Empat Wisudawan Terbaik UNISMA Punya Kisah Berbeda, dari Kuliah Sambil Bekerja hingga Bangun PAUD Desa

Empat Wisudawan Terbaik UNISMA Punya Kisah Berbeda, dari Kuliah Sambil Bekerja hingga Bangun PAUD Desa

Indonesiandaily.com – Empat wisudawan terbaik Universitas Islam Malang (UNISMA) membuktikan bahwa prestasi akademik dapat diraih melalui jalan yang berbeda. Ada mahasiswa yang membiayai kuliah dengan bekerja serabutan, ibu bekerja yang menuntaskan studi magister dalam 1,5 tahun, hingga pengelola PAUD desa yang meraih IPK 4,00 setelah kembali kuliah pada usia 35 tahun.

Mereka berasal dari Program Studi Pendidikan Matematika, Magister Kenotariatan, Manajemen, serta Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD). Di balik capaian akademik tersebut, tersimpan kisah tentang konsistensi belajar, tanggung jawab keluarga, dan upaya meningkatkan kualitas diri.

Kuliah Sambil Bekerja, Tetap Fokus pada Prestasi

Weni Wihayningrum, wisudawan Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNISMA, meneliti hubungan kecemasan matematis, konsep diri, dan sertifikasi dengan kemampuan berpikir kritis siswa MTsN 6 Malang.

Penelitiannya menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis berkaitan dengan sejumlah faktor tersebut. Kajian ini berangkat dari persoalan pembelajaran matematika, khususnya bagaimana kondisi psikologis dan persepsi siswa berkaitan dengan kemampuan mereka dalam berpikir kritis.

Pencapaian Weni semakin menarik karena ia menjalani kuliah sambil bekerja untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya. Selama menjadi mahasiswa, ia pernah bekerja sebagai tenaga promosi, guru tari, serta pembina Olimpiade Matematika.

Kesibukan tersebut tidak membuatnya mengabaikan kewajiban akademik. Ia berusaha mengatur agenda mingguan agar pekerjaan dan kegiatan lainnya tetap berjalan tanpa mengorbankan waktu belajar.

“Jangan lupa dengan kewajiban kita sebagai mahasiswa, yaitu belajar,” ujarnya.

Weni juga mengapresiasi fasilitas pembelajaran dan pendampingan dosen di UNISMA. Ia menilai lingkungan akademik yang memadai membantunya menjalani perkuliahan. Setelah lulus, ia berencana melanjutkan studi ketika kondisi finansialnya memungkinkan.

Selesaikan S2 dalam Tiga Semester Sambil Bekerja dan Mengurus Keluarga

Kisah berikutnya datang dari Diah Ayu Puspitasari, lulusan terbaik Magister Kenotariatan Pascasarjana UNISMA. Alumni Fakultas Hukum UNISMA itu menyelesaikan pendidikan magister dalam tiga semester atau 1,5 tahun.

Di tengah kesibukannya sebagai karyawan di salah satu sekolah di lingkungan UNISMA, Diah juga menjalankan peran sebagai istri dan ibu. Ia harus membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan penyelesaian tesis.

Penelitiannya mengangkat kedudukan notaris dalam praktik perjanjian perbankan. Ia menyoroti kebiasaan bank menggunakan notaris rekanan, sementara nasabah terkadang ingin menggunakan notaris pilihannya sendiri.

Menurut Diah, penggunaan notaris rekanan dapat mempermudah administrasi dan mempercepat proses perjanjian. Namun, praktik tersebut juga menarik dikaji dari sisi pilihan nasabah dan kedudukan notaris dalam hubungan dengan perbankan.

Penelitian itu menggunakan sampel dua bank yang identitasnya disamarkan. Diah berharap kajiannya dapat memperkaya pembahasan mengenai praktik kenotariatan dalam transaksi perbankan.

Keputusan melanjutkan pendidikan juga berangkat dari keinginan lama yang akhirnya mendapat dukungan suami. Kesempatan belajar saat anaknya mulai tumbuh besar menjadi salah satu pertimbangan untuk segera menuntaskan cita-cita tersebut.

“Sebenarnya ini cita-cita sebelum menikah dulu. Alhamdulillah, suami sangat mendukung,” ungkapnya.

Sebagai alumni UNISMA, Diah juga memperoleh potongan 20 persen biaya SPP. Menurutnya, dukungan tersebut membantu meringankan biaya pendidikan selama menempuh studi magister.

Meneliti Digital Marketing, Temukan Jarak antara Pengikut dan Minat Beli

Dari Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNISMA, Sonia Amaliah Rofiah mengangkat persoalan pemasaran digital melalui media sosial Instagram.

Skripsinya meneliti persepsi konsumen terhadap personal branding sebuah merek abaya, Sundara Exclusive, yang berasal dari Bandung. Ia tertarik meneliti merek tersebut karena melihat jumlah pengikut Instagram yang tidak sebanding dengan interaksi berupa tanda suka, komentar, dan aktivitas lainnya.

Sonia ingin mengetahui apakah banyaknya pengikut menunjukkan ketertarikan konsumen untuk membeli atau sekadar keinginan mencari informasi mengenai produk.

Hasil penelitiannya memperlihatkan bahwa konsumen yang menjadi objek kajian masih banyak berada pada tahap mengenali dan membandingkan merek. Dengan demikian, tingginya jumlah pengikut belum cukup untuk menggambarkan minat beli maupun keberhasilan penjualan.

Temuan tersebut menjadi pengingat bagi pelaku usaha bahwa strategi pemasaran digital tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan pengikut. Merek juga perlu membangun interaksi yang relevan agar komunikasi dengan calon konsumen lebih efektif.

Sonia mengaku tidak menyangka dapat meraih predikat wisudawan terbaik. Baginya, konsistensi belajar menjadi salah satu kunci selama kuliah.

Ia memilih belajar secara rutin dalam durasi yang terukur daripada menumpuk materi menjelang ujian.

“Belajar setiap hari, misalnya satu atau dua jam, lebih baik daripada menumpuk materi dalam satu waktu,” tuturnya.

Kembali Kuliah pada Usia 35 Tahun, Raih IPK 4,00

Kisah inspiratif lainnya datang dari Udianna, lulusan Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Agama Islam UNISMA. Ia meraih IPK 4,00 setelah kembali menempuh pendidikan sarjana pada usia 35 tahun.

Keputusannya kuliah tidak terlepas dari pengabdian kepada masyarakat. Ia merupakan pengelola sekaligus kepala sekolah PAUD Pelamboyantika di Desa Gading Kulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Lembaga tersebut berawal dari kegiatan kader Bina Keluarga Balita (BKB) dan layanan Taman Posyandu. Kegiatan itu mempertemukan para kader dengan keluarga yang membutuhkan layanan pendidikan anak usia dini. Tingginya minat masyarakat kemudian mendorong upaya pendirian lembaga PAUD di desa tersebut.

Bersama dua rekannya, Udianna ikut merintis layanan pendidikan itu meski mereka tidak memiliki latar belakang sebagai tenaga pendidik profesional. Saat itu, pendidikan terakhir mereka masih SMA dan SMP.

Keinginan mengembangkan layanan pendidikan di desa mendorong ketiganya melanjutkan studi. Mereka kemudian memperoleh kesempatan beasiswa UNISMA melalui program kerja sama dengan organisasi yang menaungi pendidikan anak usia dini.

Udianna pun menjalani perkuliahan sambil tetap menjalankan tanggung jawab keluarga dan mengelola lembaga pendidikan. Setelah empat tahun menempuh pendidikan, ia akhirnya menyelesaikan studi pada usia 39 tahun dengan IPK sempurna.

Perjalanan Udianna menunjukkan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya sarana meraih gelar, tetapi juga bekal untuk memperkuat pengabdian kepada masyarakat. Ilmu yang diperolehnya diharapkan dapat mendukung pengembangan PAUD yang telah dirintis bersama rekan-rekannya.

Keempat wisudawan tersebut menempuh jalur berbeda untuk meraih prestasi. Namun, pengalaman mereka memperlihatkan benang merah yang sama: capaian akademik membutuhkan konsistensi, kemampuan mengelola waktu, dan tujuan belajar yang jelas.

Bagi Weni, pendidikan menjadi jalan untuk memperjuangkan kemandirian finansial. Bagi Diah, studi magister merupakan upaya mewujudkan cita-cita di tengah tanggung jawab keluarga. Sonia menjadikan riset sebagai cara memahami perilaku konsumen, sedangkan Udianna membawa pendidikan kembali ke desa untuk mendukung layanan bagi anak usia dini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *