Indonesiandaily.com – Buku bukan sekadar kumpulan tulisan, tetapi juga ruang untuk membaca ulang sejarah, mengkritisi persoalan sosial, dan memahami perubahan budaya. Gagasan itu mengemuka dalam kegiatan Book Discussion Week bertajuk “Dialektika Karya: Ruang Temu Buku dan Film” yang digelar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), 2–6 November 2026.
Memperingati Dies Natalis ke-17 FIB UB, kegiatan ini menghadirkan sejumlah diskusi buku yang membahas beragam isu, mulai dari industri sastra anak, puisi antikorupsi, sejarah Jawa kuno, hingga narasi kelompok marginal yang kerap terpinggirkan dari catatan sejarah.
Salah satu buku yang dibedah adalah Industri Budaya Sastra Anak: Esai tentang Ekosistem Buku Anak di Indonesia karya Henny Indarwaty, M.A. pada 5 November 2026. Diskusi menghadirkan Rizky Noviasri, M.Ds. dari Universitas Internasional Semen Indonesia sebagai pembedah.
Pembahasan tersebut mengangkat persoalan ekosistem sastra anak, termasuk proses produksi, distribusi, hingga posisi buku anak dalam industri budaya Indonesia.
Sehari sebelumnya, peserta juga mendiskusikan buku Cerita-Cerita yang (Tidak) Mungkin karya Slamet Thohari dan MBGendam 204 Penyair Indonesia: Puisi Menolak Korupsi #10 karya Yohanes Padmo Adi Nugroho. Kedua karya menghadirkan sastra sebagai medium ekspresi, imajinasi, sekaligus kritik terhadap realitas sosial.
Membaca Ulang Sejarah dan Suara yang Terpinggirkan
Diskusi lainnya menghadirkan buku The Precarious Past in Premodern Java karya Wayan Jarrah Sastrawan, Ph.D. dari Australian National University. Buku ini mengulas cara masyarakat Jawa pada abad kelima hingga kelima belas Masehi menyimpan dan mewariskan pengetahuan tentang masa lalu.
Kajian tersebut memperlihatkan bahwa sejarah tidak hanya diwariskan melalui dokumen tertulis. Tradisi lisan, manuskrip, dan berbagai sumber budaya turut membentuk ingatan kolektif masyarakat.
Sementara itu, buku Kalajengking Bandaran karya Ardi Wina Saputra yang dibahas pada 6 November 2026 membawa perspektif berbeda. Karya ini mengangkat Rosella, figur dari kelompok marginal yang tersisih dari sejarah yang ditulis oleh pihak berkuasa.
Melalui diskusi tersebut, sastra menjadi pintu masuk untuk membicarakan kekuasaan, ketidakadilan, dan siapa yang memperoleh kesempatan untuk mewariskan ceritanya.
Mempertemukan Buku, Film, dan Seni Pertunjukan
Ketua Pelaksana Dies Natalis ke-17 FIB UB, Maulfi Syaiful Rizal, S.Pd., M.Pd., mengatakan kegiatan ini dirancang untuk memperkuat budaya literasi akademik sekaligus memperluas ruang diseminasi karya dosen, mahasiswa, penulis, dan pekerja seni.
“Tujuannya memperkuat budaya literasi akademik melalui diseminasi karya ilmiah dan film, pertukaran gagasan, serta diskusi kritis,” ujarnya.
Selain bedah buku, kegiatan juga menghadirkan pemutaran film dokumenter karya mahasiswa melalui Bioskop Pojok FIB. Film-film tersebut mengangkat sejarah desa, tradisi masyarakat, arsitektur Jawa, lingkungan, hingga fenomena budaya populer.
Bazar buku klasik dan pameran aksara serta naskah turut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Kehadirannya memperkenalkan kembali khazanah literasi historis di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial.
Rangkaian kegiatan ditutup melalui Pasar Monolog pada 6 November 2026. Pementasan yang dibawakan Kelompok Bermain Kangkung Berseri tersebut menghadirkan sejumlah penampil dengan naskah dan perspektif cerita berbeda.
Maulfi berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda perayaan tahunan, tetapi berkembang menjadi tradisi literasi yang melibatkan sivitas akademika dan masyarakat luas.
“Harapannya muncul kegiatan literasi sebagai upaya diseminasi hasil penelitian dan pengabdian dosen serta mahasiswa sehingga terbentuk ekosistem literasi yang kolaboratif di perguruan tinggi,” katanya.
Melalui Dialektika Karya, FIB UB berupaya menunjukkan bahwa literasi tidak cukup berhenti pada aktivitas membaca dan menulis. Diskusi, kritik, film, pameran, hingga seni pertunjukan menjadi ruang untuk menghidupkan pengetahuan dan mempertemukan beragam perspektif.



