Indonesiandaily.com – Direktur Politeknik Negeri Malang (POLINEMA) Ir. Supriatna Adhisuwignjo, S.T., M.T. menegaskan pentingnya memperkuat sinergi antara sekolah menengah kejuruan (SMK) dan perguruan tinggi vokasi.
Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi salah satu kunci untuk memastikan lulusan SMK memiliki kompetensi yang relevan. Khususnya dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan dunia kerja.
Pernyataan itu disampaikan Supriatna saat menjadi narasumber dalam Rapat Kerja Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Swasta Kabupaten Malang Tahun Pelaksanaan 2026–2027 di Hotel Purnama, Kota Batu, Senin (3/8/2026).
Dalam agenda bertajuk “Bangun Vokasi Bersama Perguruan Tinggi Negeri”. Supriatna menyoroti perubahan kebutuhan dunia kerja yang berlangsung semakin cepat.
Perkembangan teknologi, menurutnya, menuntut lembaga pendidikan untuk tidak berjalan sendiri-sendiri. SMK dan perguruan tinggi vokasi perlu membangun konektivitas agar proses pembelajaran semakin dekat dengan kebutuhan industri.
“Sinergi antara SMK dan perguruan tinggi vokasi menjadi faktor penting dalam menghasilkan lulusan yang adaptif. Khususnya terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah,” ujar Supriatna.
POLINEMA Dorong Kolaborasi Lebih Konkret
Supriatna mengatakan, kolaborasi antara POLINEMA dan SMK tidak cukup hanya melalui hubungan kelembagaan. Kerja sama harus diterjemahkan menjadi program yang memberikan dampak langsung. Khususnya terhadap peningkatan kualitas guru, siswa, dan lulusan.
Karena itu, POLINEMA membuka sejumlah peluang kerja sama dengan SMK. Mulai dari peningkatan kompetensi siswa dan guru, pengembangan kurikulum yang selaras dengan kebutuhan industri. Juga pelatihan dan sertifikasi, hingga penguatan jalur pendidikan berkelanjutan bagi lulusan SMK.
Menurut Supriatna, pendekatan tersebut penting agar pendidikan vokasi mampu menjawab. Terutama dalam menjawab tantangan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (DUDIKA).
“Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, diharapkan ekosistem pendidikan vokasi dapat semakin kuat dan mampu mencetak sumber daya manusia yang unggul, kompeten, serta siap bersaing di tingkat nasional maupun global,” tegasnya.
MoU Bukan Sekadar Seremoni
Komitmen tersebut kemudian diperkuat melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU). Yakni antara POLINEMA dan MKKS SMK Swasta Kabupaten Malang.
MoU ditandatangani Supriatna bersama Ketua MKKS SMK Swasta Kabupaten Malang Rudi Widianto, S.Pd., M.Pd. Kesepakatan tersebut menjadi landasan pengembangan berbagai program bersama di bidang pendidikan dan pengembangan kompetensi.
Ruang lingkup kerja sama mencakup pengembangan sumber daya manusia. Termasuk pula peningkatan kompetensi guru dan siswa, pelatihan dan sertifikasi, serta penguatan pembelajaran berbasis industri.
Supriatna menegaskan, kerja sama tersebut merupakan bagian dari komitmen POLINEMA. Terutama untuk terus berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan vokasi di Indonesia.
Ia berharap MoU tidak berhenti sebagai dokumen kerja sama. Sebaliknya, kesepakatan tersebut harus menjadi pintu masuk bagi lahirnya berbagai program konkret. Khususnya yang mampu memperkuat kapasitas SMK.
“Sinergi antara SMK dan perguruan tinggi vokasi menjadi kunci dalam menciptakan lulusan yang unggul. Termasuk pula yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta memiliki daya saing tinggi di tingkat nasional maupun global,” katanya.
Perkuat Link and Match
Bagi Supriatna, penguatan hubungan SMK dan perguruan tinggi vokasi juga berkaitan erat dengan kebutuhan. Terutama dalam menciptakan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai perkembangan industri.
Perguruan tinggi vokasi dapat menjadi mitra strategis SMK dalam mengakses pengetahuan, teknologi, pelatihan. Juga sertifikasi, serta pengalaman pembelajaran yang lebih dekat dengan dunia industri.
Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat link and match antara pendidikan dan dunia kerja. Dengan demikian, lulusan SMK tidak hanya memiliki keterampilan teknis. Namun juga kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan.
Langkah POLINEMA bersama MKKS SMK Swasta Kabupaten Malang sekaligus mempertegas posisi perguruan tinggi vokasi. Yakni sebagai bagian penting dari ekosistem pendidikan menengah kejuruan.
Supriatna menilai, pendidikan vokasi yang kuat membutuhkan kemitraan berkelanjutan. Semakin erat hubungan antara SMK, perguruan tinggi, dan industri. Maka ia optimis semakin besar peluang untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Kolaborasi yang erat antara SMK dan perguruan tinggi diharapkan dapat menciptakan kesinambungan pendidikan vokasi yang lebih berkualitas. Juga inovatif, dan berdampak bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia,” pungkasnya.
