Kajian di UMM Ungkap Bahaya Captive Mind, Cendekiawan Muslim Diminta Bangun Kemandirian Ilmu

Kajian di UMM Ungkap Bahaya Captive Mind, Cendekiawan Muslim Diminta Bangun Kemandirian Ilmu

Indonesiandaily.com – Fenomena captive mind atau pemikiran tertawan masih menjadi tantangan besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan di negara-negara berkembang. Kondisi ini membuat banyak akademisi lebih bergantung pada teori dan perspektif Barat dibanding membangun pengetahuan yang berakar pada realitas lokal.

Isu tersebut menjadi sorotan dalam Kajian Islam Multidisipliner yang diselenggarakan Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) bersama Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (22/6). Kegiatan bertajuk Producing Knowledge from the Global South: Challenges for Muslim Scholars itu menghadirkan akademisi dari University of Derby, Inggris, Dr. Mohammad Ilyas.

Captive Mind Hambat Kemandirian Akademik

Dalam pemaparannya, Mohammad Ilyas menjelaskan bahwa dominasi negara-negara Global North atau Barat tidak hanya terjadi pada bidang ekonomi dan politik. Pengaruh tersebut juga menjangkau dunia akademik melalui teori, metodologi, dan cara pandang yang kemudian diterima sebagai standar universal.

Menurutnya, kondisi itu memicu lahirnya captive mind di kalangan intelektual. Akibatnya, banyak akademisi kesulitan menghasilkan gagasan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan konteks sosial-budaya di negaranya sendiri.

“Kita harus menyadari bahwa selama ini kita terbiasa melihat dunia menggunakan kacamata buatan Barat. Pola pikir yang terjajah inilah yang harus didekonstruksi dengan memperbanyak literatur dari pemikir lokal,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pembebasan dari pemikiran tertawan menjadi langkah penting untuk membangun kemandirian ilmu pengetahuan. Cendekiawan Muslim, menurutnya, perlu berani mengembangkan perspektif yang lahir dari pengalaman dan tantangan masyarakatnya sendiri.

Ancaman Hilangnya Tradisi Keilmuan Lokal

Selain membahas dominasi teori Barat, Ilyas juga menyoroti kecenderungan akademisi di negara berkembang yang lebih berorientasi pada publikasi internasional berbahasa Inggris.

Ia menilai publikasi internasional memang penting untuk memperluas jangkauan akademik. Namun, pengabaian terhadap publikasi berbahasa lokal dapat melemahkan perkembangan ilmu pengetahuan di dalam negeri.

Menurutnya, bahasa lokal memiliki peran strategis sebagai media produksi dan penyebaran pengetahuan. Jika tidak dijaga, tradisi keilmuan lokal berisiko mengalami kemunduran.

“Mempublikasikan karya dalam bahasa Inggris memang baik untuk standar global. Namun jika jurnal berbahasa lokal diabaikan, kita hanya akan mereproduksi budaya kolonialisme akademik,” tegasnya.

Meluruskan Pandangan Keliru tentang Terorisme

Dalam forum tersebut, Ilyas juga mengkritisi pandangan yang mengaitkan terorisme dengan agama Islam. Ia menilai stereotip tersebut lahir dari cara pandang yang tidak utuh dalam melihat akar persoalan.

Menurutnya, berbagai tindakan kekerasan lebih sering dipicu oleh ketimpangan sosial, kemiskinan, serta konflik politik yang berkepanjangan. Agama kerap hanya dijadikan alat legitimasi oleh kelompok tertentu.

“Terorisme tidak disebabkan oleh agama apa pun. Pelaku kekerasan hanya meminjam bahasa agama untuk mencari simpati, sementara akar masalahnya adalah ketidakadilan sosial,” jelasnya.

Mendorong Cendekiawan Muslim Produksi Pengetahuan Mandiri

Kajian ini menjadi bagian dari komitmen UMM untuk memperkuat tradisi intelektual yang kritis dan mandiri. Melalui diskusi akademik semacam ini, mahasiswa didorong tidak hanya menjadi konsumen teori, tetapi juga mampu menghasilkan pengetahuan yang relevan bagi masyarakat.

Pesan utama yang disampaikan dalam forum tersebut adalah pentingnya keberanian cendekiawan Muslim untuk keluar dari ketergantungan intelektual. Dengan membangun tradisi keilmuan yang mandiri, mereka diharapkan mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial sekaligus berkontribusi pada kemajuan peradaban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *