Indonesiandaily.com – Dosen Departemen Geografi Universitas Negeri Malang (UM), Melati Julia Rahma, S.P., M.Ling., mendorong penguatan sistem agroforestri sebagai salah satu solusi menghadapi masifnya alih fungsi lahan di kawasan Malang Selatan hingga lereng Pegunungan Anjasmoro.
Melati yang akrab disapa Mela menyoroti perubahan lahan agroforestri menjadi perkebunan monokultur. Salah satu pemicunya adalah kebijakan swasembada gula yang membuat sebagian petani memilih mengganti tanaman kopi dengan tebu.
Pilihan tersebut tidak terlepas dari pertimbangan ekonomi. Tebu dinilai memberikan keuntungan yang lebih menarik bagi petani dibandingkan mempertahankan kebun kopi.
Namun, menurut Mela, keuntungan ekonomi jangka pendek tidak boleh mengesampingkan fungsi ekologis hutan dan sistem agroforestri.
“Ketegangan antara kepentingan ekologi dan ekonomi selalu berujung mengorbankan aspek ekologi,” ujarnya.
Mela: Nilai Hutan Tak Bisa Diukur dengan Uang
Mela menilai hutan masih sering dipandang sebagai lahan yang tidak produktif karena tidak menghasilkan keuntungan ekonomi secara langsung.
Padahal, hutan memiliki fungsi ekologis yang sangat kompleks. Kawasan hutan menjadi habitat berbagai organisme, menjaga keanekaragaman hayati, sekaligus berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
“Hutan adalah suatu ekosistem tumbuh yang sangat kompleks yang mana dia berperan sebagai paru-paru dunia, paru-paru negara,” kata Mela.
Menurutnya, keberadaan hutan menghasilkan oksigen, menjaga biodiversity, serta menyimpan keragaman plasma nutfah. Seluruh fungsi tersebut memiliki nilai yang tidak dapat dihitung hanya berdasarkan keuntungan ekonomi.
Karena itu, Mela mendorong pendekatan yang mampu mempertemukan kebutuhan ekonomi masyarakat dengan kepentingan ekologis. Salah satunya melalui agroforestri.
Riset Kopi Jadi Strategi Pertahankan Agroforestri
Agroforestri merupakan sistem pengelolaan lahan yang memadukan tanaman produksi dengan tanaman tegakan. Pola ini memungkinkan petani memperoleh hasil ekonomi sekaligus mempertahankan fungsi ekologis lahan.
Gagasan tersebut kemudian diwujudkan Mela melalui riset kopi di kawasan lereng Anjasmoro.
Sejak 2024, Mela bersama Anvesaka Coffee Terroir Research Group meneliti keragaman varietas kopi Liberika dan Excelsa. Penelitian dilakukan dengan melibatkan tim lintas disiplin dari UM dan Universitas Brawijaya.
Para peneliti memiliki keahlian beragam, mulai dari ekologi, taksonomi, cita rasa kopi hingga mikrobiologi fermentasi.
Bagi Mela, penelitian tersebut bukan sekadar menghasilkan data ilmiah. Hasil riset harus mampu memberikan manfaat langsung kepada petani.
Karena itu, hasil penelitian kemudian dihilirkan melalui kelas sensori dan cupping test. Kegiatan tersebut memperkenalkan potensi kualitas kopi kepada petani sekaligus membuka perspektif mengenai nilai ekonomi komoditas tersebut.
Petani diharapkan memahami bahwa kopi dengan pengelolaan dan pengolahan yang tepat dapat memiliki nilai ekonomi tinggi.
Dengan pendekatan itu, petani memiliki alternatif selain mengubah lahan agroforestri menjadi perkebunan monokultur.
“Nilai ekonomi kopi yang baik diharapkan bisa menjadi insentif bagi petani untuk tetap mempertahankan agroforestri,” ujarnya.
Dorong Kesadaran Lingkungan dari Kampus
Perhatian Mela terhadap keberlanjutan lingkungan tidak berhenti pada penelitian. Ia juga melihat pendidikan sebagai instrumen penting untuk membangun kesadaran generasi muda.
UM turut melibatkan mahasiswa dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan. Salah satunya melalui penanaman Sansevieria secara serentak saat PKKMB.
Menurut Mela, mahasiswa perlu ditempatkan sebagai agen perubahan. Kesadaran menjaga lingkungan tidak cukup dibangun melalui teori, tetapi juga perlu diwujudkan melalui tindakan nyata.
UM juga mengembangkan inovasi sederhana untuk mengurangi limbah. Salah satunya mengganti papan bunga ucapan dengan bibit pohon.
Langkah tersebut menjadi contoh bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di lingkungan kampus.
Kesadaran Jadi Kunci Cegah Deforestasi
Mela menilai persoalan deforestasi membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, petani, dan sektor usaha perlu memiliki kesadaran yang sama mengenai pentingnya menjaga ekosistem.
Menurutnya, perubahan perilaku tidak dapat berlangsung secara instan. Diperlukan langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
“Kesadaran adalah salah satu kunci penting untuk bagaimana manusia ini mau menjaga keutuhan hutan dan meminimalisir terjadinya deforestasi,” tegas Mela.
Melalui riset kopi Liberika dan Excelsa, Mela menunjukkan bahwa isu lingkungan dapat dihadapi melalui pendekatan yang tidak memisahkan kepentingan ekologis dan ekonomi.
Agroforestri menjadi salah satu titik temu. Hutan dan keanekaragaman hayati tetap dijaga, sementara petani tetap memiliki sumber pendapatan.
Bagi Mela, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun keseimbangan tersebut. Riset harus menjawab persoalan nyata, pengabdian harus menyentuh kebutuhan masyarakat, dan pendidikan harus melahirkan generasi yang memiliki kesadaran lingkungan.
Upaya itu sekaligus memperkuat kontribusi UM terhadap pencapaian SDG 15 tentang Ekosistem Daratan, terutama dalam menjaga hutan, mencegah degradasi lahan, dan mempertahankan keanekaragaman hayati.
Dari lereng Anjasmoro, gagasan tersebut menunjukkan bahwa menjaga hutan tidak selalu berarti mengorbankan ekonomi masyarakat. Dengan inovasi, pengetahuan, dan pendampingan yang tepat, pelestarian lingkungan justru dapat berjalan bersama peningkatan kesejahteraan petani.
