Indonesiandaily.com – Sebanyak 23 calon pekerja migran Indonesia (PMI) mulai menyiapkan kompetensi untuk menembus pasar kerja internasional melalui pelatihan housekeeping di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Program SMK Go Global yang digelar Migrant Center UMM bersama Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Timur ini menawarkan pendekatan yang lebih lengkap: keterampilan kerja dipadukan dengan bahasa Inggris, kedisiplinan, keselamatan kerja, hingga pembentukan sikap profesional.
Pelatihan berlangsung di Aula GKB IV UMM, Rabu (30/9/2026), dan dijadwalkan hingga 27 Oktober 2026. Setelah pelatihan, peserta akan menjalani uji kompetensi dan sertifikasi sebagai bagian dari persiapan memasuki dunia kerja global.
Kompetensi Jadi Bekal Utama
Kepala BP3MI Jawa Timur, Kombes Pol Tyas Puji Rahadi, mengatakan peluang kerja di sektor hospitality perlu diikuti kesiapan kompetensi. Kemampuan teknis, komunikasi, pelayanan, kedisiplinan, dan tanggung jawab menjadi modal penting ketika bekerja dengan standar internasional.
Ia mengingatkan peserta agar tidak menjadikan sertifikat sebagai tujuan akhir. Proses belajar dan praktik justru harus dimanfaatkan untuk membentuk kemampuan kerja yang benar-benar siap digunakan.
“Jadikan seluruh proses pelatihan, praktik, hingga uji kompetensi sebagai kesempatan membentuk diri menjadi tenaga kerja yang kompeten dan profesional,” kata Tyas.
Menurutnya, bekerja di luar negeri juga membawa konsekuensi sosial. Seorang PMI membawa identitas keluarga sekaligus nama Indonesia ketika berinteraksi di lingkungan kerja internasional.
“Menjadi pekerja migran Indonesia bukan sekadar tentang bekerja di luar negeri, tetapi juga membawa nama baik keluarga dan bangsa,” ujarnya.
Praktik Langsung di Hotel
Kepala Migrant Center UMM, Dr. Ida Nuraini, S.E., M.Si., menjelaskan 23 peserta sebelumnya telah melalui seleksi administrasi dan wawancara.
Materi housekeeping diberikan secara bertahap, mulai dari pengenalan peralatan, prosedur pelayanan, hingga keselamatan kerja. UMM juga menyediakan fasilitas praktik langsung di hotel berbintang milik kampus dengan pendampingan instruktur.
Persiapan tersebut diperkuat melalui materi English for Housekeeping. Bahasa Inggris menjadi bagian penting karena peserta nantinya berhadapan dengan tamu dari berbagai negara.
“Oleh karena itu, English for Housekeeping kami masukkan sebagai bagian dari pembelajaran,” jelas Ida.
Pelatihan tidak berhenti pada keterampilan teknis. Peserta juga dibiasakan menghargai waktu, disiplin, bekerja keras, serta membangun jiwa kewirausahaan.
Pendekatan itu diarahkan agar peserta tidak hanya mampu menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga memiliki mentalitas untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja dan budaya profesional yang berbeda.
UMM Dorong Solusi Ketenagakerjaan
Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., mengatakan program tersebut menjadi bagian dari komitmen UMM melalui Excellent Solution Center (ESC) dalam menghadirkan solusi berbasis kompetensi.
Menurut Salis, Migrant Center tidak hanya membuka akses pelatihan, tetapi juga menjadi jembatan bagi masyarakat yang ingin meningkatkan kesiapan sebelum memasuki pasar kerja internasional.
UMM, lanjutnya, juga menyiapkan pelatihan pada bidang lain, termasuk welding dan perhotelan. Pilihan tersebut disiapkan untuk memperluas jalur kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja.
Namun, Salis menekankan bahwa kemampuan teknis saja belum cukup. Pengetahuan dan keterampilan perlu ditopang sikap agar seseorang mampu menggunakan kompetensinya secara tepat dan beradaptasi di lingkungan kerja baru.
“Kunci utamanya justru ada pada attitude atau sikap,” tegas Salis.
Melalui pola pelatihan yang menggabungkan kompetensi, praktik, sertifikasi, bahasa, dan pembentukan karakter, program SMK Go Global diarahkan menjadi salah satu solusi agar calon PMI tidak berangkat hanya dengan modal keberanian, tetapi membawa bekal keterampilan yang terukur dan kesiapan menghadapi standar kerja internasional.



