Miliki 26 Sekolah Binaan, Alumni Magister Pendidikan Matematika Unisma Sukses Jadi Mentor Olimpiade

Miliki 26 Sekolah Binaan, Alumni Magister Pendidikan Matematika Unisma Sukses Jadi Mentor Olimpiade

Indonesiandaily.com – Alumni Magister Pendidikan Matematika Universitas Islam Malang (Unisma) Malang, Ali Sarifuddin, membuktikan bahwa keberhasilan membina siswa menuju panggung olimpiade matematika membutuhkan proses panjang.

Sejak 2009, Ali aktif mendampingi siswa dalam pembinaan olimpiade matematika. Dari proses tersebut, sejumlah anak didiknya berhasil menorehkan prestasi di berbagai kompetisi, termasuk tingkat nasional dan internasional.

Ali yang dikenal dengan sapaan “Om Ali Senyum” kini memiliki 26 sekolah binaan di Jawa Tengah dan sejumlah daerah di luar Jawa. Aktivitasnya tidak hanya dilakukan secara tatap muka, tetapi juga melalui mentoring daring.

“Orang hebat itu tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, atau kenyamanan. Mereka dibentuk dari kesukaran, tantangan, bahkan air mata,” kata Ali saat berbagi pengalaman tentang strategi pembinaan olimpiade matematika.

Menurutnya, kegagalan dan tekanan dalam proses latihan merupakan bagian penting untuk membentuk mental juara. Ia bahkan pernah mendampingi siswa yang menangis menjelang keberangkatan ke Olimpiade Sains Nasional (OSN), tetapi justru berhasil membawa pulang medali.

Salah satu anak didiknya, Muhammad Hanif, menjadi contoh keberhasilan pembinaan tersebut. Siswa yang pernah dibinanya sejak jenjang MTs hingga SMA itu kemudian meraih medali emas Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ON MIPA) Perguruan Tinggi.

Hanif juga pernah mencatat prestasi di kompetisi internasional. Bagi Ali, capaian tersebut bukan semata hasil kerja mentor.

“Saya hanya nunut mulia. Yang pintar memang anaknya, bukan kami,” ujarnya.

Ali juga telah menulis delapan buku berbasis olimpiade matematika. Empat buku telah diterbitkan di Yogyakarta, sementara dua buku lainnya sedang dalam proses penerbitan.

Enam Syarat Calon Juara

Dalam membina siswa, Ali menggunakan prinsip yang ia ambil dari kitab Alala, yang dikenalnya sejak belajar di pesantren. Prinsip tersebut menekankan enam unsur penting dalam proses menuntut ilmu.

Pertama adalah kecerdasan. Menurut Ali, siswa yang mengikuti pembinaan olimpiade harus memiliki kemampuan berpikir dan berkomunikasi yang baik.

“Kecerdasan itu bukan sekadar IQ. Ketika diajak berkomunikasi, dia mampu merespons dan memahami persoalan,” jelasnya.

Kedua adalah ketangguhan. Siswa harus mampu menghadapi soal sulit dan tidak mudah menyerah ketika mengalami kegagalan.

Ketiga adalah kesabaran. Ali menilai prestasi olimpiade tidak bisa dibangun hanya melalui beberapa kali pertemuan.

“Kalau ingin dua atau tiga kali pertemuan langsung juara, itu bukan proses pembinaan,” katanya.

Selain tiga hal tersebut, proses pembinaan juga membutuhkan biaya, guru yang terus belajar, serta lingkungan yang mendukung. Orang tua, sekolah, dan pembina harus memiliki kesabaran yang sama dalam mendampingi siswa.

Ali menegaskan, prestasi olimpiade tidak lahir secara instan. Siswa harus melalui rangkaian latihan, mengikuti berbagai kompetisi, mengalami kekalahan, kemudian memperbaiki kemampuan.

Belajar, Berlatih dan Berdoa

Strategi Ali dalam pembinaan dimulai dengan pemetaan kemampuan dan penyusunan jadwal latihan. Setiap siswa diberikan target dan materi yang terukur.

Setelah belajar, siswa masuk tahap latihan. Ia membagi latihan menjadi dua bentuk, yakni latihan terbimbing bersama mentor dan latihan mandiri.

“Kalau di rumah tidak pernah belajar, soal tidak dikerjakan, buku tidak dibaca, itu tidak akan berhasil,” ujarnya.

Tahap terakhir adalah doa. Sebagai alumni Unisma Malang, Ali menilai aspek spiritual tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan siswa menuju prestasi.

Menurutnya, kemampuan akademik harus berjalan beriringan dengan ketekunan, latihan, dukungan lingkungan, dan doa.

“Enam hal itu harus dibangun. Setelah semuanya terkomunikasikan dengan baik, proses pembinaan bisa berjalan,” kata Ali.

Ia meyakini mentor olimpiade juga harus terus belajar. Sebab, menurutnya, sulit mengharapkan siswa menjadi juara apabila pembinanya sendiri berhenti mengembangkan kemampuan.

“Kalau gurunya saja tidak pernah belajar, mustahil muridnya berjuara,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *