dosen tersebut memperlihatkan hubungan erat antara kepakaran akademik dan kebutuhan dunia profesional.
Dosen tidak hanya mendampingi mahasiswa memperoleh pengetahuan. Mereka juga terlibat dalam ekosistem yang memungkinkan kemampuan mahasiswa diuji melalui standar kompetensi profesi.
Dalam proses uji kompetensi, asesor memiliki posisi penting. Asesmen harus dilakukan berdasarkan kompetensi yang dipersyaratkan dalam skema sertifikasi.
Proses tersebut bertujuan memperoleh bukti kemampuan peserta. Bukti itu kemudian menjadi dasar asesor dalam memberikan rekomendasi hasil asesmen.
Karena itu, tugas asesor membutuhkan objektivitas, ketelitian, serta pemahaman mendalam terhadap kompetensi yang diujikan.
Latar belakang Ahmad Ghozi dan Dien Nur Chotimah di bidang bahasa menjadi relevan dengan Skema Okupasi Penerjemah Teks Umum.
Keterlibatan mereka sekaligus menunjukkan bahwa kepakaran dosen Humaniora memiliki ruang kontribusi yang luas. Kontribusi tersebut tidak hanya melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Lebih jauh, kepakaran tersebut dapat digunakan untuk memperkuat sistem pengakuan kompetensi profesional.
Mahasiswa Tidak Hanya Membutuhkan Ijazah
Kebutuhan terhadap sertifikasi kompetensi semakin penting ketika perguruan tinggi dituntut mempertemukan dunia akademik dengan dunia profesional.
Lulusan tidak hanya membutuhkan ijazah sebagai bukti telah menyelesaikan pendidikan. Mereka juga perlu memiliki portofolio kompetensi yang menunjukkan kemampuan spesifik sesuai bidang keahlian.
Sertifikasi kompetensi menjadi salah satu instrumen untuk mendukung kebutuhan tersebut.
Melalui asesmen, mahasiswa mendapatkan kesempatan menguji kemampuan yang telah dikembangkan selama masa studi dalam kerangka kompetensi profesi.
Pengalaman dosen dalam proses sertifikasi juga dapat memberikan perspektif baru bagi pengembangan pendidikan.
Pemahaman terhadap kebutuhan kompetensi di dunia profesional dapat menjadi referensi dalam melihat relevansi materi pembelajaran, pengalaman belajar, hingga pengembangan keterampilan mahasiswa.
Dengan demikian, akademik dan sertifikasi tidak harus berjalan dalam jalur yang terpisah. Keduanya dapat saling memperkuat untuk menghasilkan lulusan dengan landasan keilmuan sekaligus kemampuan profesional yang terukur.
14 Mahasiswa Raih Rekomendasi Kompeten
Konteks tersebut terlihat dalam pelaksanaan Uji Kompetensi Skema Okupasi Penerjemah Teks Umum yang diikuti mahasiswa Fakultas Humaniora.
Sebanyak 14 mahasiswa dari Program Studi Sastra Inggris dan Bahasa dan Sastra Arab mengikuti rangkaian asesmen.
Hasilnya, seluruh peserta memperoleh rekomendasi Kompeten dari asesor setelah menyelesaikan rangkaian uji kompetensi.
Capaian tersebut memperlihatkan adanya ekosistem yang saling terhubung antara mahasiswa, dosen, fakultas, dan LSP P1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Mahasiswa mendapatkan ruang untuk menguji kompetensi kebahasaan yang dimiliki. Sementara itu, dosen dengan kepakaran relevan terlibat langsung dalam pelaksanaan sistem sertifikasi profesi di tingkat universitas.
Kondisi ini membuka peluang pengembangan sertifikasi kompetensi yang semakin dekat dengan kebutuhan mahasiswa.
Fakultas dapat mendorong mahasiswa mengenali bidang profesional yang sesuai dengan keilmuannya sekaligus mempersiapkan kompetensi yang dibutuhkan sejak masa studi.
Bagi mahasiswa Sastra Inggris dan Bahasa dan Sastra Arab, penerjemahan menjadi salah satu bidang profesional yang memiliki hubungan kuat dengan kompetensi bahasa.
Namun, peluang karier lulusan Humaniora tentu tidak berhenti pada profesi penerjemah.
Kemampuan bahasa, analisis teks, komunikasi lintas budaya, literasi, dan kompetensi humaniora lainnya dapat dikembangkan untuk berbagai ruang profesional.
Perkuat Budaya Akademik Berorientasi Kompetensi
Kehadiran dosen yang memahami dunia akademik sekaligus sistem sertifikasi menjadi aset penting dalam membangun jembatan antara pendidikan dan karier mahasiswa.
Pengembangan kompetensi tidak semata diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran. Mahasiswa juga perlu memahami bagaimana pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dapat diterapkan setelah lulus.
Peran Ahmad Ghozi sebagai Direktur dan Dien Nur Chotimah sebagai Manajer Sertifikasi LSP P1 juga menunjukkan kontribusi sumber daya manusia Fakultas Humaniora dalam pengembangan kelembagaan di tingkat universitas.
Amanah tersebut memperluas ruang kontribusi dosen. Sekaligus membawa kepakaran Humaniora ke dalam penguatan sistem sertifikasi kompetensi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Bagi Fakultas Humaniora, kontribusi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya akademik yang berorientasi pada relevansi dan dampak.
Keunggulan keilmuan tidak hanya diukur dari proses pembelajaran dan penelitian. Namun, juga dari sejauh mana kepakaran tersebut memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Keterlibatan dosen sebagai asesor diharapkan semakin mendekatkan mahasiswa dengan budaya sertifikasi profesional.
Mahasiswa dapat melihat bahwa kompetensi yang dipelajari di bangku kuliah memiliki ruang aktualisasi nyata. Kompetensi itu juga dapat terus dikembangkan sesuai standar yang dibutuhkan dunia profesi.
Melalui keterlibatan Ahmad Ghozi dan Dien Nur Chotimah dalam LSP P1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Fakultas Humaniora menunjukkan kontribusi konkret dalam mempertemukan keilmuan, kompetensi, dan profesionalisme.
Sinergi tersebut menjadi modal penting untuk membangun pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan dengan penguasaan akademik kuat, tetapi juga memiliki kompetensi profesional yang terukur dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
