Indonesiandaily.com – Sebelum berlomba menaklukkan langit Kota Batu, Farrel Ahmad Hierro lebih dulu akrab dengan parasut dari bawah. Sejak masih duduk di bangku SD, mahasiswa Bisnis Digital S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) itu sudah terbiasa membantu warga di sekitar rumahnya melipat parasut.
Dari rasa penasaran itulah perjalanan Farrel di dunia paralayang dimulai. Ia kemudian berani mencoba terbang, terus belajar, hingga mulai mengikuti kompetisi sejak 2022.
Tahun ini, kerja keras tersebut membawanya ke podium tertinggi. Farrel berhasil menjadi Juara 1 kategori U-20 Lintas Alam Putra pada Danlanud Abd Saleh Open – Kejuaraan Daerah (Kejurda) dan Liga Paralayang Jawa Timur Seri 3 Tahun 2026.
Kompetisi yang berlangsung 18–20 September 2026 itu digelar di Landing Area Paralayang Songgomaruto, Kota Batu, dengan titik lepas landas di kawasan Gunung Banyak.
Berpacu dengan Angin dan Koordinat GPS
Farrel harus bersaing dengan 44 atlet dari berbagai daerah di Jawa Timur. Tantangannya bukan sekadar terbang dan mendarat dengan tepat, tetapi menyelesaikan rute udara berdasarkan koordinat GPS secepat mungkin.
Dalam kategori lintas alam atau cross country, kemampuan membaca kondisi udara menjadi bagian penting. Atlet harus menentukan strategi, memanfaatkan arus udara panas, sekaligus menjaga kecepatan agar dapat mencapai titik tujuan sesuai tugas yang diberikan.
Farrel mencatat waktu 40 menit pada round pertama dan 55 menit pada round kedua.
“Lombanya mengerjakan tugas memakai GPS, ada koordinatnya dan balapan cepat-cepatan sampai tujuan bersama atlet lain,” kata Farrel.
Menurut dia, perhitungan waktu dimulai ketika atlet sudah berada di udara. Dari titik tersebut, setiap keputusan menjadi penting karena kesalahan membaca arah angin dapat memengaruhi perjalanan menuju koordinat tujuan.
Empat Hari Latihan dalam Sepekan
Hasil di arena kompetisi tersebut tidak datang secara tiba-tiba. Sebagai atlet yang memperkuat kontingen Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Kota Batu, Farrel menjalani latihan rutin untuk menjaga kemampuan terbang sekaligus kondisi fisiknya.
Dalam satu hari latihan, ia bisa melakukan empat hingga enam kali penerbangan. Latihan itu dilakukan empat hari dalam sepekan dan dilengkapi aktivitas fisik seperti lari serta senam Tabata.
“Persiapannya latihan empat hari seminggu, sehari bisa empat sampai enam kali terbang. Selain itu ada latihan fisik seperti lari dan senam Tabata,” ujarnya.
Latihan fisik diperlukan karena mengendalikan parasut membutuhkan koordinasi tubuh yang baik. Gerakan tangan dan kaki harus selaras ketika atlet membaca kondisi udara dan mengarahkan parasut.
Farrel juga menjaga pola makan dan memperbanyak konsumsi air putih. Ia mengurangi makanan pedas sebagai bagian dari persiapannya menghadapi kompetisi.
Bukan Sekadar Soal Kecepatan
Bagi Farrel, tantangan terbesar ketika berada di udara bukan hanya mengejar waktu. Konsentrasi dan kemampuan mengendalikan emosi menjadi bagian penting agar keputusan tetap tepat ketika menghadapi kondisi angin yang berubah.
Pengalaman sejak kecil di kawasan Songgokerto membuatnya semakin memahami karakter olahraga yang kini ditekuni. Apa yang awalnya hanya rasa penasaran saat membantu warga kini berkembang menjadi keseriusan untuk berprestasi.
Gelar juara di Kejurda Seri 3 menjadi salah satu hasil dari proses tersebut. Namun, Farrel tidak ingin berhenti di podium yang sudah diraihnya.
Ia masih ingin memperbanyak pengalaman, meningkatkan kemampuan terbang, dan mengejar prestasi pada kompetisi berikutnya.
“Target saya adalah menjadi juara di setiap kejuaraan,” tegas Farrel.



