Indonesiandaily.com – Universitas Brawijaya (UB) melepas 21 delegasi Mega Ekspedisi Brawijaya (MEB) 2026. Mereka akan menjalankan pengabdian masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Timor-Leste.
Pelepasan digelar Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya (EM UB) di Ruang Rapat Balai Senat Lantai 2 Gedung Rektorat UB, Jumat (14/8/2026).
MEB 2026 berlangsung pada 15-27 Agustus 2026. Rangkaian kegiatan mengambil rute Kupang, Atambua, Mota’ain, Atabae, hingga Loes.
Tahun ini, MEB mengusung program pengabdian yang berfokus pada sektor kesehatan dan ekonomi kreatif. Program dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat di wilayah sasaran.
Lima Bulan Persiapan
Ketua Pelaksana MEB 2026, Ardhany Fattah, mengatakan keberangkatan tim merupakan hasil persiapan selama lima bulan.
Panitia dan delegasi menjalani berbagai tahapan. Mulai penyusunan program, pengurusan administrasi, pencarian dukungan, pelatihan, hingga persiapan logistik.
“Kita tidak berangkat mencari perjalanan yang mudah, tetapi untuk memberikan arti. Kita datang untuk belajar, mendengar, dan berbagi,” ujar Ardhany.
Prof. Dr. Eng. Abu Bakar Sambah, S.Pi., M.T., yang hadir mewakili Penanggung Jawab MEB 2026 Prof. Dr. Agr.Sc. Hagus Tarno, S.P., M.P., mengapresiasi inisiatif mahasiswa tersebut.
Menurutnya, MEB menjadi bentuk nyata pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat sebagai salah satu unsur Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Perguruan tinggi, kata Prof. Sambah, tidak cukup hanya memberikan manfaat teoretis melalui pengembangan ilmu pengetahuan. Kampus juga harus mampu menghadirkan manfaat praktis bagi masyarakat.
Ia meminta para mahasiswa mengedepankan kerendahan hati selama menjalankan pengabdian.
“Jangan merasa paling pintar. Berbaurlah, dengarkan kebutuhan masyarakat, lalu tinggalkan sesuatu yang positif dan bermanfaat,” katanya.
Rektor UB Ingatkan Nama Baik Almamater
Rektor UB Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., melalui sambutan video turut memberikan apresiasi kepada Kementerian Sosial Masyarakat EM UB dan seluruh tim yang mempersiapkan MEB 2026.
Menurut Prof. Widodo, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang pengabdian. MEB juga menjadi sarana membangun kepekaan sosial, kepedulian, kemampuan bekerja sama, dan ketangguhan mahasiswa.
Ia berpesan agar seluruh peserta menjaga nama baik almamater, keselamatan, serta kekompakan selama menjalankan program.
Mahasiswa juga diminta menghormati adat istiadat setempat. Komunikasi dengan masyarakat dan pemerintah daerah harus dibangun dengan baik.
“Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, saya secara resmi melepas MEB 2026. Semoga pengabdian ini bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa,” kata Prof. Widodo.
Pelepasan ditandai dengan pemasangan atribut MEB 2026 secara simbolis.
Setelah itu, Ketua Pelaksana Ardhany Fattah bersama Wakil Ketua Pelaksana Vimaha Laksmi memaparkan program pengabdian yang akan dijalankan.
Fokus Kesehatan dan Ekonomi Kreatif
Pada sektor kesehatan, tim menyiapkan empat materi utama. Materi tersebut meliputi pemenuhan gizi pada usia emas, bahaya dan pencegahan stunting, pengembangan produk pangan pencegah stunting, serta sanitasi dan higienitas.
Edukasi kesehatan akan diperkuat melalui demonstrasi pembuatan makanan bergizi. Salah satunya kelor crunch yang memanfaatkan kandungan protein pada daun kelor.
Sementara sektor ekonomi kreatif diarahkan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Program mencakup pengembangan merek, desain digital, inovasi kemasan, hingga pengembangan kerajinan lokal.
Hasil pendampingan akan diterapkan melalui Loes Market Festival. Festival tersebut menjadi ruang promosi sekaligus pemasaran produk masyarakat.
Tak hanya memberikan pelatihan, tim MEB juga menyerahkan sejumlah peralatan produksi. Di antaranya oven, mikser, dan blender.
Peralatan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat melanjutkan kegiatan usaha setelah program pengabdian berakhir.
Komitmen keberlanjutan juga menjadi perhatian MEB 2026. Tim merencanakan pemantauan secara berkala hingga satu tahun setelah program berlangsung.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan program tidak berhenti setelah delegasi kembali ke UB. Hasil pemantauan juga akan menjadi bahan evaluasi dan pengembangan konsep MEB 2027.
Melalui MEB 2026, UB tidak hanya mengirim mahasiswa untuk mengabdi. Kampus juga mendorong mahasiswa belajar memahami persoalan masyarakat secara langsung, membangun kolaborasi, sekaligus menghadirkan program yang memiliki manfaat berkelanjutan.



