Indonesiandaily.com – Ampas tebu dan kulit lemon yang kerap terbuang diolah mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) menjadi produk perawatan sepatu putih bernama WHISH (Whitening Hybrid Innovative Sheet for Hygienic Shoes). Inovasi ini menawarkan cara praktis membersihkan debu dan noda ringan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah organik.
Produk yang dikembangkan tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UM ini mengusung konsep ekonomi sirkular, yakni mengolah sisa bahan menjadi produk baru yang memiliki nilai guna dan nilai jual.
Ketua tim, Sekar Wahyu Ningtyas, menjelaskan bahwa WHISH lahir dari upaya menghubungkan kebutuhan sehari-hari dengan pemanfaatan sumber daya yang belum optimal.
“Limbah organik bukanlah akhir dari sebuah proses, tetapi dapat menjadi awal lahirnya produk baru yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Praktis Merawat Sepatu Putih
WHISH dirancang sebagai tisu perawatan harian untuk membantu membersihkan debu dan noda ringan setelah sepatu digunakan. Pengguna dapat merawat kebersihan sepatu tanpa harus selalu mencucinya menggunakan air.
Ampas tebu dimanfaatkan sebagai bahan dasar lembaran tisu yang mudah terurai secara biologis. Sementara itu, ekstrak kulit lemon dari limbah industri minuman diolah menggunakan teknologi nanoenkapsulasi untuk menjaga stabilitas senyawa aktifnya.
Tim juga mengembangkan biosurfaktan alami berbahan ekstrak lidah buaya untuk membantu melepaskan debu, minyak, dan kotoran dari permukaan sepatu.
Produk ini dirancang untuk sejumlah material sepatu, seperti synthetic leather, PU leather, dan PVC leather, serta bagian sol tengah berbahan EVA, PU, dan TPU. Penggunaannya tetap perlu mengikuti petunjuk produk dan disesuaikan dengan karakteristik material sepatu.
Dijual Rp30 Ribu per Boks
Tak hanya berfokus pada formulasi produk, tim PKM-K FEB UM juga menyiapkan strategi pemasaran agar WHISH memiliki peluang bersaing di pasar.
Produk ini dikemas dalam boks berisi delapan saset, dengan setiap saset memuat dua lembar tisu basah. WHISH ditawarkan seharga Rp30.000 per boks dan dipasarkan melalui kanal digital, promosi langsung, serta rencana kemitraan dengan toko sepatu dan jasa pencucian sepatu.
Tim pengembang terdiri atas Sekar Wahyu Ningtyas, Ervina Mei Ananda Putri, Adrian Arif Pambudi, Salwa Avisa Yumna Salsabila Suprapto, dan Kharisma Putri Ambarwati. Kolaborasi mahasiswa dari bidang pendidikan bisnis, biologi, dan pendidikan kimia mendukung pengembangan produk dari aspek kewirausahaan hingga pemanfaatan bahan organik.
Melalui WHISH, mahasiswa UM berupaya membuktikan bahwa limbah dapat menjadi bahan baku produk komersial. Inovasi ini sekaligus membuka peluang penerapan ekonomi sirkular melalui produk yang dekat dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari.



