Indonesiandaily.com – Rivalitas Tiongkok dan Amerika Serikat tidak selalu hanya menguntungkan negara-negara besar. Negara kecil pun memiliki ruang untuk bermanuver dan memperjuangkan kepentingannya sendiri.
Temuan itu terungkap dalam riset Hillbra Naufal Demelzha Gunawan, lulusan terbaik Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 2026.
Melalui penelitiannya, Hillbra mengungkap bagaimana Solomon Islands memanfaatkan persaingan kekuatan besar untuk menjaga kepentingan politik domestiknya.
Temuan tersebut dituangkan dalam artikel ilmiah berjudul “(Re)thinking the Small State: Regime-Centric Agency and the Solomon Islands-China Alignment.”
Artikel tersebut diterbitkan di Social Sciences & Humanities Open oleh Elsevier dan terindeks Scopus Q1 pada Juni 2026.
Penelitian ini memperkenalkan pendekatan Regime-Centric Agency (RCA) untuk melihat hubungan antara kepentingan politik domestik dan kebijakan luar negeri negara kecil.
Solomon Islands Punya Ruang Manuver
Riset Hillbra berangkat dari keputusan Solomon Islands mengubah pengakuan diplomatiknya dari Taiwan ke Tiongkok pada 2019.
Perubahan tersebut selama ini dapat dilihat sebagai bagian dari persaingan geopolitik atau praktik cheque-book diplomacy.
Namun, Hillbra menemukan bahwa keputusan tersebut juga berkaitan erat dengan kepentingan politik domestik pemerintahan Sogavare.
Menurutnya, pemerintah Solomon Islands memiliki kepentingan mempertahankan stabilitas sekaligus menjaga keberlangsungan kekuasaan di tengah tekanan politik dalam negeri.
“Saya melihat Solomon Islands sebagai negara kecil yang menarik karena mereka ternyata tidak hanya menjadi objek persaingan negara besar. Ada kepentingan elite politik di dalam negeri yang ikut membentuk keputusan luar negerinya,” ujar Hillbra.
Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri negara kecil tidak selalu ditentukan oleh tekanan dari kekuatan besar.
Sebaliknya, rivalitas Tiongkok dan Amerika Serikat dapat dimanfaatkan sebagai ruang manuver untuk mencapai kepentingan domestik.
Kepentingan Politik di Balik Kedekatan dengan Tiongkok
Melalui pendekatan RCA, Hillbra melihat kebijakan luar negeri sebagai bagian dari strategi rezim dalam mempertahankan kekuasaan.
Kedekatan Solomon Islands dengan Tiongkok tidak hanya berkaitan dengan posisi negara tersebut dalam rivalitas Beijing dan Washington.
Ada kepentingan pemerintah untuk memperoleh dukungan keamanan dan pendanaan ketika menghadapi tekanan politik domestik.
Salah satunya berkaitan dengan persaingan pemerintah dengan kelompok oposisi di Provinsi Malaita.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa keputusan politik luar negeri dapat menjadi instrumen untuk memperkuat posisi rezim di dalam negeri.
Dengan demikian, hubungan dengan kekuatan besar tidak semata-mata dipahami sebagai respons negara kecil terhadap tekanan eksternal.
Negara Kecil Tidak Selalu Menjadi Pion
Temuan Hillbra menawarkan perspektif berbeda dalam kajian small state.
Negara kecil memang memiliki keterbatasan sumber daya dan pengaruh dibandingkan negara besar.
Namun, keterbatasan tersebut tidak berarti mereka kehilangan kemampuan untuk menentukan strategi.
Dalam kondisi tertentu, persaingan negara besar justru menciptakan ruang bagi negara kecil untuk menjalankan kepentingannya.
“Temuan paling penting dari penelitian ini adalah negara kecil tidak selalu menjadi pion. Mereka memiliki agensi dan dapat memanfaatkan persaingan geopolitik untuk mencapai kepentingan domestiknya sendiri,” tegas Hillbra.
Perspektif tersebut sekaligus memperluas pemahaman mengenai hubungan internasional.
Negara kecil tidak hanya diposisikan sebagai objek kebijakan negara besar, tetapi juga sebagai aktor yang mampu membaca situasi dan memilih strategi.
Berawal dari Tugas Kuliah
Menariknya, penelitian yang berujung pada publikasi Scopus Q1 tersebut bermula dari tugas mata kuliah Metode Riset Mutakhir saat Hillbra duduk di semester enam.
Gagasan tersebut kemudian dikembangkan bersama mentor sekaligus dosen UMM, Dion Maulana Prasetya, Ph.D.
Proses penelitian hingga publikasi berlangsung sekitar satu setengah tahun.
Ketertarikan Hillbra terhadap isu negara-negara kecil bermula dari praktikum Kajian Kawasan dalam Hubungan Internasional yang membahas Kepulauan Pasifik.
Ia kemudian memperdalam literatur mengenai posisi negara kecil dalam rivalitas kekuatan besar.
Dari proses tersebut, Hillbra menemukan celah penelitian mengenai pengaruh dinamika elite domestik terhadap kebijakan luar negeri.
Aktif Mengembangkan Riset
Selain meneliti Solomon Islands, Hillbra aktif dalam riset sosial-humaniora melalui Kolektif Parrhesia.
Ia juga menjadi mentor metodologi penelitian dan teori HI di Study Club Laboratorium HI UMM x HIMAHI UMM.
Aktivitas akademiknya turut diiringi dengan kegiatan menulis di sejumlah media daring.
Hillbra bahkan telah menghasilkan lebih dari 200 berita untuk Program Studi HI UMM.
Sejumlah penelitian lain yang pernah digelutinya antara lain fenomena Sound Horeg di Kabupaten Malang dan pengembangan Eduwisata Kopi di Tirtoyudo.
Bagi Hillbra, penelitian tidak harus dimulai dari persoalan yang besar.
“Penelitian itu bukan sesuatu yang harus ditakuti. Mulai saja dari persoalan yang benar-benar membuat kita penasaran, lalu bangun argumennya dengan data dan proses yang tertib,” imbuhnya.
Pengalaman meneliti Solomon Islands menjadi bukti bahwa gagasan mahasiswa dapat berkembang menjadi karya akademik yang memiliki kontribusi dalam kajian hubungan internasional.
Ia pun mendorong mahasiswa untuk tidak takut memulai penelitian.
Menurutnya, persoalan sederhana yang memunculkan rasa penasaran dapat menjadi pintu masuk menuju penelitian yang lebih besar.
Bagi mahasiswa, kata Hillbra, hal terpenting adalah berani memulai, membangun argumentasi berdasarkan data, serta menjalani proses penelitian secara tertib.
