Indonesiandaily.com – Persoalan penurunan produktivitas tanaman tidak cukup diatasi dengan mengandalkan pupuk dan pestisida kimia. Kesehatan ekosistem pertanian, termasuk keberadaan mikroorganisme tanah, menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan untuk menjaga pertumbuhan dan ketahanan tanaman.
Gagasan tersebut menjadi salah satu fokus penelitian Prof. Luqman Ourata Aini, S.P., M.Si., Ph.D., yang dikukuhkan sebagai profesor Universitas Brawijaya (UB), Sabtu (7/11/2026), di Gedung Samantha Krida.
Dalam pemaparannya, ia menyoroti pentingnya mengembalikan fungsi mikroba menguntungkan di lingkungan pertanian. Selama ini, praktik budidaya konvensional cenderung mengandalkan input dari luar tanpa cukup mempertimbangkan keseimbangan ekologi di lahan pertanian.
Padahal, ekosistem tanah memiliki berbagai mikroorganisme yang berperan dalam siklus hara, penyediaan nutrisi alami, perlindungan tanaman, hingga merangsang pertumbuhan.
Kembalikan Peran Mikroba dalam Ekosistem Pertanian
Menurutnya, penggunaan pestisida dan praktik budidaya yang kurang memperhatikan kondisi lingkungan dapat mengganggu bahkan mematikan mikroba yang sebenarnya bermanfaat bagi tanaman.
Mikroorganisme tersebut memiliki beragam fungsi, mulai dari membantu penyediaan unsur hara, menjadi agen pengendali hayati, melindungi tanaman dari gangguan patogen, hingga merangsang pertumbuhan secara alami.
Namun, pemanfaatan mikroba sebagai agen hayati masih menghadapi kendala. Salah satunya karena aplikasi sering hanya mengandalkan satu jenis mikroorganisme yang belum tentu mampu bertahan menghadapi kondisi lingkungan yang beragam.
“Ketika diaplikasikan di lapangan, mikroba akan berhadapan dengan berbagai tekanan lingkungan. Karena itu, satu jenis mikroba sering kali tidak cukup untuk memberikan hasil optimal,” jelasnya.
Kembangkan Konsorsium Bakteri Tahan Berbagai Cekaman
Untuk mengatasi persoalan tersebut, ia mengembangkan pendekatan konsorsium bakteri yang memiliki kemampuan bertahan terhadap berbagai cekaman lingkungan sekaligus mendorong pertumbuhan tanaman.
Pendekatan ini menggabungkan beberapa bakteri dengan karakteristik berbeda agar dapat bekerja secara sinergis. Mikroba yang dikembangkan diharapkan mampu menghadapi kondisi seperti suhu ekstrem, kekeringan, serta kadar garam tinggi atau salinitas tanah.
Eksplorasi mikroba dilakukan dari berbagai sumber lingkungan, termasuk kawasan hutan dan tanaman yang hidup pada kondisi dengan tingkat salinitas tertentu.
Hasil penelitian menunjukkan sejumlah bakteri memiliki potensi tidak hanya bertahan dalam kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, tetapi juga membantu meningkatkan pertumbuhan tanaman.
Pengujian bahkan dilakukan pada sistem hidroponik untuk melihat kemampuan mikroba dalam mendukung pertumbuhan tanaman pada lingkungan budidaya yang memiliki tantangan tersendiri.
Perbaikan Ekosistem Harus Mendahului Aplikasi Mikroba
Meski demikian, penggunaan konsorsium mikroba tidak bisa dilakukan secara terpisah dari perbaikan lingkungan pertanian.
Ia menekankan pentingnya membangun ekosistem tanah yang sehat sebelum mengaplikasikan agen hayati. Salah satu langkah utamanya adalah meningkatkan kandungan bahan organik tanah sebagai sumber pendukung kehidupan mikroorganisme.
Selain itu, petani perlu mengurangi praktik budidaya yang berpotensi merusak komunitas mikroba, termasuk penggunaan bahan kimia secara tidak terkendali.
“Kalau hanya mengandalkan aplikasi agen hayati tanpa memperbaiki kondisi ekologinya, mikroba tersebut sering kali tidak bisa bekerja optimal,” paparnya.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap input kimia sekaligus membangun sistem pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Melalui pengembangan konsorsium bakteri dan pengelolaan ekosistem secara terpadu, penelitian ini menawarkan pendekatan bioteknologi untuk meningkatkan kesehatan serta produktivitas tanaman.
Pengukuhan Prof. Luqman Ourata Aini menambah jajaran akademisi UB yang berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Ia tercatat sebagai profesor aktif ke-25 di Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan, profesor aktif ke-261 di tingkat universitas, serta profesor ke-461 yang telah dihasilkan UB.



