Founder Social Movement Institute Soroti Krisis Moral Perlawanan Mahasiswa dalam Kuliah Tamu Nasional UMM

Founder Social Movement Institute Soroti Krisis Moral Perlawanan Mahasiswa dalam Kuliah Tamu Nasional UMM

Indonesiandaily.com – Krisis intelektual generasi muda dinilai bukan disebabkan rendahnya kecerdasan. Persoalan utama terletak pada pudarnya keberanian berpikir kritis dan melawan ketidakadilan.

Pandangan tersebut disampaikan Founder Social Movement Institute, Eko Prasetyo, dalam Kuliah Tamu Nasional Sosiologi FISIP UMM. Kegiatan berlangsung di Gedung Kuliah Bersama 1 Lantai 6 UMM, Sabtu (13/6).

Tema yang diangkat adalah “Kaum Cendekiawan dan Krisis Moral Perlawanan”. Tema tersebut mengajak mahasiswa merefleksikan kembali peran kampus sebagai ruang lahirnya intelektual kritis.

Kampus Dinilai Kehilangan Marwah Intelektual

Dalam pemaparannya, Eko menjelaskan krisis moral perlawanan muncul akibat perubahan struktural pendidikan. Pendidikan dinilai semakin berorientasi pragmatis dan individualistis.

Dominasi teknologi juga disebut turut mengubah wajah pendidikan tinggi. Akibatnya, marwah kampus perlahan mengalami pergeseran.

Perguruan tinggi kini lebih sering dipandang sebagai pencetak tenaga kerja. Fungsi pembentukan karakter dinilai semakin terpinggirkan.

Mahasiswa pun disebut semakin jauh dari tradisi memperjuangkan kepentingan publik. Kondisi tersebut memicu melemahnya daya kritis di lingkungan akademik.

“Kampus adalah dunia yang dinamis, jangan hidup monoton,” tegas Eko.

Ia mengajak mahasiswa aktif berdiskusi dan berorganisasi. Lingkungan akademik harus dimanfaatkan untuk menguji gagasan.

“Keberanian mempertanyakan persoalan sosial menjadi fondasi lahirnya intelektual pembawa perubahan,” ujarnya.

Komersialisasi Pendidikan dan Disrupsi Informasi

Eko juga mengkritik komersialisasi pendidikan yang semakin menguat. Menurutnya, akses pendidikan kini semakin mahal dan eksklusif.

Ruang perjumpaan lintas kelas sosial menjadi semakin terbatas. Empati sosial pun dinilai ikut mengalami penurunan.

Di sisi lain, banjir informasi terus terjadi melalui gawai. Namun, informasi melimpah tidak selalu menghasilkan pemahaman mendalam.

Mahasiswa disebut mengetahui banyak isu. Akan tetapi, akar persoalan sering gagal dipetakan secara utuh.

Fenomena tersebut dipicu lemahnya budaya literasi. Dialog mendalam dan kemampuan analitis juga dinilai mulai terabaikan.

Kampus Harus Menjaga Tradisi Intelektual

Menurut Eko, egoisme dan hasrat kekuasaan semakin mengakar dalam kehidupan sosial. Kondisi itu terus dipelihara oleh berbagai lembaga masyarakat.

Akibatnya, keberanian mengkritik ketidakadilan semakin melemah. Budaya kepatuhan menjadi lebih dominan dibanding pemikiran independen.

“Kampus memiliki tanggung jawab besar menjaga tradisi intelektual tetap hidup,” jelasnya.

Ia menegaskan kampus harus menjadi ruang tumbuhnya gagasan kritis. Kebebasan berpikir juga perlu terus dirawat.

Mahasiswa Didorong Turun Membela Kepentingan Rakyat

Pada akhir kuliah tamu, pesan reflektif kembali disampaikan kepada civitas academica. Krisis moral perlawanan dinilai hanya dapat diakhiri melalui keberanian mahasiswa.

Mahasiswa didorong meninggalkan sikap apatis terhadap persoalan sosial. Keterlibatan langsung dalam kehidupan masyarakat dianggap sangat penting.

Seorang intelektual sejati tidak diukur dari banyaknya gelar akademik. Nilai intelektual ditentukan oleh keberanian memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan.

Kampus juga diharapkan kembali menjadi ruang subur bagi gagasan kritis. Independensi dan keberpihakan kepada masyarakat harus terus dijaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *