Indonesiandaily.com – Matematika tidak selalu harus dipelajari melalui angka, rumus, dan soal di ruang kelas. Proses pembuatan makanan tradisional ternyata menyimpan beragam konsep matematika yang bisa dipelajari secara langsung.
Pengalaman itu diperoleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Malang (UNISMA), melalui studi lapang di tempat produksi geblek dan kue apang.
Kegiatan ini membawa mahasiswa mengenali penerapan matematika dalam aktivitas masyarakat. Mereka mengamati proses produksi, mewawancarai pelaku usaha, serta mendokumentasikan tahapan pembuatan makanan tradisional.
Studi lapang berlangsung di dua lokasi. Pertama, tempat produksi geblek di Desa Pringgodani, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, pada 19 Oktober 2026. Kedua, usaha kue apang khas Bugis di kawasan Dinoyo, Kota Malang, pada 28 Oktober 2026.
Menemukan Konsep Matematika di Dapur Tradisional
Dari aktivitas produksi tersebut, mahasiswa mengidentifikasi berbagai konsep matematika yang selama ini hadir dalam kegiatan sehari-hari.
Mulai dari pengukuran bahan baku, perbandingan komposisi, geometri, hingga perhitungan biaya dan hasil produksi. Temuan itu kemudian dikembangkan menjadi persoalan matematika menggunakan pendekatan problem posing atau perumusan soal berdasarkan situasi nyata.
Ketua peneliti, Dr. Alifiani, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun kemampuan mahasiswa dalam menemukan dan merumuskan persoalan matematika dari lingkungan masyarakat.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya terampil menyelesaikan soal matematika, tetapi juga mampu menemukan persoalan dalam kehidupan masyarakat dan mengubahnya menjadi masalah matematis yang bermakna,” jelasnya.
Menurut Alifiani, pendekatan tersebut membantu mahasiswa memahami bahwa matematika bukan sekadar kumpulan rumus. Ilmu ini juga dapat digunakan untuk membaca dan menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
AI Menjadi Mitra Berpikir, Bukan Pengganti Mahasiswa
Selain mengeksplorasi konsep matematika dalam kuliner tradisional, penelitian ini juga mengintegrasikan teknologi Artificial Intelligence (AI).
Mahasiswa memanfaatkan AI sebagai metacognitive partner atau mitra berpikir untuk mengevaluasi dan memperbaiki soal yang mereka susun berdasarkan hasil observasi lapangan.
Alifiani menegaskan, penggunaan AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan proses berpikir mahasiswa atau sekadar menghasilkan soal secara otomatis.
“Mahasiswa tetap harus berpikir kritis, memeriksa kesesuaian informasi, dan mengevaluasi apakah soal yang mereka susun benar-benar mencerminkan persoalan matematika, budaya, serta keberlanjutan pangan,” tambahnya.
Pendekatan ini sekaligus melatih calon guru matematika agar mampu memanfaatkan teknologi. Utamanya secara tepat tanpa kehilangan kemampuan analisis dan refleksi.
Menghubungkan Matematika dengan Ketahanan Pangan
Penelitian tersebut mengusung tema Pembelajaran Matematika Berbasis Artificial Intelligence. Diantaranya sebagai Metacognitive Partner dalam Konteks Etnomatematika Pangan.
Melalui pendekatan ini, mahasiswa juga diajak menghubungkan pembelajaran matematika dengan SDG 2 (Zero Hunger). Yakni tujuan pembangunan berkelanjutan terkait penghapusan kelaparan dan ketahanan pangan.
Penelitian yang dilaksanakan Alifiani bersama Dr. Surya Sari Faradiba, S.Si., M.Pd., tersebut menjadi upaya UNISMA menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih kontekstual.
Integrasi teknologi AI, budaya lokal, dan isu keberlanjutan pangan. Ini diharapkan mampu membentuk calon guru matematika yang kreatif, reflektif, serta peka terhadap persoalan masyarakat.
Melalui pengalaman belajar di tempat produksi geblek dan kue apang, mahasiswa tidak hanya menemukan rumus di balik proses pembuatan makanan. Mereka juga belajar bahwa lingkungan dan kearifan lokal dapat menjadi sumber pembelajaran yang dekat dengan kehidupan.



