Indonesiandaily.com ā Kemajuan teknologi digital membuat manusia semakin mudah mendapatkan informasi. Hanya dalam hitungan detik, mesin pencari hingga aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) mampu menyajikan berbagai jawaban.
Namun, kemudahan tersebut justru menghadirkan persoalan baru. Ketika informasi begitu melimpah, siapa yang memastikan informasi tersebut benar, kredibel, dan layak dipercaya?
Pertanyaan inilah yang membuat peran pustakawan tetap relevan, bahkan semakin strategis di era digital.
Pustakawan Universitas Negeri Malang (UM), Teguh Yudi Cahyono, S.I.Pust., M.M., menegaskan bahwa perkembangan teknologi tidak menghilangkan kebutuhan terhadap pustakawan.
Menurutnya, yang berubah bukan urgensi profesi tersebut, melainkan bentuk dan ruang lingkup perannya.
āDi era ketika siapa pun dapat memproduksi informasi, tantangan terbesar bukan lagi kekurangan sumber bacaan, melainkan banjir informasi yang sulit dibedakan antara fakta, opini, dan disinformasi,ā tegas Teguh.
Ia menilai, anggapan bahwa pustakawan hanya bertugas menjaga rak buku dan melayani peminjaman koleksi sudah tidak lagi sesuai dengan perkembangan perpustakaan modern.
Perpustakaan kini telah berkembang menjadi pusat pengetahuan. Pustakawan pun dituntut menjadi penghubung antara manusia dengan informasi yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pustakawan Jadi Kurator Informasi
Menurut Teguh, teknologi memang mampu menampilkan jutaan hasil pencarian dalam waktu singkat. Namun, banyaknya informasi tidak otomatis menjamin kebenaran maupun kualitasnya.
Di sinilah pustakawan memiliki posisi strategis sebagai kurator informasi.
Lingkungan perguruan tinggi menjadi salah satu ruang yang memperlihatkan kebutuhan tersebut. Mahasiswa, dosen, hingga peneliti membutuhkan pendamping untuk menelusuri literatur ilmiah, mengelola referensi, memahami etika akademik, hingga menghindari jurnal predator.
Peran tersebut tidak lagi sebatas pekerjaan administratif. Pustakawan ikut berkontribusi dalam menjaga kualitas proses pembelajaran dan penelitian.
Ironisnya, kontribusi tersebut kerap bekerja di balik layar.
Keberhasilan sebuah publikasi ilmiah sering kali hanya dikaitkan dengan penulisnya. Padahal, proses penelitian juga membutuhkan dukungan dalam memastikan sumber informasi valid dan referensi dikelola secara tepat.
āPustakawan bekerja di balik layar, tetapi dampaknya sangat nyata terhadap mutu pendidikan dan penelitian,ā ujar Teguh saat diwawancarai Tim Humas UM, Senin (3/8/2026).
AI Bukan Ancaman, tetapi Teknologi yang Harus Diarahkan
Kehadiran AI kemudian menghadirkan tantangan baru bagi profesi pustakawan.
Kemampuan AI dalam mencari, merangkum, dan mengolah informasi membuat sebagian pihak memprediksi profesi pustakawan akan semakin terpinggirkan.
Teguh justru melihatnya secara berbeda.
Menurut dia, kemampuan AI dalam mempercepat pencarian informasi tidak serta-merta membuat manusia kehilangan kebutuhan terhadap pustakawan.
āAI memang mampu mempercepat pencarian informasi, tetapi belum mampu menggantikan penilaian kritis, pertimbangan etis, maupun kemampuan memahami konteks akademik secara utuh,ā jelasnya.
Karena itu, pustakawan justru memiliki ruang baru untuk mengarahkan pemanfaatan AI agar digunakan secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.
Pustakawan tidak harus berkompetisi dengan teknologi. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi instrumen untuk memperkuat peran pustakawan sebagai pendamping pembelajaran dan penelitian.
Saatnya Paradigma Pustakawan Diubah
Transformasi tersebut membutuhkan dukungan institusi. Perguruan tinggi perlu menempatkan perpustakaan sebagai investasi strategis dalam pengembangan kualitas akademik, bukan sekadar unit pendukung.
Pada saat yang sama, pustakawan juga harus terus meningkatkan kompetensinya.
Literasi data, pengelolaan informasi digital, kemampuan menilai kredibilitas sumber, pemanfaatan teknologi, hingga komunikasi menjadi kompetensi yang semakin penting.
Teguh menegaskan, perubahan paradigma tersebut harus membuat pustakawan keluar dari citra lama sebagai penjaga koleksi.
Pustakawan masa kini adalah penjaga kualitas pengetahuan.
Di tengah derasnya arus informasi digital, peran tersebut justru semakin dibutuhkan. Sebab, persoalan utama masyarakat modern bukan lagi bagaimana mendapatkan informasi, tetapi bagaimana memilih, memahami, memverifikasi, dan menggunakan informasi secara tepat.
Modernitas dan AI dengan demikian tidak mengurangi arti penting pustakawan.
Sebaliknya, semakin cepat teknologi menghasilkan informasi, semakin besar pula kebutuhan terhadap profesi yang mampu memastikan informasi tersebut digunakan secara benar.
Pustakawan kini tidak hanya hadir di balik meja layanan. Mereka merupakan mitra pembelajaran, pendamping riset, penggerak literasi digital. Sekaligus agen perubahan yang dapat memperkuat daya saing perguruan tinggi.
Ketika pengetahuan menjadi fondasi kemajuan bangsa, pustakawan menjadi salah satu pilar penting. Hal ini untuk memastikan fondasi tersebut tetap kokoh.
