Indonesiandaily.com – Tim dosen Kimia Analitik Departemen Kimia, Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan solusi inovatif untuk mengatasi persoalan limbah minyak jelantah di Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi. Melalui program pengabdian masyarakat, minyak jelantah diolah menjadi sabun ramah lingkungan yang memiliki nilai ekonomi.
Program bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat melalui Inovasi Pengolahan Minyak Jelantah menjadi Sabun Ramah Lingkungan dan Bernilai Ekonomi” ini dipimpin oleh Dr. Ulfa Andayani, S.Si., M.Si., bersama Prof. Dr. Ani Mulyasuryani, M.S., Prof. Akhmad Sabarudin, Dr.Sc., Dr. Qonitah Fardiyah, S.Si., M.Si., serta melibatkan mahasiswa Program Studi S1 Kimia UB.
Ribuan Liter Minyak Jelantah Jadi Ancaman Lingkungan
Desa Kedungrejo merupakan salah satu kawasan pesisir dengan aktivitas perikanan dan pengolahan hasil laut yang sangat tinggi. Aktivitas rumah tangga maupun usaha kuliner menghasilkan limbah minyak goreng bekas atau minyak jelantah dalam jumlah besar.
Tim UB memperkirakan volume minyak jelantah di desa tersebut mencapai sekitar 6.000 hingga 7.500 liter setiap bulan. Sebagian besar limbah itu masih dibuang ke saluran air maupun tanah atau bahkan digunakan berulang kali untuk menggoreng makanan.
Kondisi tersebut dinilai berisiko terhadap kesehatan masyarakat sekaligus mengancam kelestarian lingkungan.
Kepala Desa Kedungrejo, Ahmad Zaiho, menyambut baik program tersebut. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari tim pengabdian masyarakat, mengenai bahaya minyak jelantah sekaligus peluang pemanfaatannya.
Ketua tim pengabdian, Dr. Ulfa Andayani, menjelaskan bahwa minyak jelantah sebenarnya masih dapat dimanfaatkan melalui penerapan teknologi tepat guna.
“Melalui sentuhan sains dan rekayasa kimia sederhana, minyak jelantah yang selama ini dianggap limbah dapat diubah menjadi produk pembersih yang memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.
Edukasi Bahaya Minyak Jelantah
Dalam kegiatan tersebut, tim dosen menjelaskan dampak penggunaan minyak goreng yang dipanaskan berulang kali.
Secara kimia, proses pemanasan berulang memicu oksidasi, hidrolisis, dan polimerisasi yang menghasilkan berbagai senyawa berbahaya, seperti aldehid, peroksida, dan radikal bebas.
Senyawa tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyakit degeneratif, mulai dari kolesterol tinggi, penyakit jantung, hingga kanker.
Selain itu, pembuangan minyak jelantah ke saluran air juga dapat menyebabkan penyumbatan, mencemari lingkungan. Serta mengganggu ekosistem perairan karena menghambat masuknya oksigen ke dalam air.
Warga Dilatih Membuat Sabun dari Minyak Jelantah
Setelah sesi edukasi, peserta mendapatkan pelatihan pengolahan minyak jelantah melalui proses pemurnian menggunakan bahan adsorben seperti bentonit maupun arang aktif.
Proses tersebut mampu menghilangkan kotoran, warna gelap, serta bau tengik. Sehingga minyak menjadi lebih jernih dan layak dijadikan bahan baku sabun.
Sebanyak 37 warga kemudian mengikuti praktik langsung pembuatan sabun menggunakan reaksi saponifikasi.
Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok dan memproduksi dua jenis sabun, yakni sabun batang dan sabun cair.
Dalam praktik pembuatan sabun padat, peserta mencampurkan minyak jelantah yang telah dimurnikan dengan larutan natrium hidroksida (NaOH). Kemudian menambahkan pewangi dan pewarna sebelum dicetak.
Sementara untuk sabun cair digunakan kalium hidroksida (KOH) yang dipadukan dengan carboxymethyl cellulose (CMC) dan larutan garam. Agar menghasilkan tekstur yang lebih baik serta daya bersih yang optimal.
Mahasiswa Ikut Terapkan Ilmu di Masyarakat
Program ini juga menjadi wadah pembelajaran berbasis pengalaman bagi mahasiswa S1 Kimia UB melalui skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Mahasiswa terlibat mulai dari uji coba di laboratorium, pendampingan praktik kepada masyarakat, hingga evaluasi hasil kegiatan.
Kegiatan pengabdian yang dilaksanakan pada 17 Juli 2026 tersebut diharapkan mampu membuka peluang usaha baru berbasis ekonomi sirkular. Juga meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah minyak jelantah.
Selain memberikan manfaat ekonomi, program ini juga mendukung berbagai target Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya kesehatan yang baik, air bersih dan sanitasi, pertumbuhan ekonomi. Termasuk pula konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, pelestarian ekosistem laut, pendidikan berkualitas, inovasi. Serta penguatan kemitraan antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat.
