Indonesiandaily.com – Pengembangan plastik biodegradable membutuhkan pengujian lebih mendalam agar tidak menimbulkan risiko baru bagi ekosistem perairan. Riset Nur Aini Azizah, mahasiswi Pascasarjana Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB), memberikan gambaran tentang respons organisme laut terhadap hasil degradasi material tersebut.
Penelitian yang didukung program Universitas Brawijaya Student Academic Research Scheme (UB STARS) itu dipublikasikan dalam jurnal internasional Ecotoxicology yang terindeks Scopus Q1 pada 2026.
Temuan ini dapat menjadi pijakan bagi penelitian lanjutan untuk menilai keamanan plastik biodegradable sekaligus mendukung pengembangan material alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Mengidentifikasi Risiko bagi Organisme Laut
Bersama tim peneliti, Aini menguji air lindi (leachate) dari mikroplastik polipropilena biodegradable terhadap tiga jenis mikroalga laut. Pengujian laboratorium selama 96 jam menunjukkan bahwa Chlorella sp. merupakan jenis yang paling sensitif terhadap paparan tersebut.
Hasil ini menunjukkan pentingnya menguji dampak biologis material biodegradable, bukan hanya mengandalkan kemampuannya untuk terurai. Proses degradasi perlu dikaji lebih jauh untuk memastikan material tersebut tidak membawa risiko bagi organisme perairan.
“Tujuan kami dalam project ini adalah untuk mengetahui apakah benar plastik biodegradable yang selama ini dipromosikan sebagai solusi dari plastik konvensional tersebut aman untuk ekosistem perairan,” ujar Aini.
Meski demikian, pengujian ini masih terbatas pada kondisi laboratorium. Penelitian lanjutan tetap diperlukan untuk mengetahui bagaimana dampaknya dalam ekosistem laut yang sesungguhnya.
Menjadi Dasar Pengembangan Material Ramah Lingkungan
Riset Aini relevan bagi upaya pengembangan alternatif plastik konvensional. Informasi mengenai respons mikroalga dapat membantu peneliti mengidentifikasi potensi risiko sejak tahap pengembangan material, sehingga aspek keamanan lingkungan tidak hanya dinilai dari kemampuan plastik untuk terurai.
Temuan tersebut juga berpotensi memperkaya dasar ilmiah bagi evaluasi penggunaan plastik biodegradable. Namun, hasil penelitian ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh jenis plastik biodegradable berbahaya atau tidak aman.
Penelitian dilakukan bersama dosen pembimbing Prof. Ir. Aida Sartimbul, M.Sc., Ph.D., dari FPIK UB dan Dr. Ir. Dwi Hindarti, M.Sc., peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Kolaborasi tersebut memberikan kesempatan bagi Aini untuk mengembangkan riset melalui lingkungan penelitian yang melibatkan akademisi dan peneliti lintas institusi.
Publikasi Ilmiah sebagai Bekal Peneliti Muda
Riset ini menghasilkan dua publikasi ilmiah dengan fokus pengujian berbeda. Artikel pertama terbit di jurnal Biotropika pada 2025, kemudian disusul publikasi di Ecotoxicology pada 2026.
Pencapaian tersebut melalui proses publikasi sekitar sembilan bulan. Aini harus beberapa kali menyesuaikan tujuan jurnal karena naskahnya belum sesuai dengan ruang lingkup penerbit yang dituju.
Proses itu mengajarkannya pentingnya memperkuat kebaruan penelitian, menjelaskan kesenjangan riset, serta menyampaikan temuan berdasarkan data.
Ia berharap pengalaman dan hasil penelitiannya dapat mendorong lebih banyak mahasiswa mengembangkan riset yang menjawab persoalan lingkungan dan menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
Aini juga mengingatkan peneliti muda agar tidak menyerah ketika menghadapi penolakan dalam proses publikasi ilmiah.
“Yang bisa kita lakukan hanyalah menulis, submit, dan revisi sampai tulisan kita menemukan rumahnya. Jika kita tak pernah submit, jangan harap menemukan rumah itu,” tuturnya.



