Indonesiandaily.com – Upaya membangun budaya antigratifikasi tidak cukup hanya mengandalkan aturan dan pengawasan. Kesadaran untuk menolak segala bentuk pemberian yang berpotensi melanggar integritas perlu ditanamkan sejak bangku kuliah.
Langkah tersebut dilakukan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan melibatkan Mahasiswa Duta FSAINTEK dalam sosialisasi pengendalian gratifikasi, Selasa (3/11/2026).
Kegiatan yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting ini menggandeng Satuan Pengawasan Internal (SPI) UIN Malang. Mahasiswa Duta FSAINTEK menjadi sasaran utama karena diharapkan mampu menjadi teladan sekaligus menyebarkan pemahaman antigratifikasi di lingkungan kampus.
Kepala SPI UIN Malang, Dr. Ridwan, hadir sebagai narasumber untuk menjelaskan berbagai bentuk gratifikasi, potensi bahayanya, serta langkah pencegahannya. Pembahasan juga diarahkan pada situasi yang mungkin dijumpai mahasiswa dalam aktivitas akademik maupun organisasi kemahasiswaan.
Pemahaman ini penting agar mahasiswa tidak menganggap semua bentuk pemberian sebagai sesuatu yang wajar. Mereka perlu mengenali batas antara pemberian biasa dan praktik yang berpotensi menjadi gratifikasi.
Mahasiswa Jadi Penggerak Integritas
Wakil Dekan II FST, Dr. Tazi, mengapresiasi pelaksanaan sosialisasi tersebut. Menurutnya, pembentukan karakter mahasiswa harus berjalan seiring dengan penguatan kemampuan akademik.
Mahasiswa tidak cukup hanya memiliki prestasi dan kecakapan intelektual. Mereka juga perlu menunjukkan kejujuran, tanggung jawab, serta integritas dalam setiap aktivitas.
Karena itu, keterlibatan Duta FSAINTEK diharapkan tidak berhenti sebagai peserta sosialisasi. Mereka didorong mengambil peran sebagai agent of change yang mampu menularkan kesadaran antigratifikasi kepada mahasiswa lainnya.
Kegiatan yang dipandu Kepala Bagian Tata Usaha FST, Hilmy, ini menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan kampus yang bersih, transparan, dan bertanggung jawab.
Integritas Harus Dibuktikan
Tantangan membangun budaya antigratifikasi terletak pada penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman terhadap aturan harus diikuti keberanian mengambil sikap ketika berhadapan dengan pemberian yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.
Melalui edukasi ini, UIN Malang mendorong mahasiswa agar menjadikan integritas sebagai bagian dari karakter, bukan sekadar slogan.
Mahasiswa Duta FSAINTEK diharapkan mampu menjadi contoh dalam menjaga kejujuran, menolak praktik gratifikasi, serta membangun budaya akademik yang sehat.
Sebab, kampus berintegritas tidak hanya dibentuk melalui sistem pengawasan, tetapi juga melalui keberanian setiap warganya untuk menjaga nilai kejujuran.



