Sains yang Mencerahkan, Nilai yang Mengarahkan, Inovasi/Teknologi yang Menghadirkan Kemanfaatan

Oleh : Dr. Agus Mulyono MKes

Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Indonesiandaily.com – Usia 65 tahun bagi sebuah universitas bukan sekadar hitungan waktu yang terus bertambah. Di dalamnya ada jejak perjuangan, gagasan yang tumbuh, ilmu yang diwariskan, dan harapan yang terus diperbarui. Dies Maulidiyah ke-65 dan Lustrum XIII UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi momentum yang tepat untuk sejenak menengok perjalanan, sekaligus bertanya dengan jujur: ke mana ilmu yang kita kembangkan akan membawa masa depan manusia? Pertanyaan ini penting, sebab perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi tempat orang belajar dan memperoleh gelar. Ia harus menjadi ruang tempat pengetahuan tumbuh, kebijaksanaan dirawat, dan kemanfaatan bagi kehidupan diperjuangkan.

Bagi Fakultas Sains dan Teknologi (FST), pertanyaan tersebut memiliki makna tersendiri. Sains dan teknologi bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Kecerdasan buatan semakin mampu mengerjakan pekerjaan yang dahulu hanya dapat dilakukan manusia. Kemajuan bioteknologi membuka kemungkinan baru dalam bidang kesehatan dan pangan. Rekayasa material, energi terbarukan, serta teknologi digital menawarkan jalan untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan. Namun, di tengah semua kemajuan itu, ada satu hal yang patut kita renungkan: apakah kemampuan manusia menciptakan teknologi selalu diikuti oleh kemampuannya memahami akibat dari teknologi tersebut? Ternyata, memiliki pengetahuan dan memiliki kebijaksanaan bukanlah dua hal yang otomatis berjalan beriringan.

Di sinilah identitas FST UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menemukan relevansinya. Visi untuk menjadi fakultas yang integratif dalam memadukan sains dan Islam, unggul dan bereputasi internasional, bukan sekadar rangkaian kata yang indah dalam dokumen kelembagaan. Visi itu  menjadi cara berpikir, cara bekerja, sekaligus cara menentukan arah pengembangan fakultas. Integrasi sains dan Islam adalah ikhtiar membangun kesadaran bahwa pencarian kebenaran ilmiah, tanggung jawab moral, dan kemaslahatan manusia merupakan bagian dari perjalanan keilmuan yang saling berhubungan.

Dalam perspektif Islam, manusia diberi amanah untuk mengelola kehidupan, bukan sekadar mengambil manfaat darinya. Karena itu, sains semestinya mencerahkan cara manusia memahami alam, Islam mengarahkan penggunaan pengetahuan agar tetap berada dalam koridor etika, dan teknologi menjadi sarana untuk menghadirkan kemakmuran yang lebih luas. Ketiganya bukan wilayah yang harus berjalan sendiri-sendiri. Sains tanpa tanggung jawab dapat kehilangan arah, teknologi tanpa kebijaksanaan dapat menimbulkan persoalan baru, sedangkan nilai-nilai yang tidak diterjemahkan ke dalam tindakan nyata berisiko berhenti sebagai wacana.

Pemahaman tersebut perlu diwujudkan dalam kehidupan akademik sehari-hari. Di ruang kelas, mahasiswa tidak cukup hanya dibekali penguasaan rumus, algoritma, teori, atau keterampilan menggunakan perangkat teknologi. Mereka perlu dilatih berpikir kritis, berani mempertanyakan asumsi, menghargai bukti, dan menyadari keterbatasan pengetahuannya. Di laboratorium, penelitian tidak semestinya berhenti pada keberhasilan eksperimen atau banyaknya publikasi. Hasil penelitian perlu terus diarahkan untuk menjawab persoalan kesehatan, lingkungan, pangan, energi, dan kebutuhan masyarakat. Sementara itu, di ruang-ruang pengambilan keputusan, integrasi ilmu dan Islam perlu tercermin dalam kejujuran akademik, keadilan, kedisiplinan, serta keberanian menjaga integritas.

Dalam konteks ini, laboratorium FST perlu dipandang lebih dari sekadar fasilitas pendidikan. Laboratorium merupakan ruang tempat rasa ingin tahu diubah menjadi pengetahuan, pengetahuan dikembangkan menjadi inovasi, dan inovasi diuji kemanfaatannya. Penelitian tentang kesehatan, misalnya, tidak berhenti pada pengukuran dan analisis data, tetapi berusaha membuka jalan bagi kualitas hidup yang lebih baik. Penelitian lingkungan tidak hanya menghasilkan laporan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku dan tata kelola yang lebih bertanggung jawab. Demikian pula pengembangan teknologi informasi dan rekayasa harus diarahkan untuk membantu menyelesaikan persoalan nyata. Kita perlu bergerak dari budaya yang sekadar menghitung berapa banyak penelitian dihasilkan menuju budaya yang juga menanyakan seberapa besar manfaat penelitian tersebut dirasakan.

Tantangan berikutnya adalah perkembangan kecerdasan buatan. Mahasiswa FST, terutama yang bergerak dalam bidang teknologi informasi, tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi yang cakap, tetapi harus disiapkan menjadi pencipta, pengembang, dan penentu arah pemanfaatannya. Mereka perlu memahami cara kerja teknologi sekaligus persoalan etika, privasi, keadilan, dan tanggung jawab yang menyertainya. AI mungkin mampu membantu manusia menemukan pola, mengolah data, bahkan menghasilkan gagasan. Namun, keputusan mengenai apa yang layak dilakukan, siapa yang memperoleh manfaat, dan risiko apa yang harus dihindari tetap membutuhkan pertimbangan manusia yang matang. Kecanggihan alat tidak otomatis membuat penggunanya bijaksana.

Karena itu, penguatan kecerdasan spiritual menjadi bagian penting dari pendidikan saintis masa depan. Kecerdasan spiritual bukan sekadar penambahan kegiatan keagamaan di tengah kesibukan akademik, melainkan kesadaran mendalam tentang makna, amanah, dan tanggung jawab dalam setiap pekerjaan. Ia membantu mahasiswa memahami bahwa keberhasilan tidak semata-mata diukur dari nilai, jabatan, atau pengakuan, tetapi juga dari kejujuran proses dan manfaat yang diberikan. Dalam semangat inilah, kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu, dan kematangan profesional  hadir sebagai satu kesatuan dalam pembentukan lulusan FST.

Tentu saja, idealisme tersebut perlu disertai langkah yang konkret. FST harus terus memperkuat mutu pembelajaran berbasis luaran, meningkatkan kualitas penelitian yang berdampak, membangun kolaborasi lintas disiplin, memperluas kemitraan dengan dunia industri, serta mendorong sertifikasi kompetensi mahasiswa agar lulusan semakin siap menghadapi dunia kerja. Pengembangan program studi dan laboratorium perlu didasarkan pada kebutuhan masa depan, bukan sekadar mengikuti tren. Demikian pula, publikasi bereputasi dan kerja sama internasional perlu dibangun melalui kualitas karya, konsistensi riset, serta kontribusi akademik yang diakui. Reputasi internasional bukan hanya tentang seberapa sering nama institusi disebut, tetapi juga tentang seberapa berarti kontribusinya bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Pada saat yang sama, FST memiliki peluang untuk menjadikan kampus sebagai ruang praktik integrasi ilmu dan nilai. Gerakan pengurangan sampah, penghematan energi dan air, pengembangan riset berkelanjutan, serta pembiasaan perilaku ramah lingkungan dapat menjadi contoh bahwa kepedulian terhadap bumi tidak berhenti pada diskusi ilmiah atau ceramah keagamaan. Nilai harus menemukan bentuknya dalam kebiasaan, sebagaimana pengetahuan harus menemukan jalannya dalam tindakan. Kampus yang integratif adalah kampus yang mempertemukan apa yang diajarkan di ruang kelas dengan apa yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, Dies Maulidiyah ke-65 dan Lustrum XIII adalah momentum  untuk memperbarui arah perjalanan berikutnya. FST perlu terus bertumbuh menjadi fakultas yang menghasilkan ilmu berkualitas, melahirkan inovasi yang bermanfaat, serta mendidik manusia yang mampu menggunakan pengetahuannya secara bertanggung jawab. Keunggulan akademik dan reputasi internasional tetap penting, tetapi keduanya memperoleh makna yang lebih dalam ketika disertai kepedulian terhadap manusia dan lingkungan.

Barangkali, ukuran kemajuan sebuah fakultas bukan semata-mata seberapa canggih laboratoriumnya, seberapa banyak publikasinya, atau seberapa tinggi peringkatnya. Semua itu penting, tetapi ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: apakah ilmu yang kita kembangkan membuat kehidupan menjadi lebih baik? Apakah teknologi yang kita hasilkan membantu manusia, bukan justru memperbesar persoalan? Dan apakah semakin luas pengetahuan yang kita miliki membuat kita semakin sadar akan amanah yang harus dijaga?

Sains bukan sekadar tentang seberapa jauh manusia mampu memahami alam, tetapi juga seberapa bijak ia menggunakan pengetahuannya. Islam memberikan arah agar ilmu tetap berpihak pada kebenaran dan kemaslahatan, sementara teknologi menjadi jalan untuk menghadirkan manfaat dalam kehidupan. Di usia ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, semoga FST terus bertumbuh menjadi tempat lahirnya ilmu yang mencerahkan, inovasi yang memakmurkan, dan manusia yang semakin luas pengetahuannya sekaligus semakin dalam kesadarannya akan tanggung jawab kepada Allah, sesama manusia, dan alam semesta.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *