UB Verifikasi 33 Mahasiswa Asal NTT Terdampak Gempa, Bantuan Disiapkan Sesuai Kebutuhan

UB Verifikasi 33 Mahasiswa Asal NTT Terdampak Gempa, Bantuan Disiapkan Sesuai Kebutuhan

Indonesiandaily.com – Universitas Brawijaya (UB) melakukan pendataan dan verifikasi terhadap mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa bumi.

Proses verifikasi berlangsung di Selasar Gedung Rektorat UB, Jumat (21/8/2026). Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi mahasiswa dan keluarganya sekaligus memetakan dampak serta kebutuhan pascabencana.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan UB, Dr. Setiawan Noerdajasakti, S.H., M.H., mengatakan UB memiliki sekitar 200 mahasiswa yang berasal dari NTT.

Slider Ucapan HUT RI

Data tersebut berdasarkan informasi Direktorat Teknologi Informasi UB. Dari proses verifikasi awal, sebanyak 33 mahasiswa telah terdata.

“Sebanyak 31 mahasiswa mengikuti verifikasi secara offline dan dua mahasiswa mengikuti secara daring,” ujar Setiawan.

Menurutnya, hasil verifikasi menjadi dasar UB dalam menentukan bentuk tindak lanjut bagi mahasiswa yang terdampak gempa.

Bantuan yang disiapkan dapat berupa biaya hidup maupun bentuk dukungan lainnya. Pemberian bantuan akan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing mahasiswa.

Setiawan mengatakan pihak rektorat masih melakukan konsultasi untuk menentukan skema bantuan yang paling tepat. Salah satu pertimbangannya adalah gempa terjadi setelah mahasiswa melakukan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT).

“Untuk bentuk bantuannya masih kami konsultasikan,” katanya.

UB Buka Dukungan dari Pihak Eksternal

UB juga membuka peluang keterlibatan pihak eksternal dalam membantu mahasiswa terdampak. Dukungan dapat berasal dari perusahaan, pemberi Corporate Social Responsibility (CSR), maupun komunitas alumni.

Pihak-pihak tersebut nantinya dapat dipertemukan secara langsung dengan mahasiswa yang membutuhkan bantuan.

“Kalau misalnya kita mempertemukan mereka dengan perusahaan pemberi CSR, mereka langsung ketemu, kemudian langsung memberikan bantuan,” jelas Setiawan.

Penanganan dampak bencana juga tidak hanya menjadi tanggung jawab bidang kemahasiswaan. Unit-unit lain di lingkungan UB akan menjalankan peran sesuai kewenangan masing-masing.

Organisasi kemahasiswaan turut dilibatkan dalam proses pendataan. Keterlibatan tersebut dinilai penting karena mahasiswa memiliki akses informasi yang lebih dekat terhadap kondisi teman-temannya.

Wakil Presiden Eksekutif Mahasiswa (EM) UB 2026, Kafitan Aidil, mengatakan proses verifikasi membantu universitas mendapatkan gambaran kondisi mahasiswa di lapangan.

“Pendataan ini penting untuk memastikan kondisi teman-teman mahasiswa yang terdampak, baik dari sisi keluarga, tempat tinggal, maupun kebutuhan mereka setelah bencana,” ujar Kafitan.

Ia menegaskan EM UB akan terus berkoordinasi dengan pihak universitas setelah proses verifikasi selesai.

“Harapannya, setelah proses verifikasi ini, kebutuhan mahasiswa bisa segera ditindaklanjuti,” katanya.

Verifikasi Meliputi Finansial hingga Psikologis

Dirjen Kesejahteraan Mahasiswa EM UB 2026, Dimas Satya Saputra, menjelaskan terdapat tiga aspek utama yang menjadi perhatian dalam proses verifikasi.

Ketiganya meliputi kondisi finansial, psikologis, serta tempat tinggal mahasiswa setelah bencana.

“Yang diverifikasi ada tiga aspek, mulai dari finansial, psikologis, hingga tempat tinggal pascabencana,” ujar Dimas.

Dampak gempa juga dirasakan langsung oleh keluarga mahasiswa UB. Salah satunya Fakhirah Na’ilah Ilham, mahasiswa Fakultas Kedokteran UB asal NTT.

Ia mengatakan rumah keluarganya mengalami kerusakan akibat gempa. Kondisi tersebut membuat keluarganya harus tinggal sementara di tenda.

Fakhirah berharap UB dapat memberikan keringanan UKT bagi mahasiswa terdampak.

“Saya harap ke depan mungkin ada keringanan UKT. Kebetulan UKT saya Rp12 juta. Mungkin bisa ada keringanan di bawah Rp7 juta,” ujarnya.

Selain kondisi ekonomi dan tempat tinggal, dampak bencana terhadap aktivitas akademik mahasiswa juga menjadi perhatian UB.

Setiawan menjelaskan, kebijakan terkait proses perkuliahan mahasiswa terdampak menjadi kewenangan fakultas masing-masing.

Hal itu karena setiap fakultas memiliki aturan dan kebijakan akademik yang berbeda.

“Kalau itu teknis-teknis begitu, masalah kuliah yang menangani fakultas,” kata Setiawan.

Mahasiswa yang masih berada di wilayah terdampak dan mengalami kesulitan mengikuti perkuliahan dapat berkoordinasi dengan fakultas masing-masing.

Penanganan akademik selanjutnya akan disesuaikan dengan kondisi mahasiswa serta kebijakan yang berlaku di masing-masing fakultas.

Dalam proses verifikasi, UB juga memastikan kebenaran asal atau lokasi mahasiswa. Selain itu, tim melihat status dampak bencana terhadap keluarga, dampak tidak langsung yang dialami mahasiswa, hingga kebutuhan mendesak.

Pendataan tersebut diharapkan menghasilkan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi mahasiswa asal NTT yang terdampak gempa.

Data tersebut selanjutnya menjadi dasar untuk menentukan bentuk bantuan dan tindak lanjut dari universitas, fakultas, organisasi kemahasiswaan, maupun pihak eksternal.

UB berupaya memastikan mahasiswa terdampak tidak sekadar terdata secara administratif. Lebih dari itu, mereka diharapkan memperoleh dukungan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing setelah bencana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *