Indonesiandaily.com – Air bersih yang selama ini terbuang dari proses pendinginan mesin justru dilihat sebagai peluang oleh Mukhamad Bagus Fitri. Lulusan terbaik Teknik Mesin S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) itu merancang sistem penampungan yang memungkinkan air bekas pendinginan digunakan kembali di lingkungan industri.
Inovasi tersebut berangkat dari persoalan sederhana tetapi berdampak pada efisiensi penggunaan air. Dalam proses pendinginan gula dan air pada mesin mix tank di sebuah pabrik pengolahan susu, terdapat air bersih hasil pendinginan yang sebelumnya langsung terbuang.
Jumlahnya tidak sedikit. Dalam waktu relatif singkat, air yang terbuang dapat mencapai 238 liter.
Bagus kemudian merancang bak penampung berkapasitas 238 liter dengan dimensi 170 x 35 x 40 sentimeter. Air yang sebelumnya menjadi limbah tersebut ditampung untuk selanjutnya ditransfer menuju utility tank sehingga dapat dimanfaatkan kembali.
“Air tersebut secara kimiawi masih sangat bagus. Lewat skripsi ini, saya buatkan desain sistem penampungan agar bisa ditransfer ke utility tank untuk di-recycle kembali,” kata Bagus.
Mengubah Air Terbuang Menjadi Sumber Efisiensi
Bagi Bagus, persoalan utama bukan sekadar membuat tempat penampungan. Sistem yang dirancang harus mampu bekerja secara aman dan sesuai kebutuhan industri.
Di bawah bimbingan Ir. Soeparno Djiwo, MT., dan Sibut, ST., MT., ia memodelkan konstruksi menggunakan Autodesk Inventor 2020. Kekuatan struktur kemudian diuji melalui metode Finite Element Analysis (FEA) menggunakan ANSYS Workbench 2021 R2.
Material yang digunakan terdiri dari pelat Stainless Steel SUS 304 food grade serta rangka baja profil L ASTM A36. Hasil simulasi menunjukkan konstruksi mampu menahan beban hidrostatik dengan safety factor sekitar 15.
Angka tersebut jauh melampaui batas minimal faktor keamanan yang digunakan dalam perancangan, yakni 2. Artinya, rancangan tidak berhenti pada gagasan penghematan air, tetapi telah diuji dari sisi kekuatan konstruksinya.
Dampak yang dibidik juga jelas: mengurangi pemborosan air bersih sekaligus membuka peluang efisiensi pemakaian sumber daya pada proses produksi.
Skripsi yang Lahir dari Pengalaman di Lapangan
Karya tersebut menjadi tugas akhir Bagus sekaligus bukti bahwa persoalan teknis di industri dapat diterjemahkan menjadi solusi melalui pendekatan akademik.
Pengalaman langsung di lingkungan pabrik turut membentuk cara pandangnya. Saat menjalani magang, kontribusinya mendapat apresiasi dari pihak manajemen pabrik pengolahan susu, terutama terkait kedisiplinan dan solusi teknis yang ditawarkan.
Namun, perjalanan Bagus menuju ruang industri tidak berlangsung instan.
Putra Muslikh, pemilik toko kelontong kecil, dan Solikhah, ibu rumah tangga, itu sempat mengambil jeda dua tahun setelah lulus dari SMKN Rembang Pasuruan. Ia bekerja sebagai buruh produksi di PT Yamaha Electronics Manufacturing Indonesia.
Dari penghasilan tersebut, Bagus menabung untuk membiayai sendiri pendaftaran kuliah, UKT hingga Dana Pengembangan Pendidikan (DPP).
Selama menjadi mahasiswa ITN Malang, ia kembali mencari cara agar kebutuhan kuliah tidak sepenuhnya bergantung kepada keluarga. Ia menerima jasa gambar teknik, bekerja sebagai drafter freelance, menjadi asisten Laboratorium Komputer CAD Studio dan CNC, hingga menjadi instruktur pelatihan desain mesin.
“Awal masuk kuliah sempat struggle karena dua tahun tidak memegang pena dan buku,” ujarnya.
Perlahan, lingkungan akademik membuatnya kembali menemukan ritme belajar. Aktivitas di Himpunan Mahasiswa Mesin, diskusi dengan dosen, serta dukungan guru dan alumni turut mendorongnya berkembang.
Dari Kampus, Bersiap Masuk Industri
Prestasi akademik dan pengalaman teknis tersebut membawa Bagus ke tahap berikutnya. Setelah menyelesaikan ujian komprehensif, ia mengikuti proses seleksi di sejumlah perusahaan, antara lain PT HM Sampoerna, PT Cleo, PT Cemindo Gemilang, PT Motasa Indonesia, PT Tirta Fresindo Jaya (Mayora Group) dan PT Yakult.
Ia kini membawa satu target utama: membangun karier di sektor produksi, melanjutkan studi magister Teknik Mesin, sekaligus mengembangkan bisnis pengolahan limbah kelapa dan usaha ekspor-impor.
Bagus menjadi lulusan terbaik Teknik Mesin S-1 pada Wisuda ke-76 Periode II ITN Malang, 19 September 2026, dengan IPK 3,76.
Di balik capaian tersebut, ia membawa pesan sederhana dari orang tuanya. Keahlian teknik, menurutnya, tidak seharusnya berhenti sebagai pencapaian pribadi.
“Ilmu yang didapat harus digunakan untuk membantu masyarakat dan tidak lupa pada orang-orang yang pernah membantu kita,” pungkasnya.



