Indonesiandaily.com – Di tengah persaingan mengejar perhatian publik di ruang digital, media dituntut tidak sekadar menyajikan berita yang ramai dibicarakan. Persoalan pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat membutuhkan pemberitaan yang mampu menjelaskan masalah sekaligus membangun kepedulian.
Pesan tersebut mengemuka dalam kajian Islam multidisipliner Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertema Jurnalisme Profetik dan Ekosistem Media Emansipatif di Ruang Sidang Senat UMM, Jumat (9/10/2026).
Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Roni Tobroni, M.Si., menekankan pentingnya menjadikan nilai kenabian sebagai pijakan dalam kerja jurnalistik. Menurutnya, jurnalisme profetik tidak berhenti pada penyampaian fakta, tetapi juga membawa misi kemanusiaan, pembebasan dari persoalan sosial, dan penguatan nilai keimanan.
Tiga nilai yang menjadi fondasinya ialah humanisasi, liberasi, dan transendensi. Melalui pendekatan tersebut, media diharapkan mampu menghadirkan informasi yang tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga memberi makna bagi kehidupan masyarakat.
“Jadi kalau kita bicara jurnalisme profetik sebenarnya sudah diamalkan oleh Muhammadiyah sejak awal,” jelas Roni.
Tidak Terjebak Isu Viral
Roni menjelaskan, tradisi jurnalistik Muhammadiyah telah tumbuh sejak penerbitan Suara Muhammadiyah pada 1915. Media tersebut menjadi sarana dakwah sekaligus penyebaran pengetahuan untuk mencerdaskan masyarakat.
Tradisi itu, menurutnya, perlu terus dirawat di tengah perubahan pola konsumsi informasi. Media tetap perlu merespons isu yang sedang menjadi perhatian publik, tetapi harus memiliki perspektif yang jelas dan tidak terjebak pada sensasi.
Tantangannya bukan sekadar mengikuti percakapan di media sosial, melainkan mengolah isu menjadi pemberitaan yang membantu masyarakat memahami persoalan secara lebih utuh. Dengan demikian, media dapat hadir dalam perdebatan publik tanpa ikut memperuncing polarisasi.
Roni juga mendorong penguatan kelembagaan media afiliasi Muhammadiyah melalui pembenahan legalitas, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, dan perbaikan kualitas konten.
Ia menilai, jejaring media yang telah terbentuk perlu dimanfaatkan untuk berbagi pengalaman dan meningkatkan profesionalitas jurnalis. Pada saat yang sama, media harus memperluas perhatian pada persoalan masyarakat di luar aktivitas internal organisasi.
Mengangkat Manfaat, Bukan Sekadar Kegiatan
Kepala Humas UMM sekaligus Ketua Departemen Kerja Sama dan Kehumasan Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, Maharina Novia Zahro, M.I.Kom., menyoroti pentingnya menyampaikan informasi dengan pendekatan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, berbagai praktik baik Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan kemanusiaan perlu dikemas agar publik memahami manfaatnya secara konkret.
Publikasi, karena itu, tidak cukup hanya mencatat kegiatan, siapa yang hadir, atau apa yang dilakukan organisasi. Informasi perlu menjelaskan perubahan, manfaat, dan dampak yang dirasakan masyarakat.
“Muhammadiyah banyak melakukan hal baik yang perlu dikemas dan disampaikan kepada masyarakat luas agar manfaatnya semakin dikenal,” tegasnya.
Maharina juga menilai penyebaran informasi dapat menjangkau lebih banyak orang ketika masyarakat ikut membagikan pengalaman positif secara organik. Untuk itu, pengelola komunikasi perlu memahami karakter setiap platform digital tanpa mengorbankan akurasi dan nilai yang dipegang organisasi.
Dakwah Harus Menjawab Kebutuhan Masyarakat
Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., menegaskan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah perlu menerjemahkan gagasan Islam Berkemajuan ke dalam praktik yang memberi manfaat nyata.
Menurutnya, dakwah tidak semestinya berhenti pada penyampaian pemikiran atau pelaksanaan ritual. Nilai Islam perlu diwujudkan melalui tindakan yang mendukung kesejahteraan manusia.
“Islam itu harus didakwahkan, harus menghasilkan praktik yang mensejahterakan umat manusia,” ujarnya.
Pandangan tersebut juga relevan bagi kerja media. Informasi yang disampaikan kepada masyarakat semestinya membantu publik mengenali persoalan, memahami pilihan solusi, dan membangun kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.
Melalui PSIB, UMM membuka ruang dialog lintas disiplin untuk membahas tantangan dakwah, komunikasi, dan kehidupan masyarakat kontemporer. Penguatan jurnalisme profetik diharapkan mendorong media yang tetap responsif terhadap isu aktual, tetapi tidak mengorbankan etika demi sensasi.
Di tengah derasnya arus informasi digital, media memiliki ruang untuk mengambil peran lebih besar: bukan hanya memberitakan apa yang sedang ramai, melainkan juga memberi perhatian pada persoalan penting yang membutuhkan suara publik.



