Indonesiandaily.com – PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) bersiap membalikkan arah kinerja keuangan pada tahun 2026.
Emiten produsen furnitur dan komponen bangunan ini optimistis membidik pertumbuhan moderat sebesar 5% hingga 10% di tahun 2026.
Seperti diketahui, tahun lalu WOOD menghadapi tekanan berat, akibat lesunya permintaan dari Amerika Serijat (AS) sebagai pasar utamanya.
Direktur PT Integra Indocabinet Tbk, Wang Sutrisno mengungkapkan, perseroan tidak ingin terlalu agresif mengingat ketidakpastian geopolitik global dan makroekonomi yang masih membayangi.
Kendati demikian, WOOD telah menyiapkan sejumlah “kantong pertumbuhan” baru melalui strategi diversifikasi produk dan ekspansi pasar regional.
“Pencapaian tersebut kami yakini dapat diraih karena masih terdapat beberapa sumber pertumbuhan yang kami harapkan, terutama dari pengembangan dan peluncuran produk-produk baru,” ujar Wang dalam paparan publik perseroan secara daring, Jumat (19/6)
Performa Keuangan Menurun
Sepanjang tahun 2025, performa keuangan WOOD menurun. Berdasarkan laporan keuangan perseroan, WOOD membukukan penjualan bersih sebesar Rp2,63 triliun, atau turun 5,8% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibanding capaian 2024 yang mencapai Rp2,79 triliun.
Penurunan pendapatan ini menekan profitabilitas perusahaan secara signifikan akibat beban operasional, dimana laba usaha turun 23,8% YoY menjadi Rp289 miliar, EBITDA menyusut 19,2% menjadi Rp383 miliar, sehingga berdampak pada merosotnya laba bersih sebesar 57,6% YoY menjadi Rp65 miliar, dari Rp155 miliar pada 2024.
Pemicu utamanya adalah melambatnya pasar ekspor AS yang berkontribusi hingga 82,2% dari total penjualan perusahaan.
Penjualan ke Negeri Paman Sam tersebut terkoreksi 14,2% YoY menjadi Rp2,16 triliun. Namun, di tengah tekanan tersebut, total aset WOOD masih mampu tumbuh tipis 2,1% menjadi Rp8 triliun, didorong oleh kenaikan persediaan barang sebesar 8,35%.
Meskipun segmen manufaktur furnitur anjlok drastis hingga 52,9% menjadi Rp358,5 miliar, WOOD terselamatkan oleh performa solid dari segmen building component (komponen bangunan).
Segmen ini tumbuh 13,8% menjadi Rp2,24 triliun dan kokoh menjadi tulang punggung baru pendapatan perusahaan.
Secara total, kontribusi manufaktur ekspor mendominasi kue penjualan WOOD dengan porsi mencapai 98,6%.
Peningkatan Pangsa Pasar Eropa
Di balik redupnya pasar Amerika, secercah harapan besar muncul dari benua biru. Pasar Eropa mencatatkan lompatan pertumbuhan yang luar biasa bagi WOOD.
Sepanjang tahun 2025, penjualan ekspor ke Eropa melonjak 654% menjadi Rp242,1 miliar.
Momentum emas ini terus terjaga hingga memasuki awal tahun ini. Pada Kuartal I-2026, penjualan ke Eropa melesat luar biasa hingga 2.133% menjadi Rp112,7 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Tidak hanya Eropa, pasar domestik juga mulai menunjukkan sinyal pemulihan kuat dengan lonjakan penjualan sebesar 634% menjadi Rp31,6 miar pada kuartal pertama tahun ini.
Secara konsolidasi, pada Kuartal I-2026 WOOD membukukan total penjualan Rp722,40 miliar dengan laba bersih Rp28,62 miliar.
Sektor ekspor building component menyumbang Rp631,05 miliar atau setara 85,35% dari total penjualan triwulan pertama ini.
Untuk mempertahankan tren pemulihan ini, manajemen WOOD mempercepat agenda diversifikasi.
Perseroan siap meluncurkan varian produk baru dengan perputaran bisnis yang lebih cepat dan visibilitas permintaan yang lebih jelas, seperti produk lantai (flooring) dan furnitur luar ruangan (outdoor furniture).
Selain memperkuat cengkeraman di AS, pasar ekspor kini mulai dilebarkan secara masif ke kawasan non-tradisional, termasuk Eropa dan Timur Tengah.
“Di sisi lain, kami juga terus melakukan berbagai inisiatif efisiensi dan optimalisasi portofolio bisnis agar perusahaan dapat tetap menjaga profitabilitas di tengah kondisi pasar yang masih penuh tantangan,” ujar Wang optimistis.
