Hari Santri 2026: Dari Kamar Pesantren, Prof. Abdul Hamid Menapaki Jalan Pengabdian untuk Negeri

Hari Santri 2026: Dari Kamar Pesantren, Prof. Abdul Hamid Menapaki Jalan Pengabdian untuk Negeri

Indonesiandaily.com – Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum untuk menegaskan kembali peran santri dalam menyiapkan masa depan Indonesia. Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, Hari Santri bukan sekadar perayaan tradisi pesantren, melainkan pengingat bahwa ilmu, ketangguhan, dan akhlak yang ditempa di pesantren harus berbuah pengabdian nyata bagi bangsa.

Nilai-nilai itulah yang tercermin dalam perjalanan Prof. Dr. H. M. Abdul Hamid, M.A., Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Berangkat dari Karawang menuju Malang pada 1989 untuk menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Daruttauhid, ia menjalani sepuluh tahun kehidupan sebagai santri sebelum melangkah ke perjalanan pengabdian yang lebih luas.

Kini, setelah melewati berbagai fase kehidupan dan mengemban amanah di perguruan tinggi, Abdul Hamid memandang pesantren bukan hanya sebagai tempat menuntut ilmu agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial. Baginya, semangat kesantrian tidak berakhir ketika seseorang meninggalkan gerbang pesantren, tetapi harus terus hidup dalam setiap profesi, keputusan, dan kontribusi bagi masyarakat.

Refleksi tersebut menegaskan satu pesan penting pada Hari Santri Nasional 2026: masa depan Indonesia tidak hanya membutuhkan santri yang berilmu, tetapi juga generasi yang mampu mengubah ilmu menjadi manfaat dan keberhasilan menjadi pengabdian.

Santri dan Pelajaran Menghadapi Kesulitan

Menjelang Hari Santri Nasional 2026, yang diperingati setiap 22 Oktober, pengalaman Abdul Hamid menemukan relevansinya dalam tema Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.

Menurut refleksi yang disampaikannya, peringatan Hari Santri tidak cukup berhenti pada seremoni. Momentum ini perlu menjadi pengingat tentang tanggung jawab generasi terdidik setelah memperoleh ilmu dan mencapai keberhasilan.

Ia menekankan bahwa proses panjang selama menempuh pendidikan merupakan bagian penting pembentukan karakter. Kesulitan bukan alasan untuk menyerah, melainkan tantangan yang perlu dihadapi dengan ikhtiar, kesabaran, dan kemauan memperbaiki diri.

Prinsip tersebut sejalan dengan ungkapan Arab, Lawlā al-masyaqqah, lasaʿida al-nāsu kulluhum. Maknanya, tanpa kesulitan dan perjuangan, kemuliaan serta pencapaian tidak akan mudah diraih.

Namun, Abdul Hamid mengingatkan bahwa ketangguhan bukan berarti seseorang harus mencari penderitaan. Ketangguhan justru terlihat dari kesediaan untuk bangkit setelah gagal, memperbaiki langkah, dan terus berusaha mencapai tujuan.

Karena itu, keadaan seseorang hari ini tidak seharusnya menjadi ukuran mutlak masa depannya. Santri yang belajar dalam kesederhanaan tetap memiliki kesempatan untuk berkembang dan berkontribusi bagi masyarakat.

Ilmu Harus Berbuah Manfaat

Bagi Abdul Hamid, pendidikan pesantren idealnya melahirkan pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral. Ilmu perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar menjadi pengetahuan atau modal untuk meraih kedudukan.

Nilai-nilai pesantren, menurutnya, menemukan maknanya ketika seseorang terjun ke masyarakat. Penerapannya terlihat dalam cara bekerja, membangun keluarga, memimpin, serta memperlakukan orang lain.

Jabatan, misalnya, harus dipahami sebagai amanah. Sementara keluasan pengetahuan perlu diimbangi kerendahan hati dan kemauan untuk terus belajar.

Dengan demikian, keberhasilan tidak cukup diukur dari tingginya kedudukan atau banyaknya pencapaian. Lebih dari itu, keberhasilan perlu dilihat dari manfaat yang diberikan kepada sesama.

Perspektif tersebut menjadi penting ketika lulusan pesantren memasuki dunia profesional yang menuntut kompetensi sekaligus integritas. Pendidikan tidak hanya mempersiapkan seseorang untuk bersaing, tetapi juga membangun kesadaran tentang tanggung jawab atas kemampuan yang dimilikinya.

Mengabdi kepada Negeri dari Peran Masing-Masing

Pengalaman menjadi santri turut membentuk pandangan Abdul Hamid mengenai arti pengabdian. Dalam amanahnya di lingkungan perguruan tinggi, ia melihat pendidikan sebagai jalan untuk mendorong manusia melampaui kepentingan pribadi.

Pengabdian kepada Indonesia, menurutnya, tidak harus diwujudkan melalui jabatan tinggi. Guru yang mendidik dengan sungguh-sungguh, petani yang bekerja jujur, pengusaha yang berlaku adil, tenaga kesehatan yang amanah, dan ilmuwan yang tekun juga berperan dalam menguatkan bangsa.

Setiap profesi memiliki ruang pengabdian selama dijalankan dengan ilmu, integritas, dan kepedulian terhadap kepentingan bersama.

Di tengah perkembangan zaman, santri juga dituntut menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memperluas wawasan, serta berani menghadapi persaingan global. Penguasaan ilmu agama perlu berjalan beriringan dengan kemampuan menjawab persoalan nyata masyarakat.

Tantangannya adalah memastikan santri tidak hanya bangga terhadap warisan masa lalu, tetapi juga siap menghadapi masa depan. Indonesia Emas membutuhkan generasi yang berilmu dan beradab, kompetitif sekaligus bertanggung jawab, serta mampu mengikuti perubahan tanpa kehilangan pijakan moral.

Menjadi Santri Sepanjang Hayat

Bagi Abdul Hamid, menjadi santri tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan pesantren. Kesantrian merupakan nilai yang terus hidup melalui kesediaan belajar, menjaga adab, menghormati ilmu, merawat kerendahan hati, dan mengutamakan pengabdian.

Pesan itu terutama ditujukan kepada para santri yang tengah mempersiapkan masa depan. Mereka perlu terus mengembangkan kemampuan, memperkuat karakter, dan berani menjalani proses panjang tanpa meninggalkan nilai-nilai yang telah dipelajari.

Jalan hidup para santri kelak mungkin berbeda. Ada yang menjadi pendidik, peneliti, pengusaha, pemimpin, maupun bekerja di berbagai bidang lainnya. Namun, perbedaan profesi tidak mengubah tanggung jawab untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh mereka yang mencapai posisi puncak, tetapi juga oleh jutaan orang yang menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh di tempat masing-masing.

Abdul Hamid menempatkan pesantren sebagai salah satu fondasi pembentukan manusia yang mampu memadukan ilmu, karakter, dan pengabdian. Dari kamar santri hingga ruang pengabdian profesional, nilai-nilai itulah yang perlu terus dirawat.

Pada peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2026, refleksi tersebut menjadi pengingat bahwa menguatkan negeri bukan sekadar cita-cita, melainkan tanggung jawab yang harus diwujudkan melalui tindakan nyata.

Sebab, kemuliaan seorang santri bukan semata-mata ditentukan oleh seberapa tinggi kedudukannya, melainkan seberapa besar kebaikan yang tumbuh dari peran yang dijalaninya.

Selamat Hari Santri Nasional 2026. Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *