UM Latih Warga Desa Rancang Motif Batik Relief Candi, Dorong Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya

UM Latih Warga Desa Rancang Motif Batik Relief Candi, Dorong Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya

Indonesiandaily.com – Universitas Negeri Malang (UM) melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPKO) Dewan Mahasiswa Fakultas (DMF) Sastra menggelar pelatihan perancangan motif batik berbasis relief Candi Kidal. Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Senin (23/6), diikuti lebih dari 20 warga.

Pelatihan ini menjadi langkah awal membangun desa wirausaha berbasis ekonomi kreatif dengan memanfaatkan kekayaan budaya lokal. Warga didorong menciptakan motif batik khas Desa Kidal yang memiliki identitas budaya sekaligus nilai ekonomi.

Kepala Desa Kidal Ahmad Taufik mengapresiasi kolaborasi mahasiswa UM dengan masyarakat. Menurutnya, potensi sejarah desa harus diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

“Potensi sejarah Desa Kidal perlu diolah menjadi produk bernilai ekonomi agar memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Ahmad Taufik.

Relief Candi Kidal Jadi Inspirasi Motif Batik

Pelatihan menghadirkan dosen Departemen Seni dan Desain UM, Andreas Syah Pahlevi, S.Sn., M.Sn., sebagai narasumber. Ia membimbing peserta mengenali karakter visual relief Garuda di Candi Kidal, lalu menerjemahkannya menjadi rancangan motif batik tanpa menghilangkan nilai filosofisnya.

Selain mengenal sejarah batik, peserta juga mempelajari peluang industri kreatif, teknik pengembangan motif, hingga praktik menggambar desain batik secara langsung. Hasilnya, sejumlah rancangan motif khas Desa Kidal berhasil dibuat oleh warga.

Andreas menegaskan pendampingan tidak berhenti pada pelatihan perdana.

“Kami berharap program ini terus berlanjut hingga motif yang lahir menjadi produk ekonomi kreatif yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Warga Antusias Kembangkan Batik Khas Desa

Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelatihan. Salah satunya Laily yang berhasil memadukan unsur sayap Garudeya, relief Tirta Amerta, dan kesenian Kuda Lumping menjadi motif batik yang unik.

Laily mengaku pelatihan tersebut membuka wawasan baru mengenai pemanfaatan warisan budaya desa sebagai sumber inspirasi produk kreatif.

“Pelatihan ini sangat bermanfaat menambah pengetahuan kami membuat motif batik,” ujar Laily.

Ia berharap pelatihan lanjutan dapat memanfaatkan teknologi sehingga proses produksi batik menjadi lebih cepat dan efisien.

“Semoga ada pelatihan berikutnya yang memanfaatkan teknologi agar produksi batik lebih cepat dan efisien,” tambahnya.

Motif Batik Akan Dilegalkan sebagai Identitas Desa

Ketua Tim PPKO DMF Sastra UM menjelaskan seluruh motif hasil karya warga akan terus didampingi hingga memasuki proses legalisasi sebagai motif batik khas Desa Kidal. Langkah tersebut diharapkan memberikan perlindungan hukum sekaligus meningkatkan nilai komersial produk.

Program ini tidak hanya memperkuat identitas budaya desa, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat melalui pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.

Kolaborasi antara mahasiswa UM, akademisi, Pemerintah Desa Kidal, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam membangun ekonomi lokal yang berkelanjutan tanpa meninggalkan nilai sejarah yang dimiliki desa.

Program PPKO DMF Sastra UM juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 11 tentang pelestarian warisan budaya, serta SDG 17 mengenai penguatan kemitraan antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *